Bukan Suami Pilihanku

Bukan Suami Pilihanku
40. Minta imbalan


__ADS_3

Tak biasanya saat Arka pulang kerja Nira menyambutnya dengan membukakan pintu karena biasanya pak Rahmatlah yang bertugas. Sebuah pemandangan yang langka bagi Arka dan membuatnya bertanya-tanya ada apa dengan istrinya itu.


"Tumben sekali." sindir Arka saat Nira meraih jas yang dibawa Arka.


Nira menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya salah?" tanya Nira.


"Baguslah kalau kau sadar." ujar Arka sambil terus berjalan menuju lantai atas tentunya di mana letak kamarnya berada.


"Tunggu dulu!" Nira mencegah Arka dengan menahan lengan suaminya. "Duduk di sana dulu!" Nira menunjuk sofa yang ada di ruang tengah. "Ada yang mau aku bicarakan. Sebentar saja." pinta Nira.


Benar saja tebakan Arka. Pasti ada sesuatu dibalik perilaku Nira yang tak biasa baginya.


"Apa yang mau kau katakan?" tanya Arka sambil mendudukkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.


"Apa ya?" Nira menggaruk kepalanya, dia bingung harus memulainya dari mana.


"Kalau tidak, aku mau ke atas." Arka hendak bangkit tapi Nira segera merangkul lengan kekar itu.


"Arka, tolong bantu perusahaan papaku." kata Nira tanpa mengeluarkan suara, lebih tepatnya mulutnya hanya komat-kamit.


Arka menatap bibir yang sedang bergerak itu dengan kening berkerut. "Aku tidak mengerti bahasa isyarat." jelas Arka.

__ADS_1


"Ish, kau itu." gerutu Nira lalu menarik telinga Arka agar mendekat ke arahnya.


"Sakit." protes Arka.


"Mau dengar tidak?" balas Nira dan dengan malasnya Arka menganggukkan kepalanya.


"Tolong bantu perusahaan papaku." Nira mengulanginya lagi.


"Memangnya perusahaan papamu kenapa?" tanya Arka.


"Kau jangan pura-pura tidak tahu! Aku yakin pasti kau tahu itu." Nira mendorong bahu Arka.


"Kalau aku tidak mau?" tanya Arka sambil menatap Nira yang juga sedang menatapnya dengan wajah mengiba.


"Kau,,!" pekik Arka saat dasinya ditarik oleh Nira dengan kasar. "Aku bisa melaporkan ini sebagai kekerasan dalam rumah tangga." ancam Arka sambil melepaskan tangan Nira yang masih mencengkeram erat dasinya.


Sejak kapan perempuan satu ini menjadi sangat berani padaku? Batin Arka.


"Pokoknya kau harus membatuku! Aku mohon." pinta Nira lagi. Dia sangat memohon pada Arka karena suaminya itu sangat berpengaruh di dunia perbisnisan, ditambah kekayaan yang sangat melimpah, ditambah lagi suaminya itu memegang saham milik perusahaan papanya. Dengan menjentikkan jari saja pasti perusahaan papanya akan kembali normal. Nira kembali mengingat saat maminya memberitahu kalau ada masalah di perusahaan. Dan maminya memberi saran agar dia meminta bantuan pada Arka.


"Kalau aku tidak mau?" tanya Arka.

__ADS_1


Nira kembali menarik dasi Arka dan sekarang wajah mereka sangatlah dekat. Bahkan pucuk hidung keduanya saling bersentuhan. "Aku akan memaksamu." ancam Nira.


"Bagaimana caramu memaksaku?" tanya Arka, matanya tertuju pada bibir merah muda dan dengan secepat kilat dia mengecup bibir yang berada tepat di depannya itu. Bibir yang selalu membuatnya tergoda dan juga yang setiap malam selalu diam-diam dia cium saat pemiliknya tertidur pulas, pastinya Nira tak pernah menyadari itu.


Seketika Nira melepaskan cengkeramannya saat mendapat serangan mendadak dan mampu membuat jantungnya seperti mau loncat dari tempatnya. "Arka, apa yang kau lakukan?" sentak Nira, ucapannya berbanding terbalik dengan hatinya yang terasa berbunga-bunga.


"Hanya mendapat kecupan saja reaksimu galak sekali. Bagaimana bisa kau berharap aku mau membantumu?" sindir Arka.


"Maaf,, maaf, Arka yang paling tampan." rayu Nira yang tidak mau kehilangan kesempatan kalau Arka sampai marah. "Kau mau, kan?" tanya Nira memastikan.


"Apa imbalannya?" tantang Arka.


Nira menatap Arka tak percaya. "Kau itu perhitungan sekali?" gerutu Nira. "Aku itu istrimu, sudah seharusnya seorang suami membantu istrinya yang sedang mengalami kesulitan." imbuh Nira dengan kedua tangan bersedekap di dada.


"Di dunia ini, mana ada yang gratis?" ucap Arka dengan cueknya.


"Kau.." Nira reflek menunjuk Arka dengan jarinya karena merasa kesal.


"Bagaimana?" Arka bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya. Sebenarnya dia sangat bahagia hanya dengan membuat Nira kesal.


Nira berpikir sejenak kemudian menghirup nafas dalam-dalam sebelum dia bertanya pada Arka. "Kau mau imbalan apa?"

__ADS_1


__ADS_2