
Dengan sangat pelan, Arka membuka pintu. "Sayang.." panggilnya saat tak mendapati istrinya. Pandangannya tertuju pada kamar mandi saat terdengar suara gemericik air dari dalam. Arka lalu menaruh nampan yang berisi makanan itu di atas meja nakas. Dia duduk dengan perasaan dag-dig-dug. Bukan karena apa-apa, dia hanya tidak sanggup kalau diusir lagi dan lagi oleh istri tercintanya.
"Sayang.." Arka memanggil istrinya saat Nira keluar dari kamar mandi. Arka langsung berdiri saat Nira baru membuka mulutnya. Dengan kedua telapak tangan yang terangkat ke atas layaknya sedang ditodong sebuah pistol. "Baik, aku akan keluar." ucapnya dengan pasrah.
Mata Nira mengikuti suaminya yang sedang berjalan. "Siapa yang menyuruhmu keluar?" tanya Nira, dia redam perasaan yang tidak suka melihat suaminya.
"Sayang, kau tidak marah lagi?" tanya Arka setelah menghentikan langkahnya. Wajahnya seketika berbinar karena Nira mau bicara dengannya. Dia lalu berbalik, berjalan cepat menuju istrinya yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Stop!" tangan Nira terjulur maju dan memberikan jarak pada Arka agar tidak memeluknya.
"Kenapa, sayang?" tanya Arka heran, akhirnya kedua tangan yang ia rentangkan kembali turun dengan lemasnya.
"Jangan dekat-dekat!" ucap Nira yang langsung membuat Arka mematung sesaat. 'Jangan dekat-dekat' itu yang sedang berputar di otak Arka.
Oh my God. Cobaan apa ini? batin Arka sedang menjerit-jerit. Kenapa sekarang sepertinya keadaan menjadi terbalik? Istriku jadi lebih galak dari pada aku.
"Ok!" Arka mundur tiga langkah ke belakang.
Nira kemudian duduk di tepi ranjang. "Kenapa masih berdiri? Cepat duduk!" perintah Nira saat Arka masih berdiri.
Dengan wajah berbinarnya lagi, Arka tak mau melewatkan kesempatan emas itu. Dia lalu duduk tepat di samping istri tercintanya.
__ADS_1
Nira pun mendengus kesal. "Kenapa duduk di sini?" tanya Nira.
Arka menautkan kedua alisnya. Dia sedang berpikir apa otak istrinya itu sudah konslet setelah dinyatakan hamil. Atau gara-gara si dokter hujan yang sudah mengelus perut istrinya, yang mengakibatkan dampak buruk bagi Nira dan calon babynya. "Kan kau yang menyuruhku duduk, sayang. Jadi aku duduk di sini." jelas Arka.
Jari Nira menunjuk sofa yang ada di sudut kamar. "Di sana."
Arka menghela nafasnya kasar dan mengalah demi wanitanya. Dengan langkah malasnya, dia duduk di sofa. Sudah mendingan lah dari pada diusir keluar dari kamar.
Diam. Itu yang terjadi di antara keduanya. Sungguh mereka bagaikan pasangan kekasih yang baru saja jadian.
"Arka, ada yang mau aku bicarakan." Nira memulai percakapannya setelah keheningan yang cukup lama.
"Arka!" panggil Nira lagi saat Arka tidak menjawabnya.
Sejak kapan pedengaran suamiku terganggu? batin Nira. Padahal, jarak mereka duduk tidak begitu jauh.
"Ada yang mau aku bicarakan." Nira meninggikan suaranya.
"Mau bicara apa?" suara Arka juga tak kalah tinggi.
"Tidak usah teriak! Aku dengar." protes Nira masih dengan suara kerasnya. Dia mengatur nafasnya, merasa lelah kalau harus teriak-teriak.
__ADS_1
"Aku mau bicara tentang Geo." kata Nira dengan suara normal.
"Aku tidak mendengarnya dengan jelas kalau bicara jauh-jauhan seperti ini." ujar Arka yang membuat Nira kesal.
Nira menghirup nafas dalam-dalam. "Ya sudah, kau duduk di sini!" Nira menepuk-nepuk tempat di sisinya. Dan belum sempat dia berkedip, Arka sudah duduk di sampingnya.
Tidak sia-sia trikku ini. Akhirnya bisa duduk sedekat ini lagi. Batin Arka. Ya, Arka harus pura-pura pendengarannya kurang, demi bisa duduk berdekatan dengan Nira. Itulah yang ide yang sempat terbesit di benaknya dan nyatanya sukses.
"Kau bilang tadi mau bicara tentang Geo?" tanya Arka.
Nira memicingkan kedua matanya. "Bukannya kau tadi tidak mendengarnya?" Nira balik bertanya dengan segala dugannya.
Sial! Keceplosan! Umpat Arka dalam hati.
Nira sudah menduganya, pasti suaminya itu sengaja melakukannya agar bisa duduk dengannya. "Aku mau bicara serius. Ya, ini tentang Geo." kata Nira, dan Arka menganggukan kepala tanda mempersilahkan Nira untuk bicara.
"Apa Geo tahu tentang kakakku? Apa dia pernah berjumpa dengan Kak Mira?" tanya Nira dengan wajah serius.
"Tidak." jawab Arka singkat. Karena memang sejak Geo diserahkan padanya, lebih tepatnya dibuang di depan pintu rumahnya, Mira tidak pernah sekali pun menjenguk Geo. Jangankan menengok, sekedar menelfon untuk menanyakan kabar saja tidak pernah.
Terlihat Nira merasa lega. Biarlah dia dikatakan egois karena ingin memiliki Geo.
__ADS_1
"Sayang, kau kenapa?" tanya Arka saat melihat Nira malah melamun.
"Tidak." Nira menggelangkan kepalanya. Tidak akan ia biarkan kakaknya mengambil apa yang telah ia miliki, setelah apa yang dilakukan oleh Mira padanya. Nira tidak mau kecolongan lagi dan tak akan memberi celah sedikit pun. Dia akan mempertahankan apa yang ia miliki, suami yang ia cintai, putra yang ia sayangi.