
Sudah, jangan bahas ibunya Geo lagi!" sela Arka. "Menghancurkan mood boosterku di pagi hari saja." gerutu Arka.
"Lalu apa yang bisa membuat mood boostermu meningkat lagi?" tanya Nira dengan senyuman menggoda, tangannya kini dengan sangat berani merangkul leher Arka.
"Kau sedang menggodaku?" Arka menatap wanitanya dengan tatapan penuh gairah.
Nira menghalangi bibir Arka saat suaminya itu mau menciumnya. Karena dia tahu, Arka tak akan cukup hanya dengan sekedar ciuman saja.
Tangan halus Nira mengusap wajah tampan suaminya. "Apa kau itu tidak merasa lelah?" Nira merasa heran. "Cepat berangkat! Kasihan Rey, sudah beberapa hari ini dia menggantikan pekerjaanmu." kata Nira.
Arka terdiam sejenak. "Tapi kita harus ke rumah sakit dulu." ujar Arka.
"Untuk apa? Apa kau sakit?" tanya Nira cemas.
"Aku baik-baik saja. Hanya saja mau memeriksakan kandunganmu." jawab Arka.
Sontak Nira menatap perutnya sendiri sambil mengusapnya pelan karena dia merasakan kalau dia baik-baik saja.
"Kau kan sering mengkonsumsi pil penunda kehamilan, jadi aku mau memastikan kondisi rahimmu." ujar Arka.
"Kenapa kau malah tertawa? Aku serius." ketus Arka saat Nira malah tertawa.
"Aku hanya membohongimu saja waktu itu. Aku sama sekali belum pernah meminumnya." sahut Nira yang belum berhenti tertawa. Dia tak mengira kalau suaminya yang selalu serius itu bisa juga dibohongi.
__ADS_1
"Maksudmu?" Arka memicingkan matanya, menuntut sebuah penjelasan dari Nira.
"Sudah ku bilang, aku belum pernah meminumnya sama sekali. Waktu itu aku sedang marah padamu, jadinya asal jawab saja." ujar Nira dengan santainya.
Tawanya berhenti saat dia kembali masuk ke dalam pelukan Arka. "Syukurlah." ucap Arka dengan mata terpejam.
"Kenapa syukurlah?" tanya Nira yang saat ini sangat nyaman bersandar di dada bidang Arka.
"Itu berarti tidak ada kendala untuk kita segera memiliki anak." jawab Arka. "Kenapa? Kau tidak senang memiliki anak dariku?" selidik Arka saat wajah istrinya terlihat biasa saja, beda dengannya yang merasa bahagia dan sangat berharap supaya Nira cepat hamil.
"Kita bahas ini nanti saja. Kita ke bawah, sarapan dulu." ajak Nira sambil menggandeng tangan Arka.
Di ruang makan telah duduk Geo sambil melempar senyum pada Nira yang sedang berjalan ke arahnya. "Hai, sayang. Sudah lapar ya?" tanya Nira sambil mengusap kepala Geo dengan penuh kasih sayang. Geo sendiri merasa bahagia karena sekarang dia mendapatkan kasih sayang yang tak pernah ia dapat dari seorang ibu. Jangankan ibu, papanya saja seolah tak menganggapnya ada. Beruntunglah ada Nira yang membuatnya semakin dekat dengan papanya.
Geo nampak berpikir sambil menatap empat macam selai yang ada di atas meja.
"Selai kacang mau?" tanya Nira.
"Jangan! Geo dulu pernah alergi kacang. Memang sekarang sudah tidak, tapi apa salahnya kalau berjaga-jaga." sela Arka sambil menunggu roti yang sedang diolesi selai oleh Nira.
Kenapa bisa sama denganku? Aku dulu juga alergi kacang. Kebetulan mungkin ya. Batin Nira.
"Ya sudah, cokelat saja ya?" saran Nira pada Geo. Secara tidak langsung, Nira bisa tahu sisi lain dari Arka yang ternyata begitu memperhatikan Geo.
__ADS_1
"Sayang, aku berangkat." pamit Arka setelah selesai sarapan. Tak lupa dia mencium kening istrinya. "Sore nanti aku ada janji bertemu dengan klien penting, jadi tidak bisa ikut menjemput mama dan papa. Kau saja ya?" kata Arka dengan perasaan tak enak hati.
Ya, hari ini adalah hari di mana mama Sovi kembali ke tanah air. Kepulangannya tak sendiri, dia bersama Handi Wiratama yang tak lain adalah papa dari Arka.
Wajah Nira berubah muram karena tadinya mereka telah sepakat untuk menjemput bersama.
"Jangan cemberut." rayu Arka sambil mengusap pipi Nira tanpa menghiraukan beberapa pasang mata yang kini menatapnya. "Ok, aku janji, setelah semua urusanku beres, aku akan menyusulmu ke sana." kata Arka.
"Sungguh?" tanya Nira sumringah.
"Ya." Arka mengangguk. "Ya sudah, aku berangkat." Arka kembali mencium kening Nira cukup lama. Sebenarnya Arka ingin yang lebih, yaitu mencium bibir istrinya. Tapi apalah daya mengingat di meja yang sama ada Geo sedang memperhatikannya.
"Arka, tunggu!" panggil Nira.
"Apa lagi?" Arka menoleh ke belakang dan melihat istrinya sedang menunjuk Geo.
"Tolong antar Geo sekalian! Jalannya searah, kan?" ujar Nira. Cara inilah yang digunakan Nira untuk mendekatkan hubungan papa dan anak itu. Lumayanlah usaha Nira tak sia-sia karena Arka mulai berinteraksi dengan putranya walau hanya bertanya dari hal-hal kecil. Dulu memang Arka selalu menolak kalau diminta oleh mama Sovi untuk mengantar Geo, tapi sekarang Arka sudah sedikit berubah. Terhitung beberapa kali Arka mengantar Geo atas permintaan Nira. Jangan tanya bagaimana perasaan Geo, pasti sangat bahagia. Tak ada lagi teman yang mengolok-oloknya karena tak pernah diantar papanya.
"Geo, kau berangkat bersama papa. Nanti Tante menjemputmu. Sekalian kita..." Nira mengedipkan sebelah matanya pada anak sambungnya.
"Janji?" Geo terlihat sangat girang.
Sedangkan mereka tak tahu kalau ada seseorang yang tak suka saat Nira mengedipkan sebelah mata walaupun itu pada anaknya sendiri.
__ADS_1
"Gandengan dong!" goda Nira yang ikut berjalan di belakang Arka dan Geo, melihat keduanya berjalan hanya sendiri-sendiri. Nira mengantar sampai depan pintu utama dan melambaikan tangan saat mobil yang ditumpangi Arka mulai melaju.