Bukan Suami Pilihanku

Bukan Suami Pilihanku
76. Sabar


__ADS_3

Tiga hari sudah Nira belum bisa berdamai dengan kenyataan. Bayang-bayang bahwa kakaknya adalah ibu dari Geo terus bermunculan seakan membelenggunya. Dan tiga hari ini dia habiskan untuk mengurung diri di kamar.


Diam-diam Arka berdiri di ambang pintu, menatap istrinya yang sedang berbaring. Dia berjalan mendekat lalu duduk di tepi ranjang. Dibelainya pipi Nira, sekaligus untuk memastikan wanitanya itu tengah tertidur lelap atau tidak. Tak ada pergerakan, menandakan kalau istrinya sudah terlelap.


Ya, seperti inilah yang dilakukan Arka selama tiga hari ini. Masuk ke dalam kamar di saat Nira tertidur karena istrinya itu masih enggan untuk bertatap muka dengannya. Jangankan bertatap muka, bicara saja tidak mau.


Arka menghela nafasnya pelan, melihat wajah istrinya yang agak pucat karena tiga hari ini Nira tidak berselera makan. Dia usap perut Nira dengan raut wajah yang khawatir. Khawatir dengan calon babynya yang ada di dalam kandungan istrinya.


"Ahh, sial! Sampai kapan aku harus seperti ini?" umpat Arka yang sekarang ini sedang tengkurap di lantai karena Nira bergerak. Dia takut kalau Nira tiba-tiba bangun dan akan berteriak kalau mendapati dia di samping istrinya itu, seperti yang telah terjadi dua hari yang lalu dimana Nira histeris menemukannya ketiduran di samping Nira.


Arka mendongakkan kepalanya, memastikan kalau Nira kembali tertidur. Arka pun mengusap dadanya, merasa lega karena dia bisa berlama-lama memandang istrinya. Sungguh malang nasibnya, dia tidak bisa dekat dengan istrinya.

__ADS_1


Arka kembali duduk di tepi ranjang. "Sayang, sampai kapan kau akan seperti ini? Marahi aku, pukul aku atau apa yang bisa membuatmu tidak mendiamkan aku lagi. Aku minta maaf, sayang. Tolong, maafkan aku. Aku harus bagaimana?" ucap Arka sambil mengecupi punggung tangan Nira berkali-kali. Karena sudah agak lama dia di sana, Arka lalu keluar dari kamar.


Sepeninggalnya Arka, Nira membuka matanya. "Siapa yang marah? Aku sama sekali tidak marah. Aku menerimamu apa adanya dengan semua masa lalumu." ujarnya. "Tapi, aku hanya tidak tahu denganku sekarang ini. Kenapa aku selalu ingin marah setiap kali melihatmu. Rasanya aku sangat benci. Tapi, aku juga tidak bisa jauh darimu." gumamnya, Nira sendiri juga tidak tahu dengan apa yang dirasakannya saat ini. Perasaan yang selalu berubah-ubah. Kangen saat tidak ada Arka, benci kalau melihatnya.


"Aku juga tidak bisa kalau harus kehilangan Geo. Bagaimana kalau Kak Mira sampai menuntut hak asuh anak? Kalau Geo dibawa,,,," Nira menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" tatapan Nira menerawang ke depan, dengan kedua tangan yang terkepal erat. Tak akan dia biarkan Geo pergi dari sisinya, tidak akan ada yang bisa memisahkan dia dengan putra sambungnya. Anak kecil yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri. Walaupun sebenarnya, Geo adalah keponakannya.


Dia akan pasang badan kalau sampai Mira mau mengambil Geo. Memang, Mira adalah ibu kandung dan Nira pasti kalah telak. Tapi rasa sayangnya melebihi dari rasa sayang yang dimiliki Mira.


.


.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya mama Sovi.


"Sampai kapan akan seperti ini, Ma?" Arka balik bertanya pada mamanya. Dia sudah tidak tahan lagi kalau harus pisah kamar dari Nira. Tak ada kehangatan disetiap malamnya. Dia melalui tiga malam yang dingin hanya sendiri tanpa belaian istrinya. Setiap detik berasa sangat lama. Ditambah matanya yang seakan tidak mau terpejam.


"Sabar." ujar mama Sovi yang hanya bisa menyemangati putranya dengan kata 'sabar'.


"Apa tidak ada selain sabar, Ma?" seloroh Arka.


"Kau ini!" seru mama Sovi. "Ini," mama Sovi menyodorkan nampan yang berisi makan siang untuk Nira. "Kau bawa ke atas. Coba bujuk Nira agar mau makan!" perintah mama Sovi.


"Kalau ditolak lagi, bagaimana Ma?" tanya Arka.

__ADS_1


"Coba dulu." sahut mama Sovi.


Arka mengambil alih nampan itu dari tangan mamanya. Dengan langkah ragu di berjalan kembali ke kamarnya.


__ADS_2