
"Istirahatlah di ruang itu." Arka menunjuk pintu yang letaknya tak terlalu jauh dari meja kerjanya.
Karena tidak mendapat jawaban dari Nira, Arka mengambil inisiatif dengan langsung mengangkat tubuh istrinya. Biarlah Nira akan memarahinya yang penting sekarang Nira harus istirahat. Dan benar saja, Nira meronta-ronta minta diturunkan, tapi Arka tak menghiraukannya.
Tapi baru beberapa langkah Arka berjalan, pintu ruangannya terbuka dan menampakkan batang hidung Rey serta orang yang berdiri di samping asistennya itu dan kini orang itu tengah menundukkan kepala seakan memberi hormat padanya.
"Turunkan aku dulu!" bisik Nira, dia malu dengan posisinya saat ini yang dilihat oleh orang lain. Dengan perlahan pula Arka menurunkan Nira. Dia menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya duduk di sofa, lalu Arka mempersilahkan orang yang dibawa Rey untuk duduk.
"Bagaimana?" tanya Arka pada Ferdian, yang merupakan pakar IT handal. Ferdian, yang biasa dipanggil Ferdi itu merupakan orang yang dipercaya Arka untuk meneliti dan mengamati video yang diberikan Mira alias Livia padanya. Arka tidak bisa tinggal diam untuk masalah itu yang mungkin akan mengakibatkan perselisihan rumah tangganya.
Ferdi meletakkan tas kerjanya lalu mengeluarkan laptop miliknya. Dia membuka laptop dan segera menjelaskan semuanya tentang apa yang sudah dia amati. Ferdi menuturkan dengan jelas dihadapan Arka, Nira dan Rey.
Tampak wajah Arka yang langsung berubah, menunjukkan amarahnya. Arka lalu menatap Rey, dan yang ditatap seakan mengerti apa yang diinginkan oleh tuannya.
Setelah selesai, Rey keluar bersamaan dengan Ferdi yang juga undur diri karena karena dia harus pergi bersama Rey.
__ADS_1
Walaupun sedang diselimuti amarah, setidaknya Arka lega setelah mengetahui kejelasan dan keaslian dari video itu.
"Kau sekarang percaya?" tanya Arka pada Nira.
Sejenak Nira terdiam dan tanpa basa-basi lagi dia menghambur memeluk suaminya. Senyum merekah terbit dari bibirnya. "Aku mencintaimu, Arka." ucap Nira tulus dari dalam hatinya. "Aku percaya padamu."
"Aku lebih sangat mencintaimu." balas Arka tak mau kalah, dia juga semakin mengeratkan pelukannya.
Setelah melepaskan pelukan hangat itu, Arka langsung menyambar bibir merah milik Nira. Lama dan dalam ciuman itu berlangsung. Dengan mata terpejam, Nira menikmati lidah Arka yang menari di dalam rongga mulutnya.
Arka tersenyum saat menyudahi ciuman itu. Ciuman yang sudah lama tidak ia dapat semenjak Nira hamil karena Nira tidak mau dekat dengannya. Kini istri tercintanya itu sudah tidak memberikan jarak lagi. Bahkan Nira sendiri yang menghambur memeluknya lebih dulu.
"Apaan sih?" Nira mencubit pinggang suaminya. Memang cukup lama mereka tidak bercinta. Dan Nira merasa bersalah akan hal itu.
"Siapkan tenagamu untuk nanti malam." bisik Arka yang tak henti-hentinya menggoda Nira. Sebenarnya bisa saja dia melakukannya di dalam ruang istirahatnya. Tapi sepertinya tidak cukup waktu mengingat nanti dia akan menunjukkan sebuah pertunjujan menarik pada Nira.
__ADS_1
Sedangkan Nira bergidik ngeri mendengarnya. Dia tahu bagaimana suaminya itu kalau bercinta tidak cukup hanya sekali. Apalagi sudah lama mereka tidak melakukannya, dia akan digempur habis pastinya dan tidak ada ampun lagi.
"Ya sudah, kau tunggu sebentar lagi. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu. Setelah itu, aku akan membawamu ke suatu tempat." ujar Arka lalu kembali mencium bibir Nira cukup lama.
"Ke mana?" tanya Nira setelah Arka melepaskan ciumannya.
"Rahasia." jawab Arka sambil mencubit hidung Nira pelan dan berjalan menuju meja kerjanya, menyelesaikan setumpuk berkas yang sudah menantinya.
Yang katanya hanya sebentar, ternyata membutuhkan waktu dua jam untuk menyelesaikan pekerjaan. Sampai Nira ketiduran di sofa karena lelah menunggu.
"Sayang, bangun!" Arka mengecupi wajah dan bibir Nira berulang kali agar istrinya itu bangun.
Dengan beratnya, Nira mencoba membuka mata. Yang pertama dituju oleh matanya adalah jam yang menggantung di dinding.
"Jam empat?" tanyanya.
__ADS_1
"Iya." jawab Arka seolah memastikan. "Sekarang bersiaplah, aku akan membawamu ke suatu tempat." kata Arka.
Dan setelah merapikan rambut dan pakaiannya, Nira berjalan dengan bergandengan tangan mesra keluar dari ruang kerja suaminya.