Bukan Suami Pilihanku

Bukan Suami Pilihanku
61. Arka dan Aksa


__ADS_3

Di sisilah sekarang Arka berada. Di sebuah villa yang terlihat megah. Villa milik keluarganya yang jarang di singgahi. Dia berada di salah satu ruangan yang luas, duduk sambil menatap tajam laki-laki yang sekarang ini berada di hadapannya.


Bugh....


Arka melayangkan pukulan pertamanya di pipi sebelah kiri pria itu dan membuatnya hampir jatuh kalau saja tidak ada dinding untuk penopangnya, karena pukulan Arka sangatlah kuat.


Arka menarik kerah kemeja pria itu dan mensejajarkan dengannya. "Sejak kapan kau menyukainya?" bentak Arka.


"Sejak Kakak belum mengenalnya sama sekali." jawab Aksa dengan lantangnya. Ya, dia adalah adik dari Arka, Aksa Wiratama.


Bugh..


Pukulan kedua dilayangkan ke perut Aksa dan sudah mampu membuatnya limbung, terjatuh ke lantai. Dia akui kalau kakaknya memang jago dalam berkelahi. Bisa saja dia melawan, tapi kekuatannya tak sebanding dan hanya akan sia-sia.

__ADS_1


"Tuan, hentikan! Dia adik Anda, Tuan Aksa." seru Rey, menahan tubuh tuannya yang akan maju menghajar Aksa lagi.


"Tidak apa, Rey. Biarkan dia melakukannya sampai puas." kata Aksa. "Lebih baik kau keluar, tinggalkan kami berdua!" perintah Aksa.


"Tapi,,,"


Dengan langkah berat, Rey pun keluar sambil menatap iba pada Aksa dan menatap heran pada tuannya. Dia sebenarnya tak tega, takut kalau tuan Arka menghajar habis-habisan adiknya sendiri. Karena dia tahu seperti apa tuannya yang sekarang kalau sedang terbakar rasa cemburu.


Sial! Tenaga kakakku itu kuat sekali. Batin Aksa sambil meringis menahan sakit dan memegangi perutnya. "Kenapa? Apa kau tak terima?" tantang Aksa seakan tak takut dengan amukan dari kakaknya.


Aksa tersenyum sinis pada Arka. "Apa kau mencintainya?" tanya Aksa, menatap balik kakaknya. "Kenapa kau diam? Kau tidak bisa menjawabnya, kan?" kata Aksa sambil mencoba berdiri walau kesusahan.


"Kau saja tidak tahu dengan perasaanmu sendiri. Bagaimana bisa kau melarangku agar tak mendekatinya?" cibir Aksa sambil mengusap pipinya yang terasa nyeri akibat pukulan kakaknya. Aksa berjalan ke arah kakaknya yang sedang duduk di sofa, lalu ikut duduk tepat di samping kakaknya.

__ADS_1


"Menjauh dariku!" perintah Arka sambil menggeser duduknya. Aksa tak menggubrisnya, dia malah dengan santai bersandar di sandaran sofa.


Mereka berdua duduk dalam diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Rasakan apa kata hatimu! Kau itu seorang pria dewasa. Masa tidak bisa membedakan mana cinta dan mana yang bukan?" sindir Aksa setelah cukup lama keduanya diam.


"Apa?" ketus Arka saat melihat adiknya menatap dirinya dengan senyum penuh ejekan.


"Kau itu memang cerdas dalam berbisnis, tapi bodoh urusan cinta!" cibir Aksa. Dia tahu kalau sebenarnya kakaknya itu mencintai Nira, tapi lebih menuruti gengsi yang setinggi langit. Dia melihat saat kakaknya diam-diam memperhatikan dia dan Nira saat berada di taman belakang. Jelas sangat terlihat api cemburu di mata kakaknya. Aksa juga melihat rasa cinta Arka yang teramat besar untuk Nira.


"Beraninya kau mengatai aku bodoh? Mau aku hajar lagi?" bentak Arka tak terima karena dikatai bodoh sambil tangannya yang sudah terkepal erat melayang di udara hendak memukul Aksa lagi.


"Kenapa tidak jadi?" tanya Aksa saat kakaknya menarik tangan yang sudah hampir menyentuh pipinya untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"Aku tidak setega itu!" ketus Arka sambil menoyor kepala Aksa dan keduanya pun tertawa bersama saat Arka merangkul pundak adiknya.


Aksa berdiri sambil merapikan kerah kemejanya yang kusut. "Kau ingat! Tanyakan pada hatimu. Kalau kau memang tidak mencintainya, aku bisa memberikan cinta yang teramat besar untuknya!" tegas Aksa lalu melenggang pergi meninggalkan kakaknya sendiri. Sedangkan Arka hanya bisa menatap kepergian adiknya.


__ADS_2