
Beberapa jam kemudian, Nira telah duduk di kursi kebesaran sang suami. Ya, setelah pertemuannya dengan Mira, Nira dijemput paksa oleh Rey sesuai perintah Arka dan membawanya ke perusahaan milik sang suami.
"Sayang, jangan menatapku seperti itu." pinta Arka saat Nira terus menatapnya dengan wajah tak bersahabat. Bahkan saat dia keluar dari toilet pun lirikan mata istrinya masih mengikutinya.
"Aku sedang marah padamu!" ketus Nira.
"Jangan marah-marah, tidak baik untuk baby kita yang ada di dalam perutmu." ujar Arka sambil berjalan mendekat dan tangannya terulur mau mengelus perut istrinya, namun dengan cepat Nira menepisnya.
"Jangan sentuh aku!" sentak Nira. Dia masih terbayang dengan adegan dalam video yang diperlihatkan oleh kakaknya tadi. Dia juga belum percaya dengan semua penjelasan Arka kalau bukan dia pria di dalam video itu. Jangan tanyakan, karena pasti Arka tahu semua gerak-gerik istrinya. Arka selalu menyuruh orangnya untuk selalu mengikuti Nira secara diam-diam. Bahkan Arka juga tahu kalau ada adegan suap-suapan antara Nira dan dokter Rain. Kenapa Arka tahu kalau pria itu dokter Rain? Karena orang suruhannya mengirim foto padanya.
"Kau tunggu sebentar lagi! Semuanya akan jelas dan kau tidak akan meragukanku lagi." jelas Arka dengan raut wajah tak sabar karena menunggu kedatangan seseorang. Orang yang akan meluruskan permasalahannya.
"Tapi sebelum itu, aku butuh penjelasan." kata Arka yang kini balik menatap tajam istrinya yang sedang duduk di kursi kerjanya, sedangkan dia memilih duduk di meja kerja tepat di depan Nira.
Nira mengernyit bingung. Bukankah yang harusnya membutuhkan penjelasan itu dia? Kenapa sekarang Arka yang menuntut penjelasan darinya?
"Jangan membalikkan keadaan!" sahut Nira.
__ADS_1
"Walaupun aku tidak selalu ada di sampingmu, tapi aku selalu tahu apa yang kau lakukan." ujar Arka dan mampu membuat Nira susah payah menelan salivanya. Mungkin dia lupa siapa suaminya itu.
Tanpa banyak bicara, Arka menunjukkan sebuah foto yang memperlihatkan Nira sedang disuapi oleh dokter Rain. "Katanya tidak selera makan? Tapi kenapa kau makan lahap sekali? Bahkan tambah." selidik Arka.
"Emm itu,, itu,, keinginan baby kita. Kalau disuapi dokter Rain, aku jadi selera makan." jelas Nira dengan jujur.
"Maaf," lirih Nira dengan kepala menunduk.
"Untuk?" tanya Arka.
Arka menggeleng dengan cepat. "Tidak."
"Maka dari itu aku diam-diam bertemu dengan dokter Rain." sahut Nira.
"Itu hanya alasanmu saja!" ucap Arka dengan sinisnya. Dia marah dan cemburu saat tahu itu, tapi kalau Nira sudah bilang demi keinginan babynya, Arka sudah kehabisan kata.
"Tunggu! Kenapa jadi aku yang dipojokkan?" guman Nira. Dia lalu menepuk paha suaminya yang tepat ada di hadapannya. Plak..! "Hei..! Bukankah seharusnya aku yang marah padamu?" seru Nira pada Arka. Dan Arka pun jadi gelagapan mendengarnya.
__ADS_1
Arka mengalihkan pembicaraan dengan meraih gagang telepon di atas meja kerjanya. "Rey, kenapa belum datang orangnya?" tanya Arka tidak sabaran saat menghubungi Rey lewat sambungan telepon.
Nira hanya mencebikkan bibirnya saat melihat Arka meletakkan gagang telepon agak keras. Sebenarnya dia juga penasaran dengan Arka yang katanya akan memberikan bukti kalau pria di dalam video itu bukanlah dia.
Nira menyandarkan tubuhnya dan terlihat beberapa kali dia menguap.
"Kau mengantuk?" tanya Arka saat tidak sengaja melihat istrinya yang sedang menguap.
"Ya. Karena menunggu yang tidak ada kepastian ini membuatku melewatkan jam tidur siangku." jawab Nira karena memang semenjak hamil dia menjadi rutin tidur siang. Entah itu pembawaan bayi atau karena sekarang dia mudah lelah.
Arka hendak mengusap puncak kepala Nira, namun seperti tadi, penolakan yang ia dapat. Arka hanya bisa menghela nafasnya pelan. Sungguh susah menghadapi wanita yang sedang marah, apalagi keras kepala seperti Nira.
.
.
Ampun sayang-sayangku semua..ββ Othor lagi kena flu, jadi harus istirahat dulu. Alhamdulillah sekarang sudah sembuh. Semoga halu tingkat tinggi ini lancar terus...ππππ
__ADS_1