
Setelah menempuh perjalan sekitar dua puluh lima menit, akhirnya mobil yang ditumpangi Arka dan Nira telah sampai di tempat tujuan.
"Arka, tunggu!" cegah Nira saat Arka mau turun dari mobil. "Kenapa kita ke sini?" tanya Nira bingung.
Arka pun kembali duduk dan meyakinkan Nira terlebih dahulu. "Kau akan lihat nanti." jelas Arka lalu keluar dan segera membukakan pintu untuk Nira.
"Tapi,,,"
"Tidak ada tapi-tapian. Ayo turun!" Arka mengulurkan tangannya dan Nira meraihnya.
"Aku takut." rengek Nira yang tidak mau diajak masuk oleh Arka.
"Kenapa harus takut? Percaya padaku!" Arka meyakinkan Nira dan mengajaknya untuk masuk.
Ya, saat ini mereka berada di sebuah kantor polisi. Yang membuat Nira tidak tenang, kenapa Arka mengajaknya ke tempat ini? Untuk apa?
__ADS_1
Dia pikir, suaminya itu akan membawanya ke suatu tempat yang romantis, makan berdua. Ternyata perkiraannya meleset jauh. Yang mereka datangi adalah kantor polisi. Dan kata Arka, akan menunjukkan sebuah totontan menarik. Menarik dari mana? Itulah yang ada di kepala Nira saat ini.
"Tuan, Nona." sapa Rey menyambut kedatangan tuannya.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Nira bingung, kenapa asisten suaminya itu juga berada di sini. Rey hanya menjawab dengan senyuman.
Rey memang lebih dulu mendatangi kantor polisi bersama Ferdi untuk membuat laporan terkait pencemaran nama baik dari Arka Wiratama yang dilakukan oleh Miranda Olivia. Setelah mendapat laporan dan bukti, polisi segera mengamankan Mira.
Rey jalan lebih dulu dan diikuti oleh Arka dan Nira. Terlihat Rey membisikkan seauatu pada polisi.
Tak selang berapa lama nampaklah seorang wanita yang sangat Nira kenal, memakai baju bertuliskan 'tahanan'. Padahal baru tadi pagi mereka bertemu, tapi kenapa kakaknya itu sudah berada di kantor polisi. Lebih tepatnya mendekam di balik jeruji besi. Saat bertemu beberapa jam yang lalu, kakaknya terlihat masih cantik. Tapi sekarang, nampak awut-awutan.
Mira masih berdiri, matanya menatap tidak suka pada Nira yang telah membuatnya dijebloskan ke penjara. Itulah yang dipikirkan Mira. "Kenapa melihatku seperti itu? Kau puas sekarang?" seru Mira dengan suara tingginya, seolah menyalahkan Nira akan keadannya saat ini.
"Jaga bicaramu!" sentak Arka yang tidak terima ketika istrinya dibentak, membuat Mira tersenyum sinis.
__ADS_1
"Kalau tahu seperti ini, aku tak akan segan untuk membunuhmu, Nira! Agar kau tidak mengambil semua kebahagiaanku!" Mira teriak histeris.
"Sebelum itu terjadi, aku pastikan kau membusuk di penjara!" balas Arka tak kalah sengitnya. "Jangan mencoba melempar semua kesalahan pada Nira. Lihatlah dirimu sendiri!"
Mira lalu duduk di kursi sambil menatap tajam Nira yang berdiri di samping Arka sambil memeluk lengan pria itu erat.
"Aku akan menunggu di luar." bisik Nira di telinga Arka. Bagaimana pun, Nira tidak sanggup melihat kakaknya mendekam di penjara, apalagi melihat penampilan kakaknya saat ini. Walaupun kakaknya itu jahat padanya, tapi masih ada ikatan saudara di dalamnya. Di samping itu, bagaimana papa dan mamanya saat tahu nanti. Semoga kakaknya bisa berubah menjadi lebih baik, itu adalah harapannya.
Setelah memberi ijin istrinya, Arka duduk berhadapan dengan Mira hanya meja yang menjadi pembatas di antara keduanya. "Itu akibatnya kau berani mencari masalah denganku! Kau merekayasa video itu, seolah-olah aku yang ada di dalamnya. Kau pikir aku bisa kau bodohi?" desak Arka. "Sekarang, rasakan akibatnya dari apa yang kau perbuat. Dulu memang aku memilih diam. Tapi sekarang kau sudah sangat keterlaluan." ujar Arka.
Mira hanya diam dengan kepala tertunduk. Mungkin dia salah telah mencari masalah dengan Arka yang akan berujung dia mendekam di penjara. Arka bukanlah seperti pria yang pernah bersamanya dulu. Bodoh dan mudah sekali untuk ditipu.
"Aku harap kau mau mencabut laporanmu. Bagaimana pun, aku adalah ibu kandung dari Geo." lirih Mira, tidak berani bertatap muka dengan Arka. Hanya itulah harapan satu-satunya, memohon pada Arka agar mencabut laporannya.
"Jangan mimpi, Livia! Aku tidak seperti Nira yang memiliki hati lembut. Sekarang, saatnya kau memetik hasil dari yang kau tanam." tegas Arka lalu berdiri meninggalkan Mira yang tanpa setahunya tengah menitikkan air mata.
__ADS_1
Menyesal? Mungkin itu yang dirasakan Mira sekarang. Menyimpan kebencian dan dendam yang mendalam pada adiknya hanya karena rasa iri di dalam hatinya. Dan seperti dibalik, sekarang dia lah yang mendapatkan karma akan semua perbuatannya sendiri.