
Dengan ragu, Nira melangkah menuju meja yang berada di paling sudut. Sebelum menghampiri pasangan yang sedang bermesraan itu, dia terlebih dulu menguatkan hatinya. Terlihat beberapa kali dia menghirup nafas dalam-dalam.
"Apa hubungan kalian?" pertanyaan yang langsung keluar dari bibir Nira, membuat kedua orang itu secara bersamaan menoleh, menatap wanita yang tengah berdiri di sampingnya.
"Ni,, Nira." seru keduanya secara bersamaan.
"Ternyata karena ini kau membatalkan pernikahan kita?" tanya Nira pada pria di depannya yang sepertinya syok dan tak bisa berkata-kata.
"Dan kau!" Nira menunjuk wanita di depannya. "Aku tidak pernah mengira Kak Mira akan melakukan hal seperti ini!" imbuh Nira.
"Nira, dengarkan aku dulu! Ini tidak seperti yang kau lihat!" Saka hendak meraih tangan Nira tapi langsung ditepis begitu saja oleh Nira.
Nira tersenyum sinis sekaligus jijik melihat mantan calon suaminya yang tanpa ada angin tanpa ada hujan telah membatalkan pernikahan mereka. "Apa? Kau bilang apa? Tidak seperti yang aku lihat?" tanya Nira. "Bahkan aku sudah melihat kalian masuk ke dalam hotel." jelas Nira sambil bergantian menatap Saka dan kakaknya. "Menurutmu, apa yang dilakukan pria dan wanita dewasa di dalam hotel? Tidak mungkin kalau hanya berbincang, kan?"
"Nira,," sela Mira.
__ADS_1
"Diam!" sentak Nira pada kakaknya. "Kenapa Kak Mira tega padaku? Apa salahku?" bentak Nira sambil mengguncangkan bahu kakaknya yang kini berdiri sejajar dengannya
Mira terdiam sejenak. "Cukup! Cukup, Nira!" Mira yang habis kesabaran menepis tangan Nira dari pundaknya. "Kau mau tahu, apa hubungan kami?" tanya Mira dengan tatapan sinisnya.
"Mira, jangan!" cegah Saka.
"Kenapa? Apa kau masih mencintainya?" tuduh Mira pada Saka dan pria itu langsung menggelengkan kepalanya. "Biarkan dia tahu yang sebenarnya sekarang juga!" seru Mira sambil menatap tajam Nira. "Kami adalah sepasang kekasih. Kau dengar itu?" tanya Mira sambil tangannya menyisipkan rambut yang menutupi telinga adiknya agar adiknya mendengarnya. "Apa masih kurang jelas? Kami adalah sepasang kekasih." ulang Mira.
Nira menutup mulutnya, seolah tak percaya dengan penuturan kakaknya. "Sejak kapan kalian berhubungan?" tanya Nira dengan suara beratnya karena menahan rasa sesak di dadanya mendapati kenyataan ini.
"Kalian keterlaluan!" kata Nira pada pasangan di depannya.
"Kau! Dasar pria brengsek!" sentak Nira pada Saka. Sungguh tega kekasihnya itu mendua di belakangnya. Dan wanita itu adalah kakaknya sendiri. Memang pintar sekali pria itu menutupi kebusukannya. "Betapa beruntungnya aku tidak jadi menikah dengan pria sepertimu!" cecar Nira dengan jari telunjuk tepat berada di depan wajah mantan calon suaminya.
"Jaga ucapanmu!" bentak Mira tak terima. "Jangan kau limpahkan kesalahan pada Saka. Lihat dirimu sendiri! Apa kau pantas untuk Saka?" imbuh Mira.
__ADS_1
Ya, Nira memang menyadari kalau dirinya tak semenarik kakaknya yang mempunyai body bak gitar spanyol apalagi ditambah baju-baju super minim bahan yang menempel di tubuh kakaknya. Membuat siapa pun pria yang melihat pasti akan tergoda.
"Asal kau tahu! Pertama, Saka tidak pernah mencintaimu. Kedua, selama ini aku juga tidak pernah menyukaimu, atau bisa dibilang aku sangat dan sangat membencimu!" ucap Mira dengan sangat menggebu-gebu dan kini berbalik dia yang memegang bahu Nira dengan sangat erat. Uneg-uneg yang ia simpan bertahun-tahun lamanya akhirnya bisa ia keluarkan saat ini juga. Bahkan selama bertahun-tahun pula dia bagaikan aktris papan atas yang terpaksa memainkan peran yang seolah-olah dia sangat menyayangi adiknya. Padahal kenyataannya tidak sama sekali. Dia lelah harus hidup dalam kepura-puraan selama ini, sampai tiba waktunya dia bisa meluapkan semuanya di depan Nira.
"Kehadiran ibumu dan kau yang menyebabkan papaku berubah. Dia lebih menyayangimu dari pada aku!" seru Mira sambil menunjuk-nunjuk dada Nira, bahkan karena terlalu kuatnya, Nira sampai terhuyung ke belakang.
"Kau tahu? Aku tertekan! Setiap kali, papa selalu membanggakanmu! Aku tidak pernah terlihat di mata papa. Apa-apa selalu saja kau! Memangnya apa lebihnya kau dibandingkan denganku?" tanya Mira sambil menatap adiknya dari atas ke bawah. Dia tak lagi bisa membendung air matanya. Mira lalu mendorong tubuh Nira ke belakang sampai tubuh adiknya itu membentur kursi di belakangnya. Mira menarik tangan Saka dan mengajaknya pergi dari tempat itu tanpa mempedulikan hati Nira yang mungkin hancur berkeping-keping.
.
.
.
Bonus 1bab di malam minggu ya, sayang-sayangku semua. ππ Salam sayang dari emak-emak satu ini... ππππ
__ADS_1
Selamat membaca.....π