
"Hei! Apa yang kau oleskan di perut istriku? Apa itu tidak akan membahayakan Arka junior?" seru Arka saat melihat Fara mengoleskan gel ke perut Nira. Dan seperti inilah salah satu contoh betapa rewelnya Arka.
Fara hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Kau itu cerewet sekali! Kalau kau tidak bisa diam, lebih baik kau keluar saja!" perintah dokter Fara yang seakan telah kehabisan stok kesabarannya menghadapi Arka.
"Kau,,, kau..!" Arka memilih menahan emosinya saat tangan Nira meraih tangannya dan menggenggamnya sebagai isyarat agar Arka tenang.
"Nah, itu anak kalian. Semua bagus dan sehat." jelas Fara sambil memperlihatkan Arka junior yang terlihat di layar.
"Kau lihat, Fara. Dia sangat tampan, bukan? Seperti papanya pastinya." ujar Arka membanggakan ketampanannya sendiri.
Fara memutar bola matanya malas, entah kenapa sepupunya yang dulu begitu dingin dan datar, ternyata sangat narsis. Sedetik kemudian, Fara tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Nira dan Arka secara bersamaan.
"Apa kau tahu Nira, ternyata ketampanan suamimu itu, disamakan dengan pantat anakmu." jawab Fara masih dengan tertawanya dan diikuti juga oleh Nira.
"Kau lihat!" Fara menunjuk layar. "Itu adalah pantat anakmu, berarti wajahmu seperti pantatnya." ulang Fara sambil melirik pada Arka dan Arka hanya bisa diam dengan ekspresi wajahnya yang sulit ditebak.
__ADS_1
"Sialan kau!" geram Arka.
Dan suasana mencekam di dalam ruangan dokter Fara akhirnya hilang saat terdengar pintu diketuk dari luar dan ketiganya serempak menoleh pada pria yang berjas putih masuk ke dalam ruangan Fara. Dilihat dari jas putih yang dikenakan, sudah pasti dia seprofesi dengan Fara.
"Masuk, Rain!" kata Fara dan dokter tampan itu berjalan ke arahnya. Tak lupa dia melempar senyum ramah pada Nira dan juga Arka.
"Terima kasih." ucap Fara saat pesanannya dibelikan oleh temannya itu.
Fara kemudian mengerutkan keningnya saat melihat Nira yang terlihat sedang menatap teman tampannya tanpa berkedip, bahkan mulutnya terlihat menganga. "Nira." panggil dokter Fara dan mampu membuat Nira gelagapan.
"Kau kenapa?" tanya Fara.
Sedangkan yang ditatap hanya bisa harap-harap cemas, karena Arka sudah hafal kalau Nira seperti ini pasti sedang meminta sesuatu dan mengharapkan persetujuannya.
"Cepat kau katakan!" Arka akhirnya luluh karena tak tega melihat istrinya.
Nira lalu tersenyum lebar. "Aku mau dokter tampan itu mengusap perutku!" seru Nira sambil menatap dokter Rain yang saat ini juga tengah menatapnya.
__ADS_1
"What?" mata Arka sampai membelalak karena tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Coba kau ulangi lagi!" perintah Arka untuk memastikan kalau yang didengarnya itu salah.
"Ck, apa telingamu itu bermasalah? Istrimu itu minta, temanku ini mengelus perutnya!" sahut Fara. "Jangan bilang kalau,,,," Fara tak melanjutkan ucapannya, namun matanya terlihat sangat berbinar.
"Diam kau!" bentak Arka dan kini dia menatap tajam istrinya yang kini juga sedang menatapnya sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
"Tidak!" tolak Arka dengan tegas sambil memalingkan wajahnya. "Kenapa harus pria lain? Aku juga bisa!" ketus Arka.
Fara memutar bola matanya malas. "Arka, Nira itu ngidam! Kalau kau tidak menurutinya, jangan salahkan anakmu itu nantinya ngileran." ujar Fara sambil menahan tawanya. Tidak dia sangka, baru saja dia membicarakan tentang Nira ngidam, sekarang di depan matanya, dia bisa melihat langsung. Apalagi setahunya, sepupunya itu posesif pada Nira. Ahh rasanya Fara ingin jingkrak-jingkrak saat itu juga melihat Arka tersiksa.
"Gara-gara kau!" Arka menatap Fara sambil mendengus kesal.
"Kenapa aku?" tanya Fara heran sambil menaikkan kedua bahunya.
"Sayang, jangan salahkan Fara! Ini keinginan baby kita." jelas Nira sambil mengusap lengan suaminya.
"Itu hanya alasanmu saja ingin disentuh oleh pria lain! Mana mungkin baby yang masih ada di dalam kandungan minta macam-macam!" gerutu Arka dengan wajah ditekuknya.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau kau mau anak kita ngileran!" Nira langsung pasang wajah cemberut karena suaminya tak mengabulkan keinginannya.
Arka hanyut dalam pikirannya sendiri. Dia tidak bisa membayangkan kalau anaknya yang tampan, akan ngileran. Setelah berpikir cukup lama, tidak ada salahnya mengiyakannya. Itu dia lakukan demi anaknya. Kalau bukan karena calon babynya, siapa pun yang berani memegang sehelai rambut pun milik Nira, akan dia patahkan tangan itu. Arka menghela nafasnya kasar lalu menatap istrinya yang masih cemberut. "Baiklah." jawab Arka pasrah namun ada perasaan tidak ikhlas. Semua ia lakukan demi calon babynya.