Bukan Suami Pilihanku

Bukan Suami Pilihanku
69. Jaga jarak aman


__ADS_3

Tak pernah terpikirkan bagi Arka kalau harus puasa selama itu. Padahal sebelumnya, hampir setiap hari dia melakukannya dengan Nira. Hari demi hari ia lalui dengan sangat berat. Sejak Fara bilang dia tidak boleh berhubungan badan, Arka memilih menjaga jarak dari istrinya. Bukan apa-apa, dia takut akan lepas kendali mengingat Nira sekarang terlihat lebih berisi dan di mata Arka, istrinya begitu lebih sexy dan menggoda.


"Sayang, duduk sini!" Nira menepuk sofa yang ada di sampingnya saat melihat Arka berjalan lewat di depannya.


"Aku di sini saja." jawab Arka, yang memilih duduk di sofa yang berbeda. Dan tentunya tanpa menatap istrinya. Karena dengan menatap wajah istrinya yang semakin cantik, hasrat yang ia pendam berbulan-bulan akan meronta minta dituntaskan.


"Kau itu kenapa? Apa ada masalah di kantor?" tanya Nira.


"Tidak." jawab Arka, singkat, padat dan jelas.


Nira menghela nafasnya pelan lalu memilih duduk mendekati suaminya. Dia mengguncangkan lengan kekar Arka. "Kau itu kenapa? Dari awal kehamilanku, kau seakan menjauhiku! Kau berubah! Aku tidak punya penyakit menular, jadi tak perlu kau menjauh!" ujar Nira dengan raut wajah sedihnya. Dia tidak tahu kenapa suaminya seakan berubah. Jika wanita hamil lainnya akan dimanja, beda dengannya yang dijauhi suaminya.


Ahhh.....! Aku juga tidak mau ada disituasi sulit seperti ini. Aku sangat merindukanmu, sayang. Ku harap kau mengerti. Batin Arka sambil menatap lekat istrinya.


"Aku tidak apa-apa, sayang. Aku juga tidak berubah. Hanya saja...."


"Hanya saja apa?" potong Nira dengan cepat.

__ADS_1


"Bukan apa-apa." jawab Arka sambil menggeser duduknya menjauh dari Nira karena buah melon istrinya yang semakin besar itu menempel di lengannya. Bisa dibayangkan betapa frustasinya Arka yang tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kau itu menyebalkan! Apa salahku sampai kau menghindariku seperti ini? Apa kau marah? Tapi di mana letak kesalahanku?" tanya Nira dengan mata mulai berkaca-kaca. Dia memang tidak tahu di mana letak kesalahannya. Karena saat tidur pun, Arka memilih tidur di sofa setiap malamnya. Dengan alasan yang tak masuk akal pastinya. Dan kadang kalau satu ranjang, Arka memberi batas dengan menumpuk bantal dan guling di tengah.


"Sayang,," panggil Arka saat Nira berjalan meninggalkannya.


Arka mengacak-acak rambutnya. "Andai kau tahu kalau aku juga tidak ingin seperti ini. Tapi apalah daya? Aku tidak bisa mengendalikan diriku saat berdekatan denganmu." ucapnya. "Fara, kau mengacaukan segalanya." umpatnya saat tiba-tiba teringat sepupunya. Karena Fara, dia menjadi serba salah.


*


*


Mereka baru saja sampai di rumah sakit dan langsung menuju ruangan dokter Fara. Arka juga tidak sabar untuk segera bertanya pada Fara, apakah dia sudah boleh melakukannya setelah sekian lamanya ularnya dianggurkan dan teronggok tak pernah terjamah.


Dokter Fara langsung memijit kedua pelipisnya saat melihat sepasang suami istri itu masuk.


"Kenapa? Sepertinya kau tidak suka dengan kedatanganku?" sindir Arka setelah duduk berhadapan dengan dokter Fara.

__ADS_1


"Siapa bilang? Aku senang." jawab Fara sambil menarik kedua sudut bibirnya dab membentuk senyum yang dipaksakan. Sudah beberapa kali dia dibuat pusing oleh calon papa yang sekarang ini duduk di depannya. Bayangkan saja, setiap tiga hari sekali Arka akan menelfonnya untuk bertanya seputar keadaan babynya. Apalagi kalau sampai usia kandungan Nira sembilan bulan, bisa keriting rambutnya menghadapi Arka yang akan terus bertanya. Setiap malam Fara seperti diteror oleh sambungan telfon sepupunya itu.


Setelah berbincang sebentar, Fara lalu melakukan pemeriksaan, bertanya tentang semua yang dirasakan oleh Nira dan seputar keluhannya.


"Kau sama sekali tidak ngidam apapun?" tanya Fara dengan rasa penasarannya. Karena mungkin saja Nira akan ngidam yang menyulitkan sepupunya, dan orang yang akan bahagia adalah dirinya.


"Tidak." jawab Nira sambil mengelus perutnya.


"Ish, kau itu! Seharusnya kau ngidam yang aneh-aneh. Makanan khas daerah mana gitu. Yang sulit dijangkau atau bahkan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mendapatkannya." ujar Fara.


"Kau jangan mencuci otak istriku, Fara!" sahut Arka dengan nada tegasnya.


"Aku kan bahagia kalau kau menderita." jawab Fara dengan sejujur-jujurnya.


"Dari pada kau bicara yang akan memberi dampak buruk bagi istri dan anakku, lebih baik kau jelaskan bagaimana kondisi Arka junior!" kata Arka.


Fara menghela nafasnya. "Dia baik. Kau akan tahu sebentar lagi." jawab Fara yang langsung membawa Nira untuk berbaring di ranjang pasien untuk melakukan USG.

__ADS_1


__ADS_2