Bukan Suami Pilihanku

Bukan Suami Pilihanku
58. Bersama Aksa


__ADS_3

Sedangkan di sisi lain, tepatnya di taman bagian belakang rumah Arka.


"Lepas!" berontak Nira dan berhasil melepaskan tangannya dari genggaman pria yang tiba-tiba datang mengagetkannya saat sedang menguping di ruang kerja suaminya dan pria itu membawanya ke tempat ini.


*flasback on*


Setelah bangun dan membersihkan tubuhnya, Nira keluar kamar untuk mencari suaminya yang tak terlihat batang hidungnya sejak ia membuka mata.


"Dia itu, kalau sudah tersalurkan, main pergi begitu saja." gerutu Nira sambil menuruni tangga. Dan juga tangannya mengusap-usap punggungnya yang terasa sangat pegal, berasa tulangnya mau rontok.


"Pak Rahmat, tahu di mana Arka?" tanya Nira saat berjumpa dengan kepala pelayan di rumah Arka.


"Ada di ruang kerja, Nona." jawab pak Rahmat.


Setelah menganggukkan kepalanya, Nira berjalan menuju ruang kerja suaminya.


"Nona..." pak Rahmat yang keceplosan hendak menghentikan nonanya tapi saat mau melangkah dicegah oleh seseorang.


"Arka bersama siapa? Kenapa ada suara perempuan di dalam?" tanyanya sendiri sambil menempelkan telinganya di pintu dan mendengarkan dengan seksama.


Cukup lama dia berada di sana dan seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ingin sekali dia pergi saja dari pada nantinya mendengar yang lebih menyakitkan baginya, tapi kakinya terasa berat untuk melangkah.

__ADS_1


Sampai dia tak menyadari kehadiran seseorang di belakangnya yang juga diam-diam ikut menguping. Sejurus kemudian, mulut Nira dibekap dan dia dibawa pergi dari sana oleh pria itu.


*flasback off*


Nira berdiri menghadap pria itu sambil berkacak pinggang. "Kau itu menggangguku saja! Gara-gara kau, aku tidak menguping sampai akhir." gerutu Nira pada Aksa, adik dari suaminya yang berarti adalah adik iparnya.


Nira membuang nafasnya kasar sambil memandang ke segala arah untuk menghilangkan rasa jengkelnya pada adik iparnya itu. Dia jadi penasaran dengan apa kelanjutan pembicaraan antara Arka dan ibu dari Geo.


"Kalau aku tidak membawamu pergi, bagaimana kalau kita ketahuan?" Aksa balik bertanya.


"Iya juga sih." Nira mengangguk-anggukkan kepalanya. "Eh, tunggu!" Nira menatap Aksa dari atas sampai bawah. "Sejak kapan kau berubah penampilan?" tanya Nira yang baru menyadari kalau Aksa sudah tak lagi culun seperti pertama kali ia lihat.


"Sejak aku kembali bertemu dengan wanita yang aku kagumi." jawab Aksa.


"Aku sudah tahu, karena aku sudah tampan sejak lahir." ujar Aksa dengan penuh percaya diri.


Memang sebelas dua belas dengan kakaknya. Tingkat kepercayaan dirinya melebihi langit ke tujuh. Batin Nira sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalau boleh tahu, siapa wanita yang kau kagumi itu? Kenapa belum pernah kau ajak dia datang ke rumah?" tanya Nira basa-basi.


Aksa lalu duduk di kursi taman sambil menatap langit malam. "Tidak perlu, karena wanita itu ada di rumah ini." jawab Aksa. Membuat Nira langsung menatap Aksa yang tengah duduk.

__ADS_1


"Siapa? Bi Ijah atau Bi Sri?" tebak Nira karena di rumah ini hanya ada dia, bi Ijah dan bi Sri.


Aksa menatap Nira dengan tatapan tajamnya. "Apa tidak ada yang lebih tua lagi?" sindir Aksa.


"Lalu? Kalau bukan mereka siapa lagi? Masa aku?" celetuk Nira sambil menunjuk dirinya sendiri dan dengan tawanya yang memecah keheningan malam ini.


"Memang kau orangnya." sahut Aksa dan mendapat pelototan dari Nira. "Bercanda Kakak ipar." jelas Aksa.


"Kau membuatku kaget saja. Kalau sampai itu aku, aku tidak akan mau melihatmu seumur hidupku!" seru Nira sambil menatap sekilas Aksa yang juga sedang menatapnya.


Nira lalu ikut duduk di kursi panjang tepat di samping Aksa tapi tetap ada jarak. Wajah cerianya seketika berubah sendu.


Aksa yang melihatnya sudah bisa menebak. "Kenapa sedih?" tanya Aksa. "Apa kau memikirkan pembicaraan kakakku dan wanita tadi?" tebak Aksa tapi tak ada jawaban dari wanita di sampingnya karena Nira malah melamun sampai tak mendengarnya.


"Mau ke mana?" Aksa meraih tangan Nira saat wanita itu hendak berdiri.


"Aku mau ke dalam." jawab Nira sambil menatap tangannya yang dipegang Aksa dengan erat.


"Maaf." Aksa yang tersadar lalu melepasnya. "Kalau kakakku menyakitimu, aku siap menjadi penggantinya yang akan menjagamu." ucap Aksa yang seakan tak sadar.


"Apa?" tanya Nira sambil memicingkan matanya.

__ADS_1


"Tidak. Bukan apa-apa." jawab Aksa.


"Kalau kau masih ingin di sini, nikmatilah. Aku lelah mau ke dalam." kata Nira sambil berjalan meninggalkan Aksa sendiri. Tanpa mereka sadari ada sorot mata tajam yang dari tadi menatap interaksi antara keduanya.


__ADS_2