
Arka menatap Fara dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau...!" tangan Arka mengepal erat.
"I'm sorry, Arka." pinta Fara. Dia kembali teringat saat Arka membawa baby Geo ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA dan hasilnya terbukti memang anak kandung Arka. Saat itu Arka tak bisa menerima kenyataan dan meninggalkan baby Geo pada Fara. Dan Fara lah yang merawatnya untuk beberapa hari sampai mama Sovi menjemput baby Geo dan membawanya pulang. Dia juga tahu sampai saat ini, Arka masih belum bisa menerima Geo sepenuhnya.
Ingin sekali Arka memberi pelajaran pada Fara karena mulut perempuan satu ini. Tapi dia mencoba meredam amarahnya karena yang terpenting saat ini adalah bagaimana keadaan istrinya.
"Hei, mau ke mana?" tanya Fara saat Arka main pergi begitu saja.
"Bukan urusanmu!" ketus Arka tanpa menoleh Fara yang sedang menatapnya.
"Tapi itu urusanku! Karena kau salah kamar." seru Fara saat melihat Arka masuk ke UGD, sedangkan Nira sudah dipindahkan ke ruang perawatan umum, di kamar VVIP tentunya karena Fara melihat wanita itu sepertinya penting bagi Arka. Jadi dia tak mau mendapat amukan dari pria dingin itu nantinya.
"Sial!" umpat Arka. "Bawa aku ke sana!" perintah Arka. Dan Fara akhirnya menjadi penunjuk jalan untuk Arka sambil menahan tawa tentunya.
"Kau itu jalan seperti siput saja." ledek Arka saat Fara berjalan sangat santai dan tertinggal jauh darinya.
"Kenapa kau yang protes? Yang menunjukkan jalan siapa?" tanya Fara.
"Kau." jawab Arka singkat.
"Nah, itu tahu." sahut Fara.
__ADS_1
"Tuan." panggil seseorang dari arah belakang, membuat Fara dan Arka menoleh secara bersamaan.
"Oh, ya ampun! Kenapa harus bertemu dengannya?" gerutu Fara saat melihat Rey berjalan semakin mendekat.
"Kau di sini juga?" tanya Arka pada asistennya.
Rey mengangguk. "Iya, Tuan. Aku membawa Bayu ke rumah sakit ini." jawab Rey sambil mencuri pandang pada Fara.
"Apa dia masih hidup?" tanya Arka, menunjukkan wajah tak pedulinya.
"Iya, Tuan." jawab Rey.
"Tuan sedang apa di sini?" tanya Rey setelah mengalihkan pandangannya dari Fara, karena setahunya tuannya itu pergi mengejar nona Nira.
"Nanti saja aku menjelaskannya. Aku sedang terburu-buru." jawab Arka. "Ayo, Fara!" ajak Arka.
"Tuan..." panggil Rey saat tuannya dan Fara meninggalkannya seorang diri. Sebenarnya dia ingin sekali ikut, tapi dia harus segera menyelesaikan biaya administrasi parawatan Bayu.
Setelah sampai di depan pintu, Arka membukanya dengan kasar. Dia segera masuk untuk memastikan langsung kondisi Nira. Dengan segera Arka melangkahkan kakinya mendekati istrinya yang tengah berbaring. Karena usapan tangan milik Arka di keningnya membuat Nira terbangun.
"Kau baik-baik saja?" tanya Arka, dan Nira menjawab dengan anggukan kepala. "Apa perutmu masih sakit?" tanya Arka lagi untuk memastikan dan kini Nira menjawab dengan menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Fara, apa yang kau lakukan padanya? Kenapa dia hanya bisa mengangguk dan menggeleng?" tanya Arka dengan tuduhan yang tak masuk akal.
Fara menatap Arka dengan menautkan kedua alisnya. Apa karena seorang wanita membuat otak pria itu terbalik?
"Seharusnya yang aku periksa itu kau." ujar Fara. "Sepertinya kau sudah tidak waras lagi." cibir Fara sambil menempelkan punggung tangannya ke kening Arka.
Arka menepis tangan Fara dengan kasar. "Apa maksudmu?" Arka tak terima.
"Lagian kau itu aneh-aneh saja. Hanya karena dia menjawabmu dengan gelengan dan anggukan, kau menuduhku." jelas Fara.
Arka mengibaskan tangannya di depan wajah Fara. "Sudahlah! Sekarang aku serius. Sebenarnya apa yang terjadi padanya?" tanya Arka dengan rasa cemas.
"Makanya tadi jangan asal pergi dulu! Tunggu penjelasanku!" ucap Fara saat mengingat Arka yang main pergi, padahal ada yang harus ia sampaikan. "Kondisinya baik. Hanya saja lambungnya bermasalah. Mungkin kau memberinya racun?" jelas Fara sambil menggoda Arka lagi dengan segala tuduhannya.
Arka menatap Fara sambil menggelengkan kepalanya. "Aku heran, bisa-bisanya kau itu menjadi dokter." cibir Arka dan langsung mendapat cubitan dari Fara.
"Itu tandanya kalau aku itu sangat cerdas." seru Fara dengan sangat percaya dirinya sambil menepuk-nepuk pundak Arka.
Mereka berdua sampai tak menyadari kalau Nira sedang memperhatikan keduanya yang terlihat sangat akrab dan dekat. Bahkan tak jarang keduanya saling bersentuhan, seperti tak ada jarak sama sekali.
Apa dokter itu juga korbannya Arka? Semua pria itu sama saja. Batin Nira. Entah kenapa dia merasa tak suka kalau suaminya dekat dengan wanita lain. Nira memilih memejamkan matanya dari pada harus merasakan rasa panas di hatinya.
__ADS_1