Bukan Suami Pilihanku

Bukan Suami Pilihanku
51. Setengah jalan yang menyiksa


__ADS_3

Dan di sinilah Nira dan Arka sekarang berada, satu-satunya kamar super mewah di hotel tersebut yang hanya dikhususkan untuk Arka seorang.


"Arka, apa kau tidak bisa pelan sedikit?" protes Nira saat Arka menurunkannya dengan kasar, membuat Nira terhuyung hampir saja terjatuh kalau dia tidak pegangan lengan suaminya.


Arka tak menghiraukan Nira. Dia malah bersedekap sambil menatap istrinya dari atas sampai bawah.


"Kau mau apa?" tanya Nira bergidik ngeri melihat tatapan suaminya sambil memundurkan langkahnya, tapi Arka semakin maju mendekatinya. "Jangan macam-macam! Aku bisa melaporkanmu ke pihak berwajib." ancam Nira membuat Arka tertawa lebar. Tawa yang sangat jarang Nira lihat.


"Kau mau melaporkan aku?" tanya Arka. "Kau mau membuat laporan apa? Aku memperkosamu? Begitu?"


"Iya juga ya? Masa iya suami memperkosa istri sendiri?" celetuknya.


"Sekarang, tunjukkan rasa terima kasihmu!" perintah Arka sambil memegang erat pinggang Nira.


"Terima kasih apanya?" tanya Nira pura-pura tak paham.


"Ck, kau itu jangan pura-pura bodoh! Kau berterima kasih karena aku telah membantu perusahaan papamu. Apa kau melupakan itu?" sindir Arka.


"Tidak mungkin aku melupakan kebaikanmu." balas Nira. "Bukankah berterima kasih saja sudah cukup? Kenapa kau meminta imbalan? Kau tidak ikhlas ya? Kau itu perhitungan sekali." cibir Nira.


"Kau itu terlalu banyak bicara!" kata Arka. Dia seakan tidak sabar untuk menyentuh tubuh istrinya lagi yang sudah membuatnya tidak fokus kerja dari pagi. Percintaan panas semalam melekat jelas dalam ingatannya dan selalu membuatnya ingin dan ingin lagi walaupun belum genap dua puluh empat jam setelahnya. Tapi nyatanya hanya membayangkannya saja sudah mampu membangunkan miliknya.

__ADS_1


Aduh, bagaimana ini? Sisa pertempuran semalam saja, tubuhku masih sakit semua. Kalau ditambah lagi, aku tidak bisa membayangkan tubuhku setelahnya. Batin Nira sambil menelan salivanya dengan susah payah. Dia memikirkan cara agar bisa keluar dari situasi saat ini.


"Arka, aku mau ke toilet dulu." pamit Nira saat Arka hendak menciumnya.


Arka menatap tajam istrinya. "Jangan bilang kalau ini hanya akal-akalanmu saja!" tuduh Arka dengan tatapan menyelidik.


Nira mengayunkan kedua telapak tangannya. "Tidak! Aku kebelet pipis." jawab Nira dan langsung masuk ke kamar mandi.


Entah apa yang dilakukan Nira di dalam sana karena Arka di luar sudah berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi dengan wajah tegang menahan emosinya. Bagaimana tidak emosi jika yang ditunggunya sudah berada di dalam selama dua puluh menit.


"Nira, apa yang kau lakukan di dalam? Kenapa lama sekali?" tanya Arka yang sudah tak sabar. "Aku hitung sampai tiga. Kalau kau tidak membukanya, akan aku dobrak pintunya!" ancam Arka yang sudah pasang kuda-kuda.


"Ish, kau itu! Tidak sabaran sekali." gerutu Nira, dia langsung keluar saat mendapat ancaman dari suaminya. Dia sangat tahu kalau Arka tak pernah main-main dengan ucapannya. Dan sekarang, dia sudah tidak bisa kabur atau mencari alasan lagi.


Tanpa banyak bicara, Arka membuka jasnya dan melemparnya asal. Dibukanya kancing kemejanya satu per satu, menampakkan betapa kekarnya tubuh itu. Sedangkan Nira, jangan tanya dia. Dia sangat menikmati pemandangan di depannya. Bahkan tangannya tidak dapat dikondisikan dan menyentuh perut six pack milik Arka, memandang otot-otot yang menonjol di lengan suaminya.


Wuaahhh,, suamiku ini benar-benar sangat menggoda. Batin Nira, karena jujur saja, semalam Nira tidak dapat melihatnya dengan jelas mengingat hanya lampu tidur yang menerangi saat mereka bercinta.


"Tolong kondisikan air liur dan matamu itu!" sindir Arka saat menyadari istrinya itu malah bengong menatapnya tanpa berkedip.


Nira yang merasa tersindir lalu membuang wajahnya ke segala arah untuk menyembunyikan rasa malunya. "Aku tidak tergoda dengan tubuhmu." elak Nira.

__ADS_1


"Sungguh?" tanya Arka sambil menyeringai tipis dan tangannya langsung meraih dagu Nira dan mendaratkan ciuman di bibir merah muda istrinya, mengecupnya dengan penuh perasaan lalu **********. Berawal dari sebuah ciuman lembut, kini berubah menjadi hisapan-hisapan kecil di leher Nira yang membuatnya tak kuasa menahan desahannya. Dan akhirnya tubuh mereka pun kembali menyatu untuk kedua kalinya.


"Arka, perutku sakit sekali." rintih Nira disela-sela kegiatan bercinta mereka.


"Kau jangan mencari alasan!" kata Arka dengan suara beratnya sambil mencium lagi bibir Nira.


"Sungguh, kali ini aku tidak berbohong." jelas Nira sambil meringis kesakitan. Tapi Arka tak menghiraukannya dan tetap meneruskan kegiatannya. Sedangkan Nira, dia memegangi perutnya yang terasa seperti diremat-remat.


"Kau baik-baik saja?" tanya Arka saat mendapati Nira memegangi perut.


"Perutku sakit, Arka." kata Nira sambil mencoba menahan rasa sakit di perutnya.


Dengan terpaksa Arka menghentikan kegiatannya yang baru setengah jalan.


.


.


Jangan tanya apa yang dirasakan Arka saat ini karena author juga tidak tahu. Tanyakan pada para suami, seperti apa rasanya. Haahahaaaaa...


Ibarat kata, ditinggalkan saat sedang sayang-sayangnya mungkin ya...πŸ€”

__ADS_1


Selamat malam minggu sayang-sayangku, cantik-cantikku semua...πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2