
"Kau jangan munafik! Nyatanya kau menikmati tubuh murahan ini!" seru Livia tak terima dihina oleh Arka dan melihat Arka yang seakan tak sudi karena menyentuhnya.
Arka tersenyum sinis. "Kau juga pasti sangat tahu kalau waktu itu aku tidak sadar." tandas Arka. "Apa kau pikir aku ini bodoh? Aku tahu kau yang sengaja menaruh sesuatu ke dalam minumanku." Arka kini menatap tajam Livia.
"Ap,,apa maksudmu?" Livia menjawab dengan terbata-bata. "Ka,,kau jangan menuduhku sembarangan!" jelas Livia tanpa berani menatap mata Arka.
Arka memang tahu, karena secara diam-diam dia melakukan penyelidikan. Walau pun sangat sulit mendapatkan bukti itu, mengingat Livia sangat cerdik dalam menghilangkan semua bukti-bukti yang ada. Bukan Arka Wiratama namanya kalau tidak bisa melakukannya.
"Apa yang tak bisa aku cari tahu?" tanya Arka sambil menarik sudut bibirnya. "Bahkan aku tahu semua identitasmu. Apa perlu aku bongkar sekarang?" sinis Arka.
"Kau diam-diam menyelidiki tentang kehidupanku?" tanya Livia dengan nada suara yang kaget.
"Kau seharusnya bersyukur karena aku tidak memperpanjang masalah ini, mengingat kau dulu sedang hamil." ujar Arka. "Tapi, mengingat kau yang mulai berani menggangguku lagi, belum terlambat untuk mengusut tuntasnya. Karena aku masih menyimpan semua bukti itu." imbuh Arka dengan nada penuh penekanan membuat Livia ketar-ketir dibuatnya, bahkan mau menelan salivanya saja sangat susah.
"Kau jangan lupa, Arka. Ada seorang anak di antara kita. Dia adalah darah daging kita. Dia berhak untuk mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya. Apa salahnya kalau kita mencobanya?" Livia mencoba mengalihkan pembicaraan dengan membahas Geo.
Arka menghelas nafasnya dengan kasar. Dia harus ekstra sabar menghadapi wanita licik satu ini. Untunglah dia wanita, kalau pria, sudah dia pukuli sampai babak belur tentunya. "Dia tidak membutuhkanmu! Dia sudah mempunyai orang tua lengkap seperti yang kau maksud. Dia juga sudah mempunyai ibu yang sangat menyayangimu. Bahkan kasih sayangnya melebihi ibu kandung yang telah menerlantarkannya." tegas Arka, mengingat betapa sayangnya Nira pada Geo. Walau pun hanya ibu sambung, tapi Nira memberikan seluruh perhatian dan kasih sayangnya.
__ADS_1
"Tapi aku adalah ibu kandungnya, Arka! Kau tidak boleh seenaknya sendiri. Kau jangan memutuskan hubungan antara ibu dan anak!" seru Livia.
"Aku tidak pernah memutuskan hubungan antara kau dan Geo." elak Arka. "Kurang berbesar hati apa aku padamu? Waktu Geo masih kecil aku membuka pintu untukmu kalau kau mau menjenguk dia. Tapi apa? Kau tak pernah datang. Hanya untuk menanyakan kabar saja, apa pernah?" sinis Arka.
Livia tak bisa menjawab lagi. Dia kalah telak berdebat dengan Arka. Karena yang dikatakan oleh Arka, semuanya benar.
"Apa sudah tidak ada lagi yang mau kau bicarakan?" tanya Arka pada Livia yang dari tadi hanya terdiam. "Kalau tidak ada, lebih baik kau keluar!" Arka menunjuk ke arah pintu.
"Tapi,,,"
"Rey!" teriak Arka dan pintu langsung terbuka menampakkan batang hidung sang asisten. "Bawa dia keluar!" perintah Arka.
"Ayo, Nona." Rey menarik lengan Livia dengan malasnya. Jangankan tuannya, dia juga sangat tidak suka dengan wanita di depannya itu.
"Lepas!" Livia menepis tangan Rey dengan kasar.
"Hei! Seharusnya kau bangga, Nona. Pria super tampan dan berkharisma sepertiku ini mau memegangmu." gerutu Rey sambil menarik tangan Livia lagi.
__ADS_1
Arka memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. "Aku menyuruhmu untuk membawanya keluar, bukan malah berdebat!" sela Arka ditengah perdebatan antara Rey dan Livia.
"Maaf, Tuan." ucap Rey.
"Aku bisa jalan sendiri!" berontak Livia.
"Rey, jangan sampai wanita itu masuk ke sini lagi! Perketat penjagaan!" tegas Arka dan dibalas anggukan oleh Rey.
Livia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang menatap Arka. "Kau ingat, Arka! Aku tidak akan membiarkan kau bahagia! Aku akan melakukan segala cara untuk menghancurkan pernikahanmu!" ancam Livia sambil tertawa.
"Oh ya? Aku tunggu itu!" tantang Arka dengan seringaian liciknya.
Beberapa saat kemudian. "Sudah kau bereskan?" tanya Arka saat Rey kembali masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Sudah, Tuan." jawab Rey.
Arka menjentikkan jarinya agar Rey mendekat, kemudian membisikkan sesuatu ke telinga asistennya.
__ADS_1