Bukan Suami Pilihanku

Bukan Suami Pilihanku
57. Livia ke rumah Arka


__ADS_3

Setelah kepulangan Rey, Arka duduk terdiam di meja makan sambil sesekali melihat berkas yang masih ia pegang.


"Maaf, Tuan. Itu di depan,,,"


"Suruh tunggu di ruang kerjaku saja!" potong Arka tanpa menunggu kelanjutan yang akan disampaikan oleh pak Rahmat.


"Ba,, baik, Tuan." jawab pak Rahmat.


Arka memijit pangkal hidungnya. "Ada apa lagi Rey ke sini?" karena Arka mengira itu adalah Rey.


Terlihat pak Rahmat baru saja keluar dari ruang kerja tuannya sambil membawa nampan. "Tuan, tamunya ada di dalam." kata pak Rahmat dan mendapat anggukan dari Arka.


Dengan langkah tegapnya, Arka masuk ke dalam ruang kerjanya. "Ada apa kau ke sini lagi, Rey?" tanya Arka sambil berjalan ke meja kerjanya.


"Aku tidak menyangka, kau menyuruhku menunggu di ruang kerjamu. Sungguh suatu kehormatan bagiku." suara itu menghentikan langkah Arka dan menatap tajam pada seorang yang duduk membelakanginya dan dia dapat melihat jelas wajah orang itu saat dia berdiri dan memutar badan menghadap Arka yang tengah berdiri mematung.

__ADS_1


"Kenapa? Kau kaget dengan kedatanganku?" tanya wanita itu yang berjalan mendekati Arka.


"Untuk apa kau datang ke rumahku?" tanya Arka dengan dinginnya lalu duduk di sofa. Dan Arka juga dibuat heran, dari mana wanita itu tahu alamat rumahnya.


Wanita itu duduk di samping Arka, tapi Arka lalu beralih ke sofa lainnya.


"Apa kau sebenci itu padaku? Sampai duduk saja tidak mau di dekatku?" tanya wanita itu.


"Ck, jangan banyak bicara! Apa tujuanmu? Dan dari mana kau tahu rumahku?" tanya Arka dengan tegasnya pada wanita yang ada di hadapannya saat ini.


"Tujuanku, jelas aku ingin tahu bagaimana keadaan putra kita." jawab wanita itu yang tak lain adalah Livia. "Dan dari mana aku tahu rumahmu, itu tidaklah penting bukan?" Livia tersenyum sok manis pada Arka. Livia mengingat kembali perjuangannya saat mencari tahu di mana rumah Arka. Berhari-hari dia bagaikan penguntit yang diam-diam memantau Arka dari kejauhan. Dia akan mengikuti ke mana pun Arka pergi. Tapi sudah beberapa hari ini dia tak melihat Arka keluar masuk perusahaan, hanya asisten Arka saja yang nampak. Dan tadi, dia mengikuti Rey, berharap menemukan titik terang. Ternyata tak sia-sia perjuangannya. Secara tidak langsung, Rey mengantarnya sendiri ke rumah pria yang ia cari-cari. Tentu tak mudah untuknya masuk ke dalam rumah yang megah dan membuatnya berdecak kagum. Dia harus mencari cara untuk membohongi penjaga di sana. Dan sampailah dia sekarang, di dalam ruang kerja Arka Wiratama.


"Dia tidak mau bertemu denganmu! Bahkan mungkin dia tidak akan mengakuimu sebagai ibunya." jelas Arka.


"Ayolah, Arka! Bisakah kau lebih ramah padaku? Kenapa setiap kali berbicara denganku, kau selalu marah-marah?" tanya Livia yang tak pernah mendapat sambutan hangat dari Arka.

__ADS_1


"Oh iya, dengar-dengar kau sudah menikah?" tanya Livia.


Deg..


Jantung Arka berdetak kencang dan nafasnya baik turun tak beraturan. Dari mana wanita licik itu tahu kalau dia sudah menikah. Dan jangan sampai wanita itu merusak pernikahannya dengan Nira.


"Jangan kaget. Apa yang tidak bisa aku ketahui, Arka?" kata Livia di tengah lamunan Arka. "Dan, bagaimana kalau istrimu itu tahu tentang masa lalu kita? Kenangan yang sangat indah untukku. Mungkin juga indah untukmu." ujar Livia sambil mengerlingkan matanya pada Arka yang terlihat sangat marah.


"Kau tahu, Arka? Setiap malam aku selalu memimpikan kejadian pada malam itu. Betapa hebatnya kau di ranjang waktu itu. Kau sangat tangguh, Arka." Livia tersenyum menggoda pada pria yang duduk di depannya itu.


"Sudah cukup omong kosongmu?" sela Arka yang mencoba menguasai amarahnya agar tidak meledak. Dia tidak mau orang di rumahnya sampai tahu keberadaan wanita licik yang tak lain adalah ibu kandung Geo. Dan juga jangan sampai kalau Nira tahu lalu salah paham terhadapnya.


Arka lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju meja kerja. Diraihnya gagang telefon. "Ke ruang kerjaku sekarang!" perintah Arka.


Tak selang berapa lama, dua penjaga berbadan besar dengan pakaian serba hitam, masuk ke dalam ruang kerja tuan Arka.

__ADS_1


"Seret dia keluar!" perintah Arka sambil menunjuk Livia yang masih duduk di sofa.


"Lepaskan!" Livia mencoba berontak. "Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini! Kau lihat saja apa yang akan aku lakukan pada hubungan kau dan istrimu!" ancam Livia saat dibawa paksa oleh kedua penjaga itu dan perlawanannya hanya sia-sia karena tenaganya kalah jauh dibandingkan dengan kedua orang berbadan besar yang membawanya.


__ADS_2