Bukan Suami Pilihanku

Bukan Suami Pilihanku
59. Dia itu kenapa?


__ADS_3

Nira yang baru masuk ke dalam rumah, langkahnya sempat terhenti saat berpapasan dengan Arka di ruang keluarga. Ditatapnya pria tampan itu yang juga sedang menatapnya. Dia memejamkan mata sambil membuang nafasnya kasar lalu melanjutkan langkahnya, melewati Arka tanpa bertegur sapa atau hanya melempar sebuah senyuman.


"Dari mana?" tanya Arka sambil meraih lengan Nira dan menahannya, menatap lekat wanita yang kini berada tepat di hadapannya. Nira tak menjawab, justru dia mencoba melepaskan diri dari cengkeraman suaminya.


"Nira, aku sedang bertanya padamu!" ucap Arka dengan tegas.


"Apa itu penting untukmu? Aku lelah, mau ke kamar." ketus Nira dan sejurus kemudian dia kaget saat Arka menariknya ke dalam pelukan. Dan yang semakin membuat matanya membulat sempurna saat suaminya menciumnya tanpa aba-aba, apalagi seingatnya ruangan ini terbuka dan bisa dilihat oleh siapa pun.


"Apa saja yang sudah kau dengar?" tanya Arka setelah melepaskan ciumannya sambil jarinya mengusap bibir istrinya.


Deg...


Nira tak menyangka dia akan ketahuan dengan mudahnya. Ya, Arka tahu dari mulut pak Rahmat. Dan sudah dipastikan kalau Nira pasti mendengarnya. Ditambah lagi Arka mengecek cctv yang ada di luar ruang kerjanya, ternyata memang istrinya ada di balik pintu.

__ADS_1


"Apa kau marah?" tanya Arka sambil menangkup kedua pipi istrinya.


"Tidak." jawab Nira sambil menggelengkan kepalanya dengan santai. "Menurutmu, untuk apa aku marah?" tanya balik Nira.


Arka hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan istrinya. Dia justru menarik tengkuk istrinya dan menyatukan bibir mereka lagi. Menghisapnya dengan kasar, membuat Nira menahan perih di bibirnya.


"Arka,,!" Nira mendorong dada bidang suaminya. "Sakit, tahu!" gerutu Nira sambil mengusap bibirnya yang sedikit bengkak karena ulah Arka.


Sedangkan Arka, membalikkan badannya dan meninggalkan Nira yang masih berdiri mematung menatapnya dengan wajah heran.


_____


Hari berikutnya, siang hari di perusahaan Arka.

__ADS_1


Arka duduk di meja kerjanya dengan wajah penuh amarah. Marah pada wanita yang masih berani datang ke perusahaannya. Padahal Arka sudah menyuruh Rey untuk melarang wanita itu masuk, nyatanya dengan segala tipu daya, dia bisa lolos dan masuk ke dalam ruang kerjanya. Arka memilih membuka berkas yang ada di mejanya dari pada meladeni wanita yang duduk di sofa.


"Bagaimana, Arka? Apa kau mau?" tanya Livia yang sengaja datang menemui Arka lagi. "Kita akan menjadi keluarga bahagia dan Geo pasti akan senang mempunyai orang tua yang utuh." ujar Livia. "Kau bisa ceraikan istrimu dan menikah denganku."


"Aku tak tertarik padamu! Kau tidak masuk dalam kriteriaku!" Arka mengeluarkan kata pedasnya dan membuat Livia mengepalkan tangannya erat. Karena menurutnya itu adalah kata-kata yang merendahkannya.


"Mana mungkin kau tidak tertarik padaku?" sindir Livia. "Dilihat dari mananya, tubuhku ini?" Livia berdiri sambil memutar badannya. Memamerkan lekuk tubuhnya pada Arka yang bahkan tak meliriknya sama sekali. "Apa istrimu memiliki tubuh indah sepertiku? Pastinya tidak, kan?" ejek Livia dengan tersenyum penuh kemenangan.


Arka menggebrak meja dengan keras dan berjalan mendekati Livia.


"Sakit, Arka!" pekik Livia saat rahangnya dicengkeram erat oleh Arka sampai membuatnya yang semula duduk, kini berdiri.


"Jangan pernah kau membandingkan tubuhmu yang murahan itu dengan istriku!" tegas Arka. "Kau tak pantas dibandingkan dengannya, karena sangat jauh berbeda! Dia sangat berharga dibandingkan denganmu! Dia sangat bisa menjaga kesuciannya!" lanjut Arka sambil menghempaskan wajah Livia dengan kasar sampai wanita itu jatuh terduduk di sofa kembali. "Sedangkan kau? Sebelum denganku, pastinya kau sudah tidur dengan banyak pria." cibir Arka sambil tertawa sinis.

__ADS_1


Arka mengambil sapu tangan untuk mengusap tangannya yang telah menyentuh wajah Livia, lalu membuang sapu tangan itu ke tempat sampah. Dia lalu duduk kembali ke kursi kerjanya.


__ADS_2