
Arka memilih membelakangi istri dan dokter kegantengan itu. Dia tidak akan sanggup menyaksikannya. "Kenapa lama sekali?" tanya Arka.
"Ish, kau itu!" protes Nira karena perutnya belum sempat dielus oleh dokter Rain, tapi suaminya sudah sewot. Dan terlihat dokter tanpan itu menghela nafasnya pelan.
Sungguh ada pria posesif seperti itu? Batin Rain bertanya-tanya sendiri.
Arka hanya bisa terus mengumpat dalam hati sambil mencoba menahan emosinya agar tidak meledak. Tangannya pun terkepal erat seakan mau menonjok dokter pria yang kini tengah tersenyum pada istrinya.
Arka menatap istrinya dan dokter itu secara bergantian. Menurut penglihatannya, sepertinya kedua orang itu sangat menikmatinya. Apalagi istrinya yang senyum-senyum sendiri sambil terus memandangi wajah tampan dokter itu. Ralat! Tidak tampan, menurut Arka lebih tampan dia dari pada dokter itu.
Ehemmm.. Arka berdeham sangat keras namun keduanya tidak menyadarinya. Mata Arka menatap tangan sang dokter yang masih berada di perut wanitanya.
"Apa terlalu nyaman mengusap perut istriku?" sindir Arka dan mampu membuat dokter Rain gelagapan.
"Maaf." ucap dokter Rain pada Arka lalu segera menarik tangannya.
"Ck, sepertinya kau sangat menikmati dan meresapinya." cibir Arka sambil menatap dokter pria itu dengan sinisnya.
"Bukan begitu, Tuan. Anda salah paham." jelas Rain.
"Arka!" gertak Nira sambil menepuk pundak suaminya yang menurutnya tidak sopan. "Ini juga demi baby kita."
__ADS_1
"Baby kita atau mamanya?" tanya Arka dengan nada menyindir.
"Dua-duanya." jawab Nira tanpa dosa.
"Dokter, tolong dielus lagi!" pinta Nira pada dokter Rain tanpa menghiraukan suaminya yang tengah menatapnya tajam.
"Cukup! Tidak ada lagi!" bentak Arka sambil menarik Nira ke belakang punggungnya. "Enak saja!"
Sedangkan Fara, kini tengah menahan tawanya sampai perutnya terasa sakit. Sungguh hari yang sangat membahagiakan baginya, melihat sepupunya sengsara.
"Kalau begitu, aku keluar dulu." pamit dokter Rain. "Mari, Nona." Rain melempar senyumnya pada Nira dan dibalas lambaian tangan oleh Nira.
"Untuk apa melambaikan tangan segala?" tanya Arka dengan wajah geramnya karena sang istri begitu ramahnya pada pria lain.
"Kalau mau tanya, ya tinggal tanya saja." ketus Fara.
Arka berdeham terlebih dahulu. "Apa aku sudah boleh?" tanya Arka.
"Boleh apanya?" Fara malah balik bertanya karena dia memang tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Arka.
"Apa aku sudah boleh melakukan hubungan suami istri? Apa sudah aman untuk babyku?" Arka mengulangi pertanyaannya dengan lebih jelas.
__ADS_1
Fara menatap Arka sambil menaikkan sebelah alisnya. "Jangan bilang kalau kau percaya dengan ucapanku waktu itu?" Fara langsung tertawa terbahak-bahak, setelah tahu sepupunya sungguh mengindahkan pesannya. Dan dia tidak sanggup membayangkan betapa frustasinya Arka menahan nafsunya. Tapi tawanya langsung menghilang setelah sadar kalau dia keceplosan. Fara langsung membungkam mulutnya menggunakan kedua tangannya.
"Fara!" suara teriakan Arka menggema di seluruh sudut ruangan Fara. "Dan jangan kau bilang kalau kau telah membohongiku?" terpancar kemarahan di wajah Arka.
Glekkk...
Fara menelan salivanya dengan susah payah. "Bu,, bukan.."
"Kau itu seorang dokter, Fara! Tidak bisa asal bercanda begitu saja dengan pasienmu! Kau sudah sangat keterlaluan! Aku bisa menuntutmu!" ancam Arka.
"Arka, jangan! Aku mohon!" pinta Fara, memohon-mohon pada Arka. Itu juga salahnya yang mengerjai sepupunya tanpa pikir panjang lebih dulu. Kalau Arka sampai menuntutnya, kariernya bisa terancam hancur di tengah jalan.
"Arka, jangan marah! Saat itu aku hanya bercanda dan hanya ingin mengerjaimu saja. Sungguh!" jelas Fara. "Aku juga tidak mengira kau akan mempercayaiku begitu saja!" imbuh Fara dengan mimik muka super memelasnya agar sepupunya itu luluh dan tak memperpanjang masalah.
"Kau itu seorang dokter! Jadi wajar saja aku mempercayai ucapanmu. Tapi kau menyalahgunakan gelar doktermu itu!" ujar Arka. "Aku tidak peduli! Aku tetap akan menuntutmu!" lanjut Arka.
"Aku mengaku salah, Arka. Tolong maafkan aku." kata Fara dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Jangan harap aku percaya dengan air mata buaya betina sepertimu!" ketus Arka.
"Sayang, jangan memperpanjang masalah. Maafkan, Fara!" pinta Nira. "Itu juga ada baiknya untukku. Aku bisa mengistirahatkan tubuhku ini sejenak." lanjut Nira. Dia seharusnya mengucapkan terima kasih pada Fara karena dikehamilan yang masih muda, dia sangat malas untuk bercinta. "Dan, waktu itu aku juga habis pendarahan, kan?" jelas Nira.
__ADS_1
"Terserah! Dasar buaya betina!" Arka lalu keluar dari ruangan Fara dan disusul oleh Nira setelah berpamitan dengan Fara.
Setelah keluar dari ruangan dokter Fara, Nira mengedarkan pandangannya dan tak melihat suaminya. "Arka, kemana? Apa dia semarah itu?" Nira lalu berjalan menuju parkiran, dia sudah bisa menduganya.