
Berpisah kelapamu? Umpat Arka dalam hati. Cih! Maksudmu, kau yang akan menerima Nira apa adanya? Omong kosong! Batin Arka. Tanpa banyak basa-basi, Arka yang merasa geram dan tak tahan dengan mulut pedas Bayu, langsung menarik kerah kemeja Bayu dari belakang.
Bugh,,,!
Bugh,,!
Bugh...
Arka memukuli Bayu dengan membabi buta. Menjadikan sebuah tontonan pertandingan tinju gratis bagi para pengunjung restoran itu.
"Tuan, hentikan! Anda bisa membunuhnya!" sela Rey mencoba melerai dengan cara menahan lengan tuannya saat melihat Bayu yang sudah terkapar tak berdaya.
"Minggir, Rey! Biar aku habisi dia yang sangat berani berbicara buruk tentangku!" sentak Arka. Dan tanpa disengaja karena melerai, Rey terkena pukulan Arka yang membuatnya hampir limbung. Darah segar mengalir di sudut bibirnya.
"Arka!" panggil Nira dengan suara menggelegar di seluruh ruangan dan dia bagaikan pawang dari seekor harimau yang sedang mengamuk, Arka lalu menghentikan pukulannya dan mencari sumber suara. Dia melihat istrinya yang menatapnya sambil berkacak pinggang.
"Apa kau tidak malu membuat kegaduhan seperti ini?" Nira memperhatikan satu per satu orang yang sedang berkerumun melihat apa yang sedang terjadi. Nira yang tak mau menanggung malu, meraih tasnya dan segera pergi dari tempat itu.
"Nona, Anda belum membayar!" teriak pelayan yang saat ini tengah mengejarnya. Nira berhenti sambil menepuk jidatnya. "Kenapa kau begitu bodoh, Nira?" ucapnya lalu mengambil beberapa lembar uang kertas seratus ribuan dan diberikan pada pelayan itu. "Ambillah sisanya!" kata Nira dan segera pergi dari sana.
__ADS_1
Sedangkan Arka, dia menatap tak percaya pada istrinya yang tanpa mempedulikannya main pergi begitu saja. "Rey, kau urus ganti rugi kerusakan restoran ini! Dan, bawa dia ke rumah sakit!" perintah Arka sambil menatap tajam Bayu yang sedang duduk bersandar sambil memegangi perutnya.
"Baik, Tuan." jawab Rey dengan sangat berat hati. Sudah mendapat sebuah bogem mentah dari tuannya, masih harus membereskan sisa-sisa dari kegaduhan yang diperbuat oleh tuannya. Untunglah pemilik restoran itu sangat menghormati Arka, jadi mereka tidak meminta ganti rugi. Tapi Rey tetap meminta maaf dan memaksa menager restoran untuk menerima uang dari tuannya. Tugas terakhirnya adalah, segera membawa Bayu ke rumah sakit terdekat.
Sedangkan di luar,
Nira yang hendak masuk ke dalam taksi, tidak jadi lantaran tangannya ditarik oleh seseorang.
"Ikut aku!" perintah Arka sambil menarik tangan Nira, berjalan menuju mobilnya.
"Arka, lepas! Kau mau membawaku ke mana?" tanya Nira.
"Masuk!" Arka membuka pintu mobil untuk istrinya. Bukannya masuk, Nira malah bersandar di badan mobil sambil menatap tajam Arka. Air matanya mulai berlinang di pelupuk matanya dan kembali menetes di pipi mulus Nira.
Sedangkan Arka, dia dibuat bingung oleh istrinya. Di mana letak kesalahannya sampai dia dimaki dan dipukuli. Tak hanya dibuat bingung, dia juga sangat malu saat beberapa orang memperhatikan mereka. Mungkin dia dianggap telah menganiaya anak orang.
Sial! Kenapa jadi aku yang salah? Bukankah seharusnya yang marah itu aku karena dia berduaan bersama pria lain? Batinnya. Arka mengingat lagi kejadian beberapa saat yang lalu.
*flash back on*
__ADS_1
"Tuan, kita mau ke mana?" tanya Rey saat mengejar tuannya yang sudah berjalan jauh darinya.
"Jangan banyak tanya!" Arka lalu memasuki mobilnya dan diikuti oleh Rey yang duduk di kursi kemudi.
Setelah mencari tempat makan yang enak menurut selera tuannya, akhirnya mobil yang dikendarai Rey berhenti di sebuah restoran yang menyajikan masakan barat dan juga termasuk langganan tuannya jika makan siang.
"Tuan, kita sudah sampai." ucap Rey. Mereka pun turun dan masuk ke dalam restoran dan berjalan langsung menuju private room.
"Rey, kita makan di sini saja!" Arka menunjuk meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Anda yakin?" tanya Rey, karena biasanya tuannya itu tidak suka makan dikeramaian.
Mereka pun duduk dan biasalah, mata Rey akan berkeliling mencari yang bening-bening. Rey mengusap matanya dan mempertajam penglihatannya. "Tuan, bukankah itu,," Rey langsung mengunci mulutnya.
"Itu apa?" tanya Arka dan mengikuti arah pandangan Rey.
"Oohhh, jadi dia malah bermesraan dengan Bau itu di sini?" geram Arka.
"Bayu, Tuan. B-A-Y-U." sela Rey.
__ADS_1
"Terserah aku!" ketus Arka. "Lihat itu! Berani sekali tangan kucelnya itu menyentuh pundak istriku!" geram Arka dan langsung beranjak dari duduknya untuk menghampiri istrinya yang sedang duduk berdua dengan Bayu.
*flashback off*