
"Apa Nona sudah baikan?" tanya pak Rahmat sambil menyiapkan alat makan untuk nonanya.
"Maksud, Pak Rahmat?" tanya Nira bingung, karena dia sama sekali tidak sakit. Tapi kenapa pak Rahmat seakan sedang mengkhawatirkannya.
"Kata Tuan Arka, Nona sedang tidak enak badan?" lanjut pak Rahmat.
"Oh, iya. Sudah mendingan, Pak." jawab Nira sambil tersenyum kaku. Kini dia tahu, ternyata Arka membohongi pak Rahmat. Dan yang membuatnya kesal, Arka bilang kalau dia sedang tak enak badan. Apa pria itu secara tidak langsung mendo'akannya agar sakit sungguhan, pikirnya.
"Silahkan dimakan, Nona." pak Rahmat mempersilahkan Nira untuk makan.
"Iya, Pak."
Setelah Nira menyelesaikan makannya, pak Rahmat kembali menghampirinya. "Nona, tadi pagi Tuan Arka tidak sempat sarapan. Dia buru-buru ke kantor karena kesiangan." jelas pak Rahmat.
"Lalu?"
__ADS_1
"Apa tidak sebaiknya Nona mengantarkan makan siang untuk Tuan? Pasti dia sampai sekarang tidak makan apapun." jawab pak Rahmat mengingat tuannya yang gila kerja dan selalu mengesampingkan untuk mengisi perutnya.
Nira terdiam sambil berpikir. "Baiklah. Tolong siapkan makan siangnya. Aku akan mengantarnya." ujar Nira. Lumayanlah untuk mengisi kegabutannya. Dia bisa pergi keluar walaupun itu hanya sekedar mengantar makan siang untuk suaminya.
Pak Rahmat menyerahkan paper bag yang berisi makan siang untuk Arka kepada Nira yang sedang mengotak-atik ponselnya. "Ini, Nona."
"Ok, Pak. Aku berangkat." pamit Nira dan diantar sampai depan oleh pak Rahmat.
"Nona..!" panggil pak Rahmat saat melihat nonanya justru berjalan tidak menuju garasi mobil, melainkan menuju keluar gerbang.
"Mobil sudah disiapkan di sana, Nona." kata pak Rahmat sambil menunjuk letak garasi. "Kenapa Nona malah ke sini?" tanya pak Ramat.
Nira mengehela nafasnya kasar. "Pak, ini hampir jam makan siang. Dan tentunya jalanan agak macet. Bisa telat aku sampai di perusahaan Arka." jawab Nira. "Jadi, solusinya adalah?" Nira menunjuk tukang ojek online yang sudah standby menunggunya.
"Ta,, tapi, Nona." pak Rahmat sampai tidak bisa berkata-kata saat nonanya hendak naik ojek online. Pak Rahmat hanya bisa memandang motor yang ditumpangi tukang ojek dan juga nonanya sampai tak terlihat lagi.
__ADS_1
"Nona, kenapa Anda nekat sekali? Pastinya saya yang akan dimarahi Tuan Arka." ujar pak Rahmat lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Memang benar dugaan Nira kalau jalanan agak macet. Walaupun dia dari golongan orang berada, nyatanya dia tak mempermasalahkan dengan banyaknya debu dan asap kendaraan yang mungkin akan menbuat kulitnya kusam. Nira malah terlihat girang dan sesekali dia merentangkan kedua tangannya.
"Ternyata enak juga naik ojek." ucapnya, karena baru kali ini dia naik ojek motor. Matanya menyipit saat ada sebuah mobil menyalipnya. Mobil yang masih ia hafal nomer platnya, mobil yang dulu pernah ia tumpangi beberapa kali dan mobil yang beberapa hari lalu ia ikuti.
"Pak,, Pak." Nira menepuk-nepuk pundak tukang ojek. "Kita ikuti mobil itu, ya!" perintah Nira sambil menunjuk mobil yang kini berada tak jauh di depannya.
"Siap, Mbak." jawab mas-mas ojeknya.
Nira berpegangan erat saat mas ojeknya menambah kecepatan. Tak selang berapa lama motor yang ditumpanginya berhenti di pinggir jalan.
"Ke mana mobil itu?" tanya Nira sambil mencarinya ke segala arah. Setelah sibuk mencari, matanya tertuju pada mobil yang terparkir di depan sebuah restoran. Dia lalu turun dan tak lupa untuk membayar ojek online yang telah berjuang mengejar incarannya.
"Terima kasih, Pak." ucap Nira lalu bergegas menuju restoran itu. Tapi baru saja tiba di depan restoran, langkahnya terhenti. Ternyata restoran itu adalah tempat yang penuh kenangan untuknya. Nira semakin penasaran dengan apa yang dilakukan dua orang itu di dalam. Dari pada penasaran dan menerka-nerka sendiri, Nira memutuskan untuk masuk.
__ADS_1
Setelah berada di dalam, Nira mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Ke mana mereka?" tanyanya. Matanya langsung menatap dua orang yang sedang duduk berdampingan dan terlihat sangat mesra. Dia juga melihat kalau si pria beberapa kali mencium punggung tangan wanitanya. Dengan ragu, Nira melangkah menuju meja yang berada paling sudut.