
Sepasang manusia yang semalam telah memadu kasih itu masih tertidur pulas di balik selimut tebal yang menutupi tubuh polos keduanya. Rasa lelah yang mendera keduanya nyatanya membuat mereka tak mendengar alarm yang berbunyi dari ponsel Arka.
Pak Rahmat yang berada di lantai bawah dibuat bingung dengan tuannya yang tak kunjung turun karena ini sudah jam setengah delapan pagi. Karena biasanya Arka akan turun sebelum jam tujuh pagi. Pak Rahmat memutuskan untuk ke atas, ke kamar tuan Arka.
Sedangkan Arka dan Nira, semakin mengeratkan pelukannya saat mendengar suara ketukan pintu. Dan ketukan kedua, dengan mata yang berat, Arka melihat jam yang menggantung di dinding kamarnya.
"Astaga! Kesiangan!" seru Arka lalu bergegas turun dari ranjang dan berjalan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena mandi keringat semalam.
Setelah beberapa saat di dalam kamar mandi, Arka keluar lalu memakai pakaian kerjanya. Saat akan berjalan menuju pintu, dia baru ingat telah melupakan sesuatu. Dia berbalik, kemudian duduk di tepi ranjang di mana Nira masih tertidur dengan lelapnya.
"Maafkan aku yang sudah membuatmu kelelahan semalam." kata Arka sambil senyum-senyum sendiri mengingat semalam saat dia tak memberi jeda waktu untuk Nira beristirahat. "Istirahatlah! Aku ke kantor dulu." pamit Arka sambil mengecupi seluruh wajah Nira. Setelah puas, Arka lalu keluar dari kamar.
__ADS_1
"Tuan, apa Anda tidak sarapan terlebih dahulu?" tanya pak Rahmat yang mengekori Arka.
"Tidak, Pak. Aku langsung berangkat." jawab Arka sambil terus berjalan menuju pintu utama, langkahnya tiba-tiba terhenti dan membuat pak Rahmat hampir menabraknya.
"Apa ada yang tertinggal, Tuan?" tanya pak Rahmat.
Arka menggelengkan kepalanya. "Nira masih tidur, jangan bangunkan dia! Biarkan dia istirahat, sepertinya dia sedang tidak enak badan." perintah Arka agar tak seorang pun menganggu Nira.
Pak Rahmat agak membungkukkan badannya. "Baik, Tuan." jawab pak Rahmat. "Apa perlu memanggil dokter pribadi keluarga Wiratama?" tanya pak Rahmat.
____
__ADS_1
Matahari semakin merangkak naik. Sinar yang menyilaukan membuat Nira mengubah posisinya yang tadinya miring menghadap jendela kini berbalik membelakangi jendela. Saat matanya mau terpejam lagi, dering ponsel mengganggunya dan mau tak mau dia meraih ponsel untuk melihat siapa yang menghubunginya.
"Papa?" Nira lalu mengangkat panggilan itu dan berbincang beberapa saat dengan papanya. "Iya, Pa. Sama-sama. Love you, Pa." Nira lalu menutup sambungan telfonnya.
"Ternyata kau sungguh menepatinya. Secepat ini pula." kata Nira, ternyata memang suaminya sangat bisa diandalkan. Nyatanya belum sampai setengah hari, papanya memberi kabar kalau perusahaan sudah kembali normal lagi.
Nira menutup wajahnya menggunakan guling sambil tersenyum sendiri saat teringat kejadian semalam. Tapi senyumnya tak bertahan lama. "Jangan pernah mengaharap kalau Arka mencintaimu, Nira!" Nira tak mau berharap lebih yang nantinya akan menyakitinya saat dia tahu kenyataan aslinya.
Nira terdiam sejenak. "Tunggu! Tapi bukankah Arka bilang, tidak akan menyentuh wanita kalau dia tidak mencintainya? Apa dia mencintaiku?" tanyanya sendiri. "Ah, sudahlah! Untuk apa dipikirkan. Yang penting aku sudah menjalankan kewajibanku sebagai istri dan perusahaan papa sudah kembali normal." imbuhnya.
"Aww,,,," pekik Nira saat hendak turun dari ranjang. "Sakit sekali. Tenaga Arka itu terbuat dari apa coba?" tanya Nira saat mengingat betapa gagahnya Arka di atas ranjang. Dengan susah payah, Nira berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Nira baru keluar dari kamar pukul setengah dua belas siang. Karena sebelum itu dia habiskan berendam air hangat untuk menghilangkan rasa pegal di seluruh tubuhnya. Dia tak sabar untuk segera menuju dapur dan mencari makanan di sana.
"Nona mau makan?" tanya pak Rahmat saat melihat dari kejauhan istri tuannya sedang berada di dapur dan dia juga tahu kalau nonanya itu belum sarapan sejak pagi. "Biar saya menyuruh Bi Ijah untuk menyiapkannya, Nona." ujar pak Rahmat dan di balas senyum dan juga anggukan dari Nira. Dengan sabar Nira menunggu bi Ijah yang sedang memasak untuknya.