
"Arka, aku teringat ucapanmu yang bilang kalau melakukan hubungan intim tidak perlu adanya rasa cinta." kata Nira sambil jari telunjuknya bermain di atas sprai. "Jangan bilang kalau kau itu sering tidur dengan wanita di luar sana? Jangan sampai kau tertular penyakit ya! Dan apa karena kebiasaanmu itu, kau sampai menghamili ibunya Geo?" tuduh Nira sambil menatap tajam Arka.
Arka yang merasa panas telinganya akhirnya membuka mata dan dengan terpaksa dia duduk agar sejajar dengan Nira. "Kau tadi bilang apa?" tanya Arka dengan kadua mata menyipit.
Glek..
Nira menelan salivanya dengan kasar karena menyadari sepertinya dia telah menyinggung seorang Arka.
"Tidak jadi, lupakan saja!" kata Nira tanpa berani menatap suaminya yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan penuh kilatan amarah.
"Aku tegaskan padamu! Aku tidak akan pernah tidur dengan wanita yang tidak aku cintai!" kata Arka dengan penuh penekanan. "Apa kau pikir aku ini pria murahan yang mau tidur dengan sembarangan wanita?" ketus Arka.
"Asal kau tahu! Masa laluku adalah sebuah kesalahan! Bukan murni keinginanku! Paham?" tanya Arka dengan nada penuh penekanan. Nira hanya menganggukkan kepalanya tanda paham dari pada dia menjawab tapi salah lagi.
__ADS_1
Arka menggeser duduknya hingga berada sangat dekat dengan Nira. "Dan agar kau tahu aku terkena penyakit atau tidak, kau bisa tahu nanti." ujar Arka dengan seringaian liciknya.
Tanpa aba-aba, Arka lalu mengangkat dagu Nira kemudian mencium bibir merah muda milik Nira yang dari tadi sangat menggodanya, tapi ia coba untuk menahan.
"Mmm,," Nira berontak dan mendorong tubuh Arka yang saat ini tengah memeluknya. "Tunggu dulu!"
"Apa lagi?" tanya Arka.
"Kau yakin mau melakukannya denganku?" tanya Nira untuk meyakinkan sekaligus untuk mengulur waktu karena jujur saja kalau dia saat ini sangat gugup. Bukan karena ciuman yang membuatnya gugup, melainkan ini adalah pengalaman pertama kalinya berhubungan intim. Kalau hanya masalah ciuman, dia sering berciuman dengan Arka. Mungkin tak terhitung jumlahnya. Karena dia selalu tahu kalau Arka diam-diam menciumnya saat dia sedang tidur. Nira pura-pura tidur dan seolah tak tahu karena dia sendiri menikmati ciuman yang diberikan oleh suaminya dan yang selalu mampu membuat hatinya berbunga sekaligus berdebar tak karuan.
"Siapa yang senyum-senyum sendiri?" elak Nira. "Kau belum menjawabku. Kau sungguh yakin?" Nira mengulang pertanyaannya. Tapi tak mendapat jawaban dari suaminya. Dia justru mendapat serangan dadakan lagi dari Arka.
Arka yang merasakan gairahnya sudah sampai di ubun-ubun, memilih tak menjawab pertanyaan istrinya yang menurutnya sangat tidak penting. Dia ingin segera menuntaskan hasratnya dan tak sabar, karena setelah mereka melakukan hubungan suami istri, Nira akan seutuhnya menjadi miliknya.
__ADS_1
Ciuman yang berlangsung lama itu kini berpindah, turun ke leher jenjang Nira dan meninggalkan beberapa kecupan-kecupan manis yang berwarna kemerahan di sana. Nira sendiri membekap mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara sexynya. Dia juga tidak mau kalau Arka sampai tahu, dirinya menikmati setiap sentuhan yang Arka berikan padanya.
"Ar,,, Arka, tunggu dulu!" Nira mencoba menjernihkan pikirannya yang juga ikut diselimuti kabut gairah. Arka tak bergeming, dia tetap melanjutkan hasrat yang dulu pernah tertunda. Tangannya pun tak tinggal diam dan kink sibuk membuka baju yang kenakan Nira.
Setelah pemanasan beberapa saat, akhirnya Arka telah berhasil menyatukan tubuh mereka berdua. Tentunya tak mudah baginya, dia harus berusaha ekstra mengingat Nira masih perawan dan tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi Arka karena dirinya lah yang mengambil keperawanan istrinya. Dia juga harus berhati-hati karena ini pertama kalinya bagi Nira dan pasti akan sangat menyakitkan setelahnya.
Terlihat Arka mengecup kening Nira dengan penuh kasih, sebagai tanda terima kasih karena selama ini istrinya bisa menjaga kehormatan, tak seperti wanita dengan pergaulan bebas di luar sana. Termasuk ibu dari Geo, dia ingat jelas sangat mudah waktu itu dan Arka tahu dengan pasti kalau wanita itu sudah tidak perawan. Berbeda dengan Nira yang masih tersegel rapat.
Malam pun kian larut, keduanya masih bergumul meneguk nikmatnya surga dunia sambil sesekali keduanya mengeluarkan ******* halus sebagai pengiring malam panas mereka. Sampai akhirnya Arka mencapai puncak kenikmatannya dan melepaskan benih-benih yang akan menjadi Arka junior ke dalam rahim Nira. Dikecupnya bibir wanitanya dengan lembut.
Arka menarik sudut bibirnya saat melihat Nira yang terkulai lemah tak berdaya karena ulahnya. Dia membelai rambut istrinya dan menatap wajah cantik Nira yang mungkin kini si pemilik wajah telah tertidur pulas karena kelelahan. "Kau tak perlu tahu aku mencintaimu atau tidak! Yang pasti, aku tidak sanggup kalau harus kehilangan kau." ucap Arka dan kembali mengecup bibir Nira cukup lama. Dia pun ikut terlelap di samping Nira sambil memeluk erat tubuh istrinya, seakan tak mau terpisahkan.
.
__ADS_1
.
Maafkan diriku yang tidak bisa up setiap hari ya, teman-teman readers semua. Sebagai gantinya aku langsung up 2 bab deh. Harap maklum yahh. πππ Salam sayang dari, emak-emak yang sibuk ngurus anak ini. ππ