
Arka meraih jasnya lalu berjalan keluar dari ruangannya. Rey yang tak merasa ada jadwal bertemu dengan klien berlari mengejar Arka.
"Tuan, Anda mau ke mana?" tanya Rey.
Arka menghentikan langkahnya lalu menatap Rey. "Mau pulang." jawab Arka dengan singkat.
"Apa jam Anda mati, Tuan?" dengan beraninya Rey meraih tangan Arka, mencoba mencocokkan dengan jam miliknya. "Tidak mati, Tuan. Dan jarum jam kita berada di angka yang sama." lanjut Rey lalu mengembalikan tangan Arka ke tempatnya. "Maaf, Tuan. Hehee..."
Rey baru tahu kalau Arka sedang pasang muka garang padanya.
"Jangan kau samakan jam milikmu dengan milikku. Jangankan angka, harganya saja berbeda." ucap Arka dengan sombongnya.
"Iya,, iya. Percaya..." ujar Rey sambil mencebikkan bibir bawahnya.
"Tuan, ini belum waktunya pulang, kenapa tiba-tiba Anda pulang awal?" tanya Rey, karena tak biasanya Arka akan pulang lebih awal. Arka akan lebih sering berada di kantor sampai larut. Rey mulai melihat perubahan tuannya setelah menikah dengan nona Nira.
"Perusahaan milik siapa?" tanya Arka yang mulai lagi dengan tingkah sok sombongnya.
"Anda." jawab Rey.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau mengaturku? Apa aku harus minta ijin padamu? Terserah aku mau pulang jam berapa." ujar Arka lalu melenggang pergi meninggalkan Rey yang pasti akan menanggung semua pekerjaan yang Arka tinggalkan.
_____
Setelah mengendarai mobilnya kira-kira hampir dua puluh lima menit, Arka sampai di rumah megahnya. Dia sudah tidak sabar ingin memberi Nira pelajaran karena berani mengabaikan perintahnya. Dan entah kenapa baru sehari tak bertemu, dia sangat merindukan istrinya.
"Tuan, Anda sudah pulang? Apa Anda sedang tidak enak badan?" tanya pak Rahmat juga heran. Jangankan Rey, pak Rahmat saja dibuat tak percaya.
"Aku baik-baik saja, Pak." jawab Arka. Dia juga ikut bingung, kenapa semua orang seakan terheran-heran melihat dia pulang awal. "Apa Nira sudah pulang?" tanya Arka.
"Belum, Tuan. Mungkin Nona Nira betah di sana dan sedang melepas rindu." jelas pak Rahmat.
"Bu,, bukan,," ucapan pak Rahmat tak berlanjut saat Arka berlalu meninggalkannya. "Apa aku salah bicara? Atau aku menyinggung Tuan? Kenapa dia marah tak jelas?" pak Rahmat bertanya-tanya.
Arka bagaikan wanita yang sedang menstruasi, sangat sensitif dengan hal yang berbau Nira. Di dalam kamar, Arka duduk di tepi ranjang sambil mengotak-atik ponselnya.
"Sial! Apa yang sedang dia lakukan? Kenapa ponselnya mati? Apa dia tidak mau diganggu, dan dia sedang berduaan dengan,,," Arka membayangkan Nira yang sedang duduk berdua dengan Bayu seperti yang pernah ia lihat.
"Ahh, sial!" Arka melempar ponselnya begitu saja. "Apa aku harus menyusulnya? Ah,, tidak! Dia bisa besar kepala." ujarnya.
__ADS_1
---
Malam pun tiba, di luar rumah megah milik Arka, Nira berjalan mengendap-endap menuju pintu utama. Dia bernafas lega karena rumah terlihat sangat sepi.
"Semoga Arka belum pulang." Nira berdoa di depan pintu lalu membukanya dengan sangat pelan. Dengan langkah pelan, dia masuk dan sebelumnya dia sudah tengok kanan dan kiri untuk memastikan situasi dan kondisi aman terkendali.
"Untunglah, dia belum pulang." ujarnya.
"Siapa yang belum pulang?"
"Ya Arka lah. Siapa lagi?" tanya Nira dan langsung terdiam membatu saat menyadari suara itu milik Arka. "Matilah!"
Dengan ragu, Nira membalikkan badannya. Wajahnya tertunduk tak berani menatap mata Arka yang jelas terlihat kilatan-kilatan amarah di dalamnya.
"Sepertinya istriku ini sangat senang berkeliaran di luar sana sampai lupa pulang." sindir Arka.
"Siapa yang berkeliaran? Aku hanya ke rumah orang tuaku." jelas Nira.
"Arka, tunggu!" cegah Nira saat melihat Arka mau membalikkan tubuhnya. Tapi sayangnya Arka tetap melangkahkan kakinya meninggalkan Nira sendiri.
__ADS_1