Bukan Suami Pilihanku

Bukan Suami Pilihanku
66. Nira sakit lagi


__ADS_3

Nira melambaikan tangannya pada Geo yang baru keluar dari gerbang sekolah, dia lalu mengajak masuk ke dalam mobil.


"Nona, apa kita pulang dulu, mengingat pesawat Nyonya Sovi akan tiba sekitar jam tiga sore?" tanya pak Rahmat.


"Kita ke mall terdekat dulu, Pak. Bukan untuk belanja, di sana kan ada area bermain anak-anak. Aku sudah terlanjur janji pada Geo." jelas Nira sambil mengusap kepala anak sambungnya yang terlihat sangat akrab dengannya. "Dari pada kita pulang kan sama saja. Lebih baik sambil menunggu, Geo bermain dulu."


"Baik, Nona." kata pak Rahmat lalu melakukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan terbesar di daerah itu. Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, sampailah mereka.


Nira dan Geo langsung berjalan masuk menuju tempat tujuan utama mereka. Kalau dilihat sekilas, mereka seperti ibu dan anak kandung.


"Tante, aku mau main itu dulu." tunjuk Geo yang menjatuhkan pilihan pertamanya di permainan trampoline.


Nira yang melihatnya sudah merasa lelah lebih dulu. Tubuhnya sepertinya sudah tidak mumpuni kalau harus lompat-lompat.


"Baiklah." Nira terpaksa setuju demi Geo senang. Karena dia tahu, anak yang ia gandeng saat ini jarang sekali bermain di tempat seperti ini. Selain kesibukan Arka, mama Sovi yang memanjakannya jarang berada di Indonesia.


"Apa kau senang?" tanya Nira saat sudah masuk ke wahana trampoline.

__ADS_1


"Yes, i'm happy." Geo nampak ceria.


Nira hanya berdiri memandangi Geo yang asik loncat-lancat sambil tersenyum. Dia senang bisa memberikan kasih sayang yang tak pernah didapatkan oleh Geo dari sosok seorang ibu. Lamunan Nira terhenti saat Geo melambaikan tangan padanya.


"Tante, kemari!" teriak Geo.


"Nona, biar saya saja." cegah pak Rahmat yang juga ikut masuk. "Wajah Anda terlihat sangat pucat. Sepertinya Anda kelelahan." pak Rahmat merasa cemas.


"Ish, pak Rahmat yakin mau lompat-lompat seperti itu?" tunjuk Nira pada beberapa orang yang telah ahli bermain trampoline. "Nanti punggung Pak Rahmat bisa kambuh encoknya lho." ejek Nira sambil menahan tawa pada pak Rahmat yang tak mengingat umur.


Pak Rahmat hanya bisa pasrah saat nonanya tak menghiraukan kecemasannya dan berjalan menghampiri Geo. Sudah satu jam lamanya keduanya beralih dari permainan satu ke permainan lainnya.


"Di makan, Pak! Jangan sungkan." perintah Nira saat melihat pak Rahmat hanya memandangi makanan yang ada di depannya. Nira memang menyuruh pak Rahmat untuk duduk dan makan di meja yang sama. Tidak ada istilah membedakan.


"Iya, Nona." jawab pak Rahmat dan di balas seulas senyum oleh Nira.


"Habiskan, Geo! Tidak baik menyisakan makanan." kata Nira, walaupun kadang dia memanjakan Geo, tapi dia juga selalu bersikap tegas. Contohnya saat ini saat Geo tak menghabiskan makannya. Dia mengajarkan hal baik, mengingat banyak orang di luar sana yang kekurangan makanan.

__ADS_1


"Bagus." Nira menghadiahi sebuah usapan di kepala Geo saat bocah itu menghabiskan makanannya.


"Tante kenapa?" tanya Geo saat melihat Nira meringis seolah sedang menahan sakit.


"Tidak apa-apa." jawab Nira bohong karena tidak mau Geo mencemaskannya. Sebisa mungkin dia menyembunyikan rasa sakit di perutnya.


Pak Rahmat segera berdiri dan mendekati Nira yang jelas terlihat tidak sedang baik-baik saja. Dia melihat kening nonanya yang mengeluarkan keringat dingin dan wajah terlihat memucat. "Nona, Anda kenapa? Pasti Anda kelelahan." pak Rahmat dipenuhi rasa khawatir, dia sudah curiga sejak awal masuk di area permaian.


"Nona, kita ke rumah sakit sekarang!" ajak pak Rahmat sambil memegangi lengan Nira, membantunya berjalan.


____


Nira sedang ditangani oleh dokter, termasuk dokter Fara juga ada di sana. Sedangkan di luar. Arka yang ditemani oleh Rey terlihat sangat cemas dengan keadaan istrinya. Dia langsung meluncur ke rumah sakit setelah penjaga bayangan yang ia utus untuk melindungi Nira mengabarinya.


"Rey, apa lambung istriku bermasalah lagi?" tanya Arka, mengira-ira sendiri.


Rey mengangkat kedua bahunya sambil berkata. "Mana aku tahu, Tuan? Aku kan bukan dokter."

__ADS_1


"Kau..." Arka menatap tajam Rey dengan tangan terkepal.


Arka lalu berdiri dan berjalan mondar-mandir, dia tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri. Sesekali matanya menatap pintu yang tak kunjung terbuka. Dia harap-harap cemas dengan keadaan wanita tersayang yang ada di dalam sana karena setahunya, tadi pagi istrinya sangatlah sehat.


__ADS_2