
Setelah duduk termenung beberapa saat, mama Sovi baru ingat dengan tujuan utamanya ke rumah sakit.
"Nira, bagaimana keadaan Nira?" mama Sovi menengok ke kanan dan ke kiri seolah mencari keberadaan seseorang.
"Di mana istrimu?" tanya mama Sovi pada Arka dengan ketusnya, dan Arka menjawab hanya dengan menunjuk sebuah ruangan.
"Ap,, apa? Is,, istri?" tanya Fara dengan perasaan yang mulai tak menentu dan mulut menganga tentunya.
"Iya, istrinya Arka. Tante mendapat kabar kalau istrinya Arka masuk rumah sakit." jawab mama Sovi.
Fara kemudian menatap Arka dengan wajah bingungnya seolah sedang meminta penjelasan. Sedangkan Arka mengusap wajahnya kasar. Kini dia tahu apa yang menjadi kunci masalah saat ini.
"Fara...!" panggil Arka dengan wajah geramnya.
"Tante..." Fara kembali mencari perlindungan di balik mama Sovi.
"Kalian ini kenapa sih?" tanya mama Sovi. "Sudah, sekarang Mama mau bertemu dengan menantu Mama dulu."
Setelah melewati perdebatan panjang tentang sebenarnya apa yang terjadi dan Arka mengklarifikasi atas kesalah pahaman itu, akhirnya mereka sekarang berada di dalam sebuah ruang kamar rawat. Di sana terbaring lemah seorang wanita cantik dengan wajah sedikit pucat.
"Menantuku tersayang, apa yang terjadi denganmu?" tanya mama Sovi sambil membelai lembut kepala Nira.
"Aku tidak apa-apa, Ma." jawab Nira dengan lirih. "Maafkan aku yang tidak jadi menjemput Mama di bandara." imbuh Nira.
Mama Sovi menggelengkan kepalanya. "Tidak ap...." perkataan mama Sovi menggantung saat tubuhnya digeser oleh Arka.
"Sayang, katakan padaku, mana yang sakit? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Arka sambil mengecup punggung tangan Nira dengan penuh kasih sayang.
"Pipimu kenapa?" tangan Nira terulur mengusap pipi Arka yang masih terlihat kemerahan.
__ADS_1
"Tadi aku dikeroyok tiga orang. Mereka menganiaya aku tanpa tahu kebenarannya." adu Arka pada Nira.
Arka menatap seseorang dengan sudut ekor matanya, menatap seseorang yang berdiri di sudut ruangan. Menyembunyikan tubuh mungilnya di balik punggung dua pria tegap.
"Maafkan Papa sudah menampar wajah tanpanmu. Tadi Papa terlalu emosi. Kau tidak marah, kan?" tanya Handi. "Salahmu sendiri yang tidak mau menjelaskannya, sehingga kami salah paham."
"Bagaimana aku mau menjelaskan, kalau kalian saja memberondongku dengan semua tuduhan yang tak masuk akal itu? Kalian juga seakan tak memberikanku kesempatan untuk mejelaskannya." ketus Arka saat mengingatnya.
"Ish, Arka begitu saja marah." gerutu mama Sovi.
"Mau ke mana, Fara?" bentak Arka.
Deg..
Jantung Fara berhenti di tempat. Dia yang semula diam-diam mundur teratur, baru mau membuka handle pintu sudah ketahuan.
Arka melambikan tangannya. "Kau cepat ke sini!" perintah Arka dengan tegas.
"Satu,, dua,, ti.." belum sampai hitungan ke tiga, Fara sudah berdiri di samping sepupunya itu. Pasrah, itu adalah modalnya saat ini yang telah berani membuat masalah dan menabuh genderang perang dengan Arka Wiratama.
"Aw,,, wwhhhh.., sakit Arka!" rintih dokter Fara saat telinganya terasa panas karena dijewer oleh Arka.
"Maaf, Arka." pinta Fara sambil mengusap daun telinganya. "Aku kan tidak tahu kalau dia istrimu. Aku juga tidak tahu kapan kalian menikahnya. Itu salahmu juga tidak memberiku undangan pernikahan kalian!" jelas Fara. "Sakit, Arka!" seru Fara saat telinganya kembali dijewer Arka.
"Bukannya minta maaf dengan tulus, kau malah menyalahkan aku?" geram Arka.
"Memang itu kenyataannya." Fara mendengus kesal karena memang dia atau bahkan keluarganya tidak mengetahui tentang pernikahan Arka.
"Jangankan kau, Fara. Tante saja dibuat syok saat Arka membawa pulang istrinya." timpal mama Sovi tak mau kalah.
__ADS_1
"Sudah,, sudah! Apa kalian tidak kasihan dengan Nira?" sela papa Handi saat melihat menantunya terlihat bingung.
"Astaga, Mama sampai lupa." ujar mama Sovi lalu mendekat pada Nira menggenggam jemari menantunya.
"Sekarang kau jelaskan, bagaimana kondisi istriku!" kata Arka.
Fara pun menjelaskan dengan detail kondisi Nira yang saat ini tengah berbadan dua. "Selamat atas kehamilanmu." Fara menjulurkan tangannya dan dibalas oleh Nira.
"Terima kasih." balas Nira dengan senyum mengembang di bibirnya. Betapa bahagianya dia saat ini dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Dan raut kegembiraan juga tak lepas dari mama Sovi dan papa Handi. Mereka tak sabar untuk segera menimang cucu lagi. Apalagi Arka, dia langsung memeluk Nira dan menghujai kecupan di kening istrinya.
"Untunglah janinmu baik-baik saja. Lain kali, kalau beraktivitas jangan yang terlalu berat-berat dan jangan yang aneh-aneh!" ujar Fara. "Jangan sampai kelelahan! Untuk trimester pertama, harus sangat hati-hati." saran dokter Fara.
"Dan, kau!" dokter Fara melirik Arka yang juga tengah serius mendengarkan sarannya. "Kau harus puasa dulu!" jelas dokter Fara.
"Puasa apa? Senin - kamis, maksudmu?" sahut Arka dengan cepat.
"Ck, kau itu bodoh sekali!" ejek Fara. "Ya puasa tidak melakukan hubungan badan!" jelas Fara lagi.
"Ohh, itu. Tidak masalah." ujar Arka dengan santainya. Kalau hanya untuk puasa sampai Nira pulang dari rumah sakit, dia masih betah.
"Ingat, tiga bulan!" ujar dokter Fara sambil mengacungkan ketiga jarinya, membuat semua yang berada di sana serempak menahan tawa.
"Ti,, tiga bulan?" tanya Arka dengan wajah terkejut dan memelasnya, mengharap Fara akan mencabut ucapannya.
Fara pun mengangguk dengan sangat mantap. Hahahahaaa....! Sekali-kali mengerjai sepupuku ini. Nganggur selama tiga bulan, emang enak? Siapa suruh kau menjewer telingaku? Rasakan pembalasanku yang akan sangat menyiksamu. Hahahaa....! Fara tertawa puas dalam hatinya. Dia sengaja membohongi Arka sebagai pembalasan pada sepupunya yang kurang ajar padanya. Kapan lagi dia bisa mengerjai Arka kalau bukan memanfaatkan waktu yang tepat seperti saat ini.
.
__ADS_1
.
Untuk yang bilang ceritanya menggantung, maaf, beribu-ribu maaf. Di sini othor masih belajar dan hanyalah penulis amatiran. Jadi tolong memakluminya. 😉