Bukan Suami Pilihanku

Bukan Suami Pilihanku
80. Disuapi pria tampan


__ADS_3

Sedangkan di sebuah restoran ternama,


Nira dan Fara sesekali menoleh ke arah pintu. Menanti kedatangan seseorang yang sejak tadi mereka tunggu.


"Nira, apa kau sudah meminta ijin pada suamimu yang super posesif itu?" tanya Fara sambil menatap istri sepupunya itu.


Nira menggelengkan kepalanya. "Belum." jawab Nira dengan santainya, membuat Fara tersedak minuman yang baru saja masuk ke dalam tenggorokannya.


Fara meraih tisue untuk mengelap bibirnya. "Kau itu bagaimana? Aku tidak mau telibat masalah dengan Arka." ujar Fara yang tidak mau ambil resiko. Sudah mendingan dia mau menuruti keinginan Nira yang minta untuk bertemu dengan Rain. Fara teringat saat dia baru sampai rumah sakit tadi pagi, Nira menelfonnya dan memintanya untuk bicara pada Rain kalau dia mau bertemu.


Fara menatap Nira dengan intens sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa wanita hamil akan meminta hal-hal aneh seperti ini?" tanyanya sendiri karena walaupun dia adalah dokter kandungan, dia tidak bisa memahami keinginan-keinginan aneh tersebut.


"Maaf, aku terlambat." ucap seorang pria tampan yang baru saja tiba dan langsung duduk di samping Fara.


"Tidak masalah." jawab Fara lalu menatap makanan yang dipesan Nira tapi masih utuh. Padahal miliknya sudah hampir habis.


"Kau tidak makan?" tanya Fara.

__ADS_1


Nira lalu menatap makanan di depannya. "Oh, ini, aku menunggu dia." jawab Nira sambil menaikkan dagunya yang terarah pada Rain.


Fara dan juga Rain serentak mengerutkan keningnya sambil menatap Nira yang tengah senyum-senyum sendiri menatap pria tampan tanpa berkedip.


Ihh.. itu anak Arka kalau besar pasti akan genit. Batin Fara sambil mengusap perutnya sendiri. Berharap kalau kelak dia hamil, tidak akan seperti Nira.


"Apa maksudmu dengan menunggu Rain?" tanya Fara.


"Aku mau dia menyuapiku." jawab Nira dengan jujur. "Apa kau tahu? Beberapa minggu ini aku kehilangan selera makan. Aku hanya mau makan kalau Rain yang menyuapiku. Tapi aku tidak berani bilang pada Arka. Kau tahu sendiri, kan? Dia pasti tidak akan mengijinkanku." jelas Nira.


"What?" Fara membelalakkan matanya tak percaya. "Jadi kau meminta bertemu dengan Rain hanya karena kau mau dia menyuapimu?" tanya Fara lagi.


Ini benar-benar gila! umpat Fara dalam hati.


Sedangkan Rain hanya menggelengkan kepalanya saat melihat kedua wanita cantik itu tengah berbincang. "Tidak masalah. Aku akan menyuapimu." sahut Rain yang merasa tidak keberatan kalau hanya menyuapi Nira makan. Dia kasihan mendengar cerita Nira saat wanita itu kehilangan selera makan.


Dengan semangatnya Nira menyodorkan piring yang ada di hadapannya. Suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya dan tanpa terasa sudah tak ada sisa di piring.

__ADS_1


"Mau tambah lagi?" tanya Rain dan dibalas anggukan oleh Nira.


"Asataga! Apa perutmu itu terbuat dari karet? Apa perutmu masih muat? Apa kau tidak takut gendut?" rentetan pertanyaan diluncurkan oleh Fara saat tahu Nira mau tambah makan.


"Tidak masalah." jawab Nira singkat dan akhirnya dia makan lagi dan disuapi oleh dokter Rain sampai habis. Jangan tanyakan kalau Arka tahu. Dia bisa mengamuk dan memporak-porandakan seluruh restoran itu. Dan untunglah, Arka tidak ada di sana.


"Ahhh, akhirnya." Nira menyandarkan tubuhnya sambil mengusap perutnya yang terasa sangat kenyang. "Kau sekarang puas kan, Nak? Sudah makan sebanyak itu." Nira berbicara pada baby yang ada di dalam kandungannya.


Setelah sesi suap-menyuap habis, kini mereka saling berbincang. Dan tak lupa Nira menanyakan seputar kehamilannya pada kedua dokter kandungan yang ada dihadapannya. Obrolannya terhenti saat sebuah tepukan mendarat di pundaknya.


Nira memutar kepalanya dan sedikit kaget melihat siapa yang kini tengah berdiri di belakangnya. "Kau?"


.


.


.

__ADS_1


Hai teman-teman tersayangku semua.. πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Maafkan diriku yang baru up. Author remahan peyek ini sedang kehilangan semangat nulis. Makanya banyakin likenya ya, itu yang jadi penambah semangatku. πŸ˜‰πŸ˜‰ Tapi aku akan tetap berusaha untuk up kok. πŸ˜—πŸ˜—πŸ˜—


__ADS_2