
Tinggallah Nira yang masih berdiri di sana dengan pandangan kosong dan dengan hati yang amat sangat terluka. Mau mengeluarkan suara pun tak bisa karena tercekat di dalam tenggorokan. Dia lalu terduduk lemas di kursi tanpa mempedulikan banyaknya pasang mata yang melihat ke arahnya.
Akhirnya tangis yang sejak tadi ia tahan lolos begitu derasnya. Beberapa kali ia mengusap air mata yang seolah tak mau berhenti itu.
"Nona, apa Anda mau pesan sesuatu?" tanya seorang pelayan yang menghampirinya. Nira mendongakkan kepalanya menatap tajam pelayan itu.
"Apa kau itu tidak tahu kalau aku sedang sedih?" tanya Nira dengan air mata yang masih saja mengalir.
Sroottt...! Nira mengeluarkan ingusnya menggunakan tisu.
Pelayan itu hanya nyengir melihat wanita cantik di depannya yang ternyata sangat jorok.
"Apa lihat-lihat? Apa kau mau aku bagi sedikit saja rasa sakit hatiku ini?" tanya Nira sambil menepuk-nepuk dadanya yang masih terasa sangat sesak. Pelayan itu sontak menggelengkan kepalanya. "Lalu kenapa kau masih berdiri di sini?" Nira menjentikkan jarinya agar pelayan itu pergi dari hadapannya.
"Hei, tunggu!" panggil Nira saat pelayan itu sudah berjalan menjauh. Dengan malasnya, pelayan itu membalikkan badannya.
__ADS_1
"Aku pesan es jeruk yang sangat asam." kata Nira. "Ingat! Yang super asam, ya?" ulangnya agar pelayan itu tidak keliru. "Jangan pakai gula!" imbuhnya dan pelayan menulis pesanan Nira dan berlalu dari hadapannya.
Karena kejadian di sebuah restoran yang membuat perasaannya hancur, Nira sampai melupakan tujuan utamanya. Dia mungkin juga tak tahu kalau seseorang di sana tengah menunggunya dengan perut keroncongan menahan lapar.
Dia adalah Arka yang saat ini terus saja marah-marah pada asistennya. "Kau lihat sudah jam berapa ini, Rey? Kenapa dia belum juga sampai?" tanya Arka dengan wajah yang kesal. Ya, Arka memang tahu kalau Nira mau ke perusahaannya membawakan makan siang. Tentu saja dia diberitahu oleh pak Rahmat.
"Mungkin ban sepeda motor ojek yang ditumpangi Nona Nira bocor, Tuan." jawab Rey asal. Dari tadi dia terus saja mencari jawaban yang menurutnya tak masuk akal. Dari ojeknya nyasar, macet, kehabisan bensin dan sekarang ban bocor. Dia merasa sangat jengah dengan keluh kesah tuannya yang super rempong itu.
"Apa aku pesankan makanan di kantin dulu atau dari restoran, Tuan?" tanya Rey yang sebenarnya tak tega melihat tuannya kelaparan.
"Apa Anda tidak kasihan dengan cacing-cacing di perut Anda yang sejak pagi tidak di beri makan?" tanya Rey dengan segala bujuk rayunya agar tuannya itu mau makan.
"Jadi kau lebih kasihan cacing di perutku dari pada aku?" seru Arka tak terima.
"Salah lagi!" gerutu Rey sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ke mana saja Anda, Nona? Cepatlah datang! Jangan sampai rambut di kepalaku ini rontok semua karena dipusingkan dengan kelakuan suami Anda yang kekanak-kanakan ini." Batin Rey sambil melirik tuannya yang sedang sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
"Kau lihat, Rey!" Arka menyodorkan ponselnya pada asistennya. "Kenapa juga istriku harus memegang pinggang tukang ojek itu? Betapa mesranya mereka." ucap Arka kesal saat kembali melihat sebuah rekaman video yang dikirimkan oleh pengawal yang berjaga di rumahnya, di mana nampak Nira yang sedang dibonceng tukang ojek.
Rey membuang nafasnya kasar sambil meletakkan ponsel tuannya di atas meja dan sudah tiga kali ini dia melihat rekaman video itu. "Tuan, di mana-mana kalau bonceng sepeda motor memang harus pegangan. Kalau jatuh, bagaimana?" jelas Rey dengan malasnya.
"Tapi tidak harus sedekat ini, kan?" Arka mengambil ponselnya dan mengamati video itu lagi dengan seksama.
"Tuan, dari pada Anda memikirkan video tidak penting itu, mendingan Anda memikirkan perut Anda yang dari tadi pagi belum terisi makanan sedikit pun." Rey mencoba mengalihkan pembicaraannya.
Rey memicingkan matanya menatap Arka. "Tuan, kenapa Anda begitu peduli dengan Nona Nira? Apa, sudah ada benih-benih cinta di dalam hati Anda? Jangan bilang kalau Anda cemburu?" tanya Rey penuh selidik.
"Khayalanmu terlalu tinggi!" sanggah Arka. Dia lalu berdiri dan meraih jasnya. "Kau ikut aku!" perintah Arka sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya.
.
.
__ADS_1
Selamat membaca sayang-sayangku semua. Salam sayang selalu dari emak-emak satu ini... πππ