
Setibanya di rumah, Nira langsung menuju kamar dan mengurung diri di sana. Dia masih syok dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui. Ingin menangis, tapi air matanya seakan sulit untuk mengalir dan hanya rasa sesak yang ia rasakan di dalam dadanya.
"Sayang, buka pintunya!" Arka mengetuk pintu beberapa kali agar Nira membuka pintu karena dikunci dari dalam. Karena tak juga dibuka, Arka hendak mendobrak pintu itu.
Tepukan lembut di bahunya membuat Arka menoleh pada pemilik tangan itu saat bahunya siap beradu dengan pintu.
"Ma.." sapa Arka.
"Bisa kita bicara?" tanya mama Sovi dan dibalas anggukan oleh putranya. Mama Sovi membawa Arka ke ruang keluarga.
"Ada masalah apa?" tanya mama Sovi saat mereka sudah duduk bersebelahan. Arka hanya menoleh sejenak tanpa menjawab pertanyaan dari mamanya membuat wanita paruh baya tetapi masih terlihat cantik itu menghela nafas pelan.
"Mama tadi melihat saat kalian masuk ke dalam rumah, sepertinya Nira marah padamu?" tanya mama Sovi saat tadi melihat ada aksi kejar-kejaran antara anak dan menantunya.
Arka menyandarkan tubuhnya dengan mata terpejam. "Apa Mama percaya padaku?" Arka balik bertanya yang membuat mama Sovi mengerutkan keningnya.
"Mama selalu percaya padamu." jawab mama Sovi tanpa tahu ke mana arah pembicaraan Arka.
"Tapi bagaimana dengan Nira, Ma?" tanya Arka lagi dan semakin membuat mama Sovi bingung.
__ADS_1
"Ish, Arka! Mama tidak tahu apa yang kau maksud. Jangan buat Mama pusing dan menerka-nerka yang tidak-tidak." protes mama Sovi.
Arka menghela nafas dalam-dalam. "Livia, Ma."
Mama Sovi membulatkan matanya saat mendengar nama itu disebut. "Ada apa dengan wanita licik itu?" dengan wajah tak sukanya.
"Dia adalah kakaknya Nira." jawab Arka.
Mama Sovi terkesiap mendengar penuturan Arka. "Kau serius?" tanya mama Sovi.
"Limarius, Ma." seloroh Arka dan langsung mendapat cubitan dari mamanya. "Sakit, Ma." protes Arka.
Mama Sovi bisa merasakan apa yang sedang Arka hadapi saat ini. Dia sendiri tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya bisa berharap, Nira bisa menerima masa lalu Arka.
"Biarkan Nira sendiri dulu! Dia mungkin butuh waktu. Setelah dia lebih tenang, kau bicarakan dengan kepala dingin." ujar mama Sovi. "Bersabarlah!" tangannya menepuk-nepuk pundak putranya seolah menyalurkan energi semangat untuk Arka. "Ini adalah ujian untuk pernikahanmu. Mama yakin, kalian bisa melaluinya. Berikan Nira waktu." lanjut mama Sovi. Baru saja putranya akan bahagia, masalah sudah datang.
Arka menoleh pada mamanya yang juga sedang menatapnya. "Ma, bantu aku ya?" pinta Arka dengan raut wajah memohonnya.
Sejenak berpikir, mama Sovi lalu tersenyum. "Baiklah." sambil mengusap wajah tampan putranya yang terlihat kusut.
__ADS_1
.
.
Sedangkan di dalam kamar, Nira berdiri di balkon sambil menghirup udara sore. Dia masih betah mengurung diri di dalam kamar. Menenangkan diri? Ya, itu yang dia lakukan. Sampai ketukan pintu membuyarkan lamunannya, diiringi suara halus seorang ibu yang memanggilnya. Nira lalu berjalan untuk membukakan pintu karena dia tahu, mama Sovi lah pemilik suara itu.
"Ma.." panggil Nira setelah membuka pintu, lalu menghambur ke dalam pelukan hangat mertuanya yang sudah merentangkan tangan untuk menyambut Nira.
Mama Sovi mengusap kepala menantu tersayangnya. "Apa boleh Mama masuk?" tanya mama Sovi dan dibalas agggukan oleh Nira. Setelah saling melepaskan pelukan, mereka masuk dan duduk di tepi tempat tidur.
"Apa cucu Mama baik-baik saja?" tanya mama Sovi sambil mengusap perut Nira.
"Sangat baik, Ma." sahut Nira, lalu tatapannya beralih menatap ke arah balkon.
Mama Sovi sangat memahami bagaimana perasaan Nira. "Dulu Mama juga sempat marah setelah mengetahui perbuatan Arka, bahkan sampai berminggu-minggu lamanya. Tapi setelah melihat bukti-bukti kalau Arka dijebak, kemarahan Mama sedikit demi sedikit mereda." mama Sovi membuka suaranya. "Bukannya Mama mau menutupi kesalahan Arka. Tapi itulah kenyataannya. Dan Mama juga baru tahu kalau ternyata wanita itu adalah kakakmu. Pasti sangat berat kau untuk menerimanya. Tapi Mama harap, kau bisa menerima Arka apa adanya. Jangan sampai termakan oleh hasutan wanita licik itu! Maaf, kalau Mama menyebut kakakmu wanita licik." jelas mama Sovi panjang lebar.
"Mama tahu?" tanya Nira.
Mama Sovi menganggukkan kepalanya. "Tadi Arka cerita." jelas mama Sovi. "Jangan menunda-nunda dalam menyelesaikan masalah!" setelah mengucapkan itu, mama Sovi berdiri dan mengusap kepala Nira lalu keluar, memberikan Nira untuk memikirkan ucapannya.
__ADS_1