
Nira berdiri di samping mobil sambil berkacak pinggang. Dia lalu masuk ke dalam mobil. "Arka, kenapa kau meninggalkanku?" gerutu Nira lalu mendudukkan dirinya di samping Arka sambil menyangga perutnya dan mengatur nafasnya. Perbedaan sebelum dan setelah hamil terasa sangat jelas. Berjalan sebentar saja rasanya sangat melelahkan bagi Nira.
"Suruh saja dokter hujan itu menemanimu!" jawab Arka dengan ketusnya.
Nira menatap suaminya dengan kening berkerut. "Dokter hujan?" tanya Nira.
"Rain artinya apa?" Arka balik bertanya pada Nira.
"Oh, maksudmu dokter tampan tadi?" Nira menganggukkan kepalanya tanda paham.
Tampan apanya? Jelas lebih tampan aku. gerutu Arka dalam hati.
Mobil yang ditumpangi keduanya keluar dari area rumah sakit. Arka melirik Nira yang duduk bersandar dan terlihat masih mengatur nafas. "Kau kenapa?" tanya Arka mulai panik. Tingkat kemarahan akibat rasa cemburu dan amarahnya pada Fara pun sirna sudah saat mendapati istrinya terlihat lemah.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya lelah karena mengejarmu. Kau itu cepat sekali berjalannya tanpa menungguku." jawab Nira.
__ADS_1
Kini tangan Arka mengusap perut Nira. "Maaf, aku sampai lupa." sesal Arka, merutuki dirinya sendiri yang dibutakan oleh rasa cemburu dan amarah pada Fara.
Arka merengkuh tubuh itu dan membenamkannya di dada bidangnya. Beberapa kali dia mengecupi puncak kepala Nira dengan penuh sayang. "Maaf." Arka kembali meminta maaf pada Nira.
"Berhenti, Pak!" perintah Arka pada sang sopir saat matanya tertuju pada sebuah pusat perbelanjaan.
"Untuk apa kita ke sini?" tanya Nira saat tahu mobil yang ditumpanginya berhenti di sebuah mall ternama.
"Apa kau masih lelah?" tanya Arka tanpa menjawab pertanyaan Nira sambil membelai lembut wajah wanitanya. Dan Nira menjawab dengan sebuah gelengan kepala.
Nira menghentikan langkahnya dan membuat Arka juga ikut berhenti. "Untuk apa kita ke sini?" tanya Nira saat berhenti di sebuah toko perlengkapan bayi.
"Sayang, kita ke sini sudah pasti untuk membeli baju baby kita dan juga perlengkapannya." jawab Arka lalu menarik Nira untuk masuk ke dalam.
"Oh, ayolah, Arka! Kandunganku baru tiga bulan. Masih terlalu dini untuk membelinya" ujar Nira. "Kita pulang saja ya? Kita kembali lagi ke sini kalau sudah tujuh bulanan." bujuk Nira namun ditolak oleh Arka. Arka kembali menarik tangan istrinya.
__ADS_1
"Terserah kau sajalah!" ketus Nira lalu duduk di sebuah kursi. Dia memutuskan duduk dan memperhatikan suaminya yang sibuk memilih perlengkapan bayi. Sudah hampir setengah jam lamanya Nira menunggu suaminya sambil sesekali dia melirik Arka.
"Oh my God! Kenapa tidak tokonya sekalian saja yang dia beli?" gerutu Nira saat Arka memborong banyak barang belanjaan. "Ternyata pria kalau belanja lebih menyeramkan dari pada wanita." gumamnya.
Setelah membayar dan menghubungi Rey untuk mengambil semua barang belanjaannya, Arka mengajak Nira pulang. Dia tidak mau kalau istrinya sampai kelelahan. Arka memang tidak peka, karenanya lah, Nira pasti kelelahan. Lelah karena jenuh menunggunya.
"Kau lelah?" tanya Arka saat sekilas menatap istrinya.
Nira memutar bola matanya malas. Bisa-bisanya suaminya itu masih bertanya. "Sangat lelah!" jawab Nira.
"Sini, aku gendong!" Arka merentangkan kedua tangannya yang membuat Nira geli sendiri.
"Tidak." tolak Nira. Apa suaminya itu sudah tidak waras? Mau menggendongnya di tempat keramaian seperti ini. Tapi tiba-tiba tubuhnya sudah melayang di udara.
"Apa gunanya kau bertanya padaku? Aku menolaknya, tapi kau tetap saja menggendongku!" gerutu Nira sambil menyembunyikan wajahnya, karena dia merasa sangat malu walaupun menurut sebagian orang, itu adalah hal romantis. Digendong oleh pria tampan seperti Arka mungkin akan membuat jiwa para jomblo berteriak dan untuk pasti para wanita dibuat iri. Tapi tidak untuk Nira, ini adalah sebuah hal yang memalukan baginya.
__ADS_1
Saat sampai di depan mall, sebuah suara tepuk tangan dan diiringi tawa menghentikan langkah Arka. Dia menoleh ke belakang dan mendapati seorang wanita yang dia sendiri tidak berharap untuk bertemu lagi, sedang berjalan semakin mendekat ke arahnya.