Bukan Suami Pilihanku

Bukan Suami Pilihanku
81. Melawan


__ADS_3

Dia siapa?" tanya Fara pada Nira.


"Kalian pulang saja dulu. Aku ada yang mau dibicarakan dengannya." Nira tak menjawab Fara, justru dia menyuruh Fara dan Rain untuk segera pulang.


"Kau tidak apa-apa pulang sendiri?" tanya Rain yang tidak tega meninggalkan wanita hamil sendiri.


Nira tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Nanti ada supir yang akan menjemputku." jawab Nira meyakinkan Rain.


Akhirnya Fara dan Rain berlalu meninggalkan Nira dengan seorang wanita yang tidak mereka kenal. Baik Fara atau Rain sebenarnya tidak tega meninggalkan Nira. Tapi sepertinya Nira ingin berbicara empat mata dengan wanita itu.


"Kenapa kau ada di mana-mana? Apa kau selalu mengikutiku?" tuduh Nira pada wanita yang sekarang ini duduk berhadapan dengannya.


"Ternyata adikku ini sudah tidak menganggapku lagi sebagai kakak." sindir Mira saat Nira berbicara dengannya menggunakan kata 'kau', bukan lagi dengan panggilan 'kak'.

__ADS_1


Nira memutar matanya jengah. Dia sudah sangat bosan mendengar ocehan kakaknya itu. Bukankah wanita itu yang memutuskan hubungan dengannya. Kenapa sekarang jadi mempermasalahkan kalau dia tidak memanggil dengan sebutan kakak.


"Jangan banyak omong kosong! Apa maumu?" tanya Nira dengan tatapan tajamnya. Sudah tidak ada lagi rasa kasih sayang antara adik - kakak dari sorot matanya.


Sial! Sejak kapan dia sangat berani? Bukankah dia dulu sangat takut dan sangat tunduk padaku? Batin Mira, karena tidak menyangka dengan perubahan sikap Nira sekarang ini.


"Kenapa diam?" tanya Nira saat melihat Mira hanya diam saja. "Aku tidak punya banyak waktu kalau hanya di sini duduk sambil menatap patung." ketus Nira yang tak ada rasa takut sedikit pun pada Mira. Rasa hormatnya seakan telah hilang.


Mata Mira mendelik. "Apa kau bilang? Kau menyamakanku dengan patung?" Mira meninggikan suaranya tak terima.


Mira tersenyum sinis melihat adiknya itu. "Kau tadi bertanya padaku apa mauku?" Mira membalikkan pertanyaan pada Nira. "Kalau aku menjawab, banyak mauku, bagaimana?" Mira melirik Nira sambil jemarinya mengetuk-ngetuk meja dan jangan lupakan senyumannya yang menyimpan banyak arti.


"Oh iya, aku sampai lupa." Mira menutup mulutnya. "Aku tidak menyangka kalau adikku ini bisa bermesraan dengan pria lain di belakang suaminya." sindir Mira saat tadi melihat Nira disuapi oleh seorang pria yang menurutnya sangat berlebihan. "Bagaimana kalau Arka sampai tahu? Istrinya disuapi oleh pria lain?" imbuh Mira.

__ADS_1


Nira bersandar dengan kedua tangan dilipat di depan dada, menatap dan mendengarkan celotehan kakaknya yang tidak penting dan tidak ada gunanya kalau diladeni. Hanya akan membuang-buang tenaga saja. Tapi jauh dalam hatinya, dia juga merasa bersalah pada Arka karena tidak minta ijin dulu pada suaminya itu.


Mira membuang nafasnya kasar. "Baiklah! Sepertinya kau sedang tidak mau diajak bercanda." ujar Mira yang merubah posisinya menjadi condong ke depan dengan kedua tangannya berada di atas meja. "Aku mau semua yang menjadi milikmu! Terutama, Arka dan Geo." Mira berbicara dengan serius.


Nira menaikkan sebelah alisnya lalu menjulurkan tangannya untuk menyentuh kening kakaknya. "Apa kau masih waras?" ejek Nira lalu menarik tangannya kembali.


"Kau...!" bentak Mira yang emosinya mulai naik saat Nira bilang apa dia masih waras dan secara tidak langsung Nira mengatai kalau dia itu gila.


Dasar ****** kecil kurang ajar! Dia dan ibunya sama saja ******! Sudah berani dia sekarang! umpat Mira dalam hati.


"Kenapa? Kalau marah jangan beraninya mengumpat dalam hati!" seru Nira yang asal tebak dan tertanya tebakannya itu benar karena saat ini Mira sedang mengeluarkan semua kata-kata kasar dalam hatinya.


Mira memejamkan matanya dan mencoba menghirup nafas beberapa kali untuk meredamkan amarahnya. Dan matanya lalu terarah pada Nira saat wanita itu tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Mira karena menurutnya tidak ada yang lucu. Justru seharusnya dia yang memarahi Nira habis-habisan.


Nira mengusap cairan bening di sudut matanya akibat tertawa tadi. "Kalau berkhayal jangan terlalu tinggi! Nanti jatuh dan sakit loh." ujar Nira. "Kau bilang mau memiliki Arka dan Geo?" tanya Nira. "Jangan tanya padaku! Tanya pada Arka dan Geo langsung, apa dia mau denganmu?" sindir Nira yang membuat Mira kalah telak, karena sudah pasti Arka tidak akan mau bersamanya.


__ADS_2