
Beberapa hari kemudian,
Hubungan antara Arka dan Nira semakin membaik dan semakin mesra. Keduanya kini saling terbuka satu sama lain. Keduanya juga telah sepakat untuk memulainya dari awal, pernikahan yang dilandasi cinta di dalamnya. Dan jangan tanyakan bagaimana hubungan mereka di atas ranjang. Tak ada kata istirahat di setiap malamnya.
"Ini apa?" tanya Nira saat suaminya menyodorkan sebuah map kepadanya. Karena rasa penasaran, tanpa menunggu jawaban dari Arka, Nira pun membukanya.
"I,,ini.."
"Kau kembalikan pada papa." sahut Arka sambil memeluk pinggang istrinya dari belakang.
"Terima kasih, sayang." Nira lalu membalikkan badan dan memeluk suaminya dengan sangat erat. Dia tak menyangka kalau Arka akan mengembalikan saham yang diminta Arka dari papanya sebagai syarat agar mau menikahinya dulu.
Arka tersenyum dan membalas pelukan Nira yang tak kalah eratnya, mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali.
"Arka,," panggil Nira.
"Hmm." Arka menjawab dengan ber-ehem ria. "Kenapa diam? Kalau ada yang mau kau tanyakan, tanyakan saja. Aku akan menjawab sejujurnya." ujar Arka saat istrinya itu malah diam.
__ADS_1
"Apa,,, apa kau pernah ada perasaan untuk ibunya Geo?" Nira memberanikan diri untuk bertanya setelah bungkam cukup lama. Dulu dia tak mempermasalahkannya, tapi untuk sekarang ini entah kenapa dia merasa gelisah dan terganggu mengingat wanita itu sering muncul dan sepertinya ingin mendapatkan hati suaminya.
"Kau mau aku jujur atau tidak?" goda Arka masih memeluk Nira, seolah tak mau melepaskannya.
Nira memukul punggung Arka. "Kau itu menyebalkan sekali. Tadi kau janji mau menjawabnya dengan jujur." gerutu Nira.
Arka melonggarkan pelukannya, menatap istrinya yang ternyata menangis. "Kau itu kenapa cengeng sekali? Apa aku menyakitimu?" tanya Arka. Dia lalu menangkup kedua pipi istrinya agar menatapnya. "Dengarkan aku! Aku sama sekali tidak pernah menyukai siapa pun! Mau itu ibunya Geo atau wanita mana pun, aku tidak pernah menaruh perasaan. Aku hanya mencintaimu." tegas Arka dengan wajah serius. "Hanya mencintaimu!" ulang Arka, jemarinya mengusap air mata yang mengalir di pipi wanitanya. Wanita yang telah mampu memporak-porandakan hatinya.
"Sungguh?" tanya Nira, menatap mata Arka untuk mencari sebuah kejujuran di sana.
"Hmm." Arka menganggukkan kepalanya.
"Iya." jawab Nira.
Arka membawa telapak tangan Nira dan meletakkannya di dada sebelah kiri, tepat di jantungnya.
"Apa kau merasakan detak jantungku?" tanya Arka dan dibalas anggukan oleh Nira. "Setiap detaknya itu hanya ada namamu."
__ADS_1
"Mana ada seperti itu? Aku belum pernah mendengarnya kalau detak jantung bunyinya Nira.. Nira... Nira.." seloroh Nira sambil tertawa.
"Kau itu!" Arka menarik hidung mancung istrinya. "Aku sedang serius!" seru Arka karena Nira menghancurkan momen gombalnya yang sudah ia rancang sedemikian rupa.
"Arka, apa kau mau menceritakan awal pertemuanmu dengan ibunya Geo sampai adanya Geo sekarang?" tanya Nira dengan sangat hati-hati sambil menutup keningnya, takut kalau disentil oleh Arka. "Kalau kau tidak mau tak apa. Aku tidak ingin kau mengingat masa lalumu." imbuh Nira.
"Aku akan menceritakan semuanya." sela Arka. Kini tak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi dari istrinya. Biarlah Nira tahu yang sebenarnya. Karena kunci dari sebuah hubungan adalah kejujuran dan kepercayaan. Dia mau jujur dan dia juga mau agar Nira mempercayainya.
"Apa kau kecewa denganku dan merasa jijik? Apa kau sekarang berubah pikiran?" tanya Arka setelah menceritakan semuanya pada Nira.
"Hei, pertanyaan macam apa itu?" Nira menatap wajah Arka dengan intens. "Aku tidak merasa begitu! Justru aku semakin mencintaimu." Nira tersenyum manis, dia senang dengan kejujuran suaminya.
Arka tersenyum dan jantungnya berdetak tak karuan saat Nira mengucapkan kata cinta padanya. "Ternyata kau bisa mengeluarkan kata-kata gombal juga." ledek Arka.
"Kau juga begitu. Ternyata seorang Arka Wiratama bisa juga ngegombal." balas Nira tak terima.
Arka lalu merangkul istrinya dengan gemas. Dia akhirnya merasa lega bisa menceritakan semua tentang masa lalunya. Dan dia juga bahagia karena Nira tak mempermasalahkan itu.
__ADS_1
"Satu lagi. Kalau boleh tahu, siapa nama ibunya Geo?" tanya Nira sambil mendongakkan kepalanya, menatap Arka yang memang lebih tinggi darinya.
"Suatu saat kau juga akan tahu dengan sendirinya. Dan kau juga harus tetap ingat! Kau hanya boleh percaya padaku!" Arka menegaskan lagi agar Nira mempercayainya. Karena untuk saat ini, dia belum bisa memberitahu siapa ibu kandung Geo pada istrinya. Biarkan waktu yang dengan sendirinya akan menjawabnya. Cepat atau lambat, pasti akan terjadi.