
Sedangkan Nira, sudah hampir dua jam lamanya dia duduk di restoran, tempat di mana ia memergoki mantan calon suaminya dan kakaknya yang ternyata menjalin hubungan tanpa sepengetahuannya.
"Air jeruk, rasa asammu tak sebanding dengan asamnya kehidupanku." Nira berbicara dengan gelas yang baru ia teguk. Sudah ada empat gelas kosong di atas meja dan masih ada tiga gelas yang utuh. Sampai pelayan yang bolak-balik mengantarkan minuman untuk Nira hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kak Mira tega sekali berbicara seperti itu? Jadi selama ini dia berpura-pura menyayangiku? Semuanya hanya sandiwaranya saja? Semuanya palsu?" tanyanya saat mengingat kembali perkataan kakaknya. Ingin sekali dia tak percaya, tapi semua itu keluar dari mulut kakaknya sendiri. Padahal Nira sudah menganggap Mira sebagai kakak kandungnya, bukan sebagai kakak tiri. Tapi nyatanya kakaknya lah yang menusuknya dari belakang.
"Dan Saka, dasar pria brengsek yang tidak punya hati!" umpat Nita lalu meneguk es jeruk di tangannya sambil meringis menahan rasa yang begitu asam.
"Ehh,,," Nira menatap gelas yang diambil oleh seseorang dari tangannya.
__ADS_1
"Bayu?" Nira kaget, ternyata Bayu yang mengambil gelasnya itu. "Sedang apa kau di sini?" tanya Nira sambil meraih gelas yang diambil paksa oleh asisten papanya.
"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan di sini?" Bayu balik bertanya lalu mendudukkan dirinya di kursi tepat di sebelah Nira.
Bayu menatap tiga gelas utuh minuman yang begitu menggodanya. Karena merasa haus, dia lalu meneguk salah satu es jeruk yang terlihat sangat menyegarkan. "Kenapa asam sekali?" tanya Bayu pada Nira setelah menyemburkan es jeruk yang belum sempat masuk ke dalam tenggorokannya. "Jangan bilang kalau kau yang memesan lemon jus dan sudah minum sebanyak itu?" Bayu menatap satu per satu gelas yang sudah kosong. Nira tak menjawab, dia hanya menatap Bayu sekilas lalu menganggukkan kepalanya.
"Apa kau sedang menyiksa dirimu sendiri? Lambungmu bisa bermasalah!" jelas Bayu.
"Hentikan, Nira!" bentak Bayu lalu merebut gelas dari tangan Nira lagi.
__ADS_1
Bayu lalu menatap Nira dengan lekat. Dia baru menyadari ada yang salah dengan wanita cantik di depannya itu. Wajah yang terlihat begitu sendu dan sembab seperti habis menangis. Wajah yang diliputi kesedihan.
"Hei, ada apa denganmu? Apa sesuatu terjadi padamu?" tanya Bayu mencoba mencari tahu. Tapi Nira tak menjawab lagi. Nira malah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menyembunyikan air mata yang mulai keluar lagi dari pelupuk matanya. Dia tak ingin Bayu melihatnya menangis. Dia juga tidak mau menceritakan permasalahan yang ia alami saat ini, karena menyangkut dengan kakaknya. Nira tahu kalau dia cerita, Bayu pasti akan mengadukan kepada papanya. Dia tidak mau kalau kakaknya disalahkan oleh papanya, Nira tak mau itu terjadi. Walaupun dia telah disakiti oleh kakaknya, Nira tidak mau membalasnya. Dia tetap akan menganggap Mira sebagai kakaknya, walaupun Mira telah menorehkan luka padanya.
Bayu dibuat bingung karena Nira hanya diam membisu. "Kenapa kau menangis? Apa ada yang menyakitimu?" tanya Bayu penuh selidik sambil mengusap pundak wanita cantik yang saat ini tengah sesenggukan menangis, berniat untuk menenangkannya.
"Apa kau bertengkar dengan suamimu?" tanya Bayu di sela tangisan Nira. "Jawab aku, Nira! Jangan hanya diam saja!" desak Bayu yang sangat tak tega melihat Nira sesedih ini. Karena baru pertama kali dia melihat Nira yang tampak begitu kacau.
"Jangan mencoba menutupinya dariku! Apa dia melakukan KDRT padamu? Apa dia selingkuh di belakangmu? Apa dia memperlakukanmu dengan buruk?" tanya Bayu lagi dengan segala prasangka buruknya.
__ADS_1
"Jangan membelanya! Aku akan memberi pelajaran padanya kalau sampai dia yang menyakitimu! Akan aku hajar dia habis-habisan sampai dia memohon-mohon maaf padamu." ujar Bayu dengan menggebu-gebu menahan emosinya.
"Dari awal aku sudah tidak yakin dengannya. Ternyata terbukti, kan? Dia hanya bisa menyakitimu! Sudahlah, berpisahlah dengannya, Nira. Masih ada pria yang lebih baik darinya yang akan menerimamu apa adanya." lanjut Bayu lagi tanpa menyadari semua tuduhannya didengar oleh seseorang yang saat ini tengah berdiri di belakangnya dengan tangan mengepal erat dan dengan aura membunuhnya.