Bukan Suami Pilihanku

Bukan Suami Pilihanku
41. Di antara kita tak ada cinta


__ADS_3

Arka menarik sudut bibirnya membuat ketampanannya semakin bertambah. "Aku mau,," Arka memberikan kode agar Nira mendekatkan telinganya.


"Apa? Bicara saja, aku pasti mendengarnya." kata Nira yang enggan menuruti Arka. Dia lebih memilih duduk sambil bersedekap. Entah kenapa juga perasaannya menjadi tidak enak saat melihat mata Arka yang penuh siasat. Arka yang mendapat penolakan lalu berdiri.


"Ish, dia itu melebihi anak kecil. Sedikit-sedikit marah." gerutu Nira lalu ikut berdiri. "Apa? Cepat katakan!" Nira memilih mengalah dan mendekatkan telinganya.


"Aku mau, kau melayaniku malam ini." bisik Arka.


"Kau,, kau itu mesum sekali." Nira sampai mundur beberapa langkah, sangat kaget dengan apa yang dikatakan Arka. "Apa itu artinya aku harus menjual tubuhku ini padamu?" tanya Nira.


Arka mengusap wajahnya kasar. "Ck, bagaimana kau bisa bicara seperti itu?" kata Arka tidak suka. "Kau dan aku adalah pasangan sah di mata hukum dan agama. Jadi tak ada kata menjual tubuhmu. Itu adalah kewajibanmu sebagai istri untuk melayani suami." jelas Arka.


Sejenak Nira terdiam. Menang benar apa yang dikatakan oleh Arka. "Tapi di antara kita tidak ada cinta." ujar Nira.


Arka mengedarkan pandangannya ke segala arah, entah kenapa hatinya terasa sakit saat mendengar kata Nira kalau tak ada cinta di antara mereka. Apa mungkin selama ini memang istrinya itu belum bisa mencintainya walaupun hanya setitik saja.

__ADS_1


"Melakukan hubungan intim itu tidak perlu adanya cinta." jelas Arka. "Kalau kau setuju, bersiaplah untuk malam ini. Dan aku pastikan kalau besok kau akan mendapat kabar kalau perusahaan papamu kembali normal." Arka lalu membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Nira yang masih berdiri mematung sambil terus menatapnya.


"Hei, tunggu!" Nira mengejar Arka sampai di dekat tangga. "Apa tidak ada cara lainnya? Dengan cara aku mentraktirmu makan mungkin?" tanya Nira mencari jalan keluar lainnya.


"Memangnya aku anak kecil? Kalau hanya makan, aku mampu membelinya sendiri tanpa harus kau traktir." jawab Arka. "Aku hanya minta kau malam ini. Tidak menginginkan yang lainnya. Kalau tidak sanggup, ya sudah." Arka lalu menaiki tangga tanpa menoleh Nira sedikit pun.


___


Beberapa jam kemudian, Nira baru berani masuk ke dalam kamar. Kepalanya menjulur ke dalam terlebih dahulu untuk memastikan sedang apa suaminya, apakah sudah tidur atau belum.


Dengan langkah pelan, Nira masuk ke dalam. "Ke mana orang itu?" tanya Nira saat tak mendapati suaminya di atas tempat tidur.


"Mencari apa?" suara berat itu mampu membuat Nira berjingkat kaget. Matanya lalu tertuju pada Arka yang tengah duduk di sofa sambil membaca majalah bisnis.


Kenapa dia belum tidur? Apa aku harus merelakan mahkotaku yang sudah aku jaga selama ini? Batin Nira.

__ADS_1


Nira berjalan ke tempat di mana Arka sedang duduk. "Arka, aku,, aku, mau. Aku setuju." beberapa kata yang sangat sulit keluar itu akhirnya terlontar juga.


Arka membuang nafasnya kasar lalu meletakkan majalah itu di atas meja. Dia menatap Nira yang sedang berdiri di hadapannya. "Tapi sayangnya aku sedang tidak berminat." ucap Arka lalu berjalan ke ranjang besarnya dan merebahkan tubuhnya di sana.


Sabar, Nira! Sabar! Dia memang sangat sulit dimengerti dan sangat menyebalkan. Batin Nira sambil mengusap dadanya untuk menghilangkan rasa jengkel yang memenuhi dadanya.


"Arka, kau sungguh berubah pikiran?" tanya Nira setelah menyusul Arka ke atas tempat tidur. Dia duduk di samping Arka yang tengah berbaring sambil menatap wajah suaminya. Wajah tampan yang selalu membuatnya terpesona.


Arka, kenapa kau itu tampan sekali? Batin Nira yang sedang mengagumi ketampanan suaminya.


"Hmm." Arka hanya ber-ehem ria.


"Serius?" tanya Nira meyakinkan.


"Kenapa sekarang kau yang jadi berminat? Dan apa sekarang ini kau sedang memaksaku?" tanya Arka dengan mata yang masih tertutup rapat.

__ADS_1


Nira menautkan kedua alisnya. "Maksudmu aku?" Nira menunjuk dirinya sendiri dan dengan mulut super manyunnya. "Ish, siapa juga yang berminat dan siapa juga yang memaksamu?" Nira berdecak kesal karena tak terima dan terus mengumpat dalam hatinya.


__ADS_2