Bukan Suami Pilihanku

Bukan Suami Pilihanku
62. Bertengkar


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu setelah kejadian di mana Nira menguping di ruang kerja Arka. Kini keduanya saling mendiamkan tanpa bertegur sapa atau bahkan hanya melempar senyum saja tidak pernah.


Dan saat ini, Nira yang baru saja masuk ke dalam rumah berjalan terburu-buru sampai tak memperhatikan kalau di depannya ada orang yang berdiri tegak sedang menghadangnya.


"Aww,,,," pekik Nira saat keningnya membentur dada bidang milik Arka. "Ish, kau itu kenapa berdiri di jalan?" gerutu Nira sambil mengusap keningnya.


Arka tak menjawab, dia malah jongkok memberesi isi tas Nira yang jatuh berserakan akibat menabraknya tadi.


Tangan Arka meraih sesuatu yang dia juga tahu apa itu. "Apa maksudnya ini?" tanya Arka, memperlihatkan benda yang ia temukan pada Nira.


"Kembalikan padaku!" pinta Nira sambil mencoba mengambilnya dari tangan suaminya, tapi Arka mengangkat tangannya sehingga Nira tak sampai untuk mengambilnya.


"Jelaskan padaku!" sentak Arka dengan kilatan amarah di matanya dan membuat Nira sedikit takut, karena baru kali ini dia melihat Arka semarah ini.

__ADS_1


"Apa yang perlu dijelaskan?" tanya Nira sambil merapikan tasnya. "Kau pasti tahu itu apa, kan?" tanya balik Nira lalu berjalan dengan cepat meninggalkan Arka agar dia tidak diintrogasi lebih banyak oleh suaminya.


Nira sampai di dalam kamar dan hendak menutup pintu kamar, tapi tangan kekar milik Arka menahannya.


"Oh my God, Arka! Kau mau apa lagi?" tanya Nira sambil membuang nafasnya kasar, dia lelah kalau harus berdebat.


Arka melemparkan pil pencegah kehamilan itu tepat mengenai dada Nira dan jatuh ke lantai. "Sudah berapa kali kau meminumnya?" tanya Arka sambil tangannya menutup pintu dengan keras.


"Sejak pertama kita melakukannya." jawab Nira dengan berbohong, karena sebenarnya dia belum minum sama sekali, baru hari ini dia beli di apotek.


Nira tersenyum sinis pada suaminya yang sedang menatapnya tajam. "Kenapa aku melakukannya?" tanya balik Nira. "Apa kau sudah lupa atau pura-pura lupa?" kata Nira dengan bibir bergetar menahan tangis.


"Aku tidak tahu apa maksudmu." balas Arka, terlihat raut kebingungan di wajahnya.

__ADS_1


"Bukankah ini kemauanmu?" tanya Nira, dia menatap Arka dengan mata berkaca-kaca. "Ok, kalau kau memang lupa, aku akan mengingatkanmu!"


Nira menghirup nafasnya dalam-dalam. "Apa kau ingat aku pernah bertanya padamu, bagaimana kalau aku hamil? Dan apa jawaban yang kau berikan? Kalau aku hamil, kau akan meninggalkanku." jelas Nira dengan suara bergetar dan air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya luruh.


"Apa kau masih menginginkan sebuah penjelasan? Dan apa kau masih bisa bertanya untuk apa aku melakukannya?" tanya Nira dengan mengebu-gebu. Mengeluarkan semua uneg-unegnya yang ia pendam sendiri. "Apa aku salah jika ingin mempertahankan pernikahan ini, demi kau agar tak meninggalkanku, aku harus minum pil pencegah kehamilan ini!" lirih Nira.


Sedangkan Arka, dia hanya diam. Suaranya seakan tercekat di tenggorokan setelah mengingatnya. Dia juga hanya diam saja saat istrinya mendorongnya dan memukuli dadanya. Dia biarkan istrinya melampiaskan semua amarahnya. Sampai dia rasa istrinya sudah agak tenang, dia menarik tubuh Nira ke dalam pelukannya, mendekapnya erat dan membiarkan wanitanya menangis di dalam pelukannya. Setidaknya dengan sebuah pelukan, bisa menghangatkan hati Nira.


"Bicaralah, Arka! Apa aku salah?" lirih Nira. Arka tak menjawab, dia justru semakin mengeratkan pelukannya. Dia tak menyangka kalau jawaban yang dia lontarkan hanya sebuah candaan untuk mengusili istrinya, malah disalah artikan dan melukai hati wanitanya.


"Maaf." satu kata yang keluar dari mulut Arka sambil menghujani kecupan di puncak kepala Nira.


Nira melirik ke atas, menatap suaminya. Dia tak percaya, seoarang Arka Wiratama dengan ringannya mengucapkan kata maaf padanya. Nira melonggarkan pelukannya dan menghapus sisa air matanya.

__ADS_1


Ahh,, kenapa aku bisa asal bicara mau mempertahankan pernikahan ini? Arka pasti diam-diam menertawakanku. Bodoh sekali kau, Nira. Batin Nira merutuki dirinya sendiri.


__ADS_2