
Kini Fara dan Arka duduk di sofa sedang berbincang serius, melupakan seseorang yang sedang terbaring di ranjang pasien sambil terus mengumpat dalam hati.
"Apa dia makan atau minum sesuatu yang asam atau pedas berlebih?" Fara pasang wajah serius. "Soalnya tadi aku tanya, dia tak mau menjawabnya." jelas Fara. "Tapi kau tenang saja, aku sudah memberinya obat dan dua hari lagi dia bisa pulang." imbuh Fara.
"Dan jangan lupa, aku juga sudah memakaikan baju pasien pada tubuh polosnya itu." ejek Fara sambil tertawa terbahak-bahak.
"Fara kau sangat kurang ajar! Aku akan memindahkanmu ke rumah sakit paling pelosok!" ancam Arka dengan wajah kesalnya.
Fara mengusap air mata di sudut matanya karena efek tertawa terpingkal-pingkal.
"Aku tidak main-main dengan ucapanku, Fara!" seru Arka saat melihat Fara masih menahan tawanya. "Tidak ada yang lucu!"
"Aku tidak bisa membayangkan, kalian sedang bercinta, tiba-tiba wanitamu itu sakit." Fara kembali tertawa sambil memegangi perutnya yang terasa kram. Dia bisa menebaknya karena Nira hanya terbalutkan selimut dengan tubuh polos, sedangkan Arka dengan kemeja yang terlihat berantakan. "Lalu, bagimana nasib itu?" tanya Fara sambil melirik milik Arka lalu tertawa terbahak-bahak lagi.
Arka yang dari tadi mencoba bersabar, kini tak dapat membendungnya lagi. Dia menarik rambut Fara dan mengacak-acaknya sampai rambut itu tidak beraturan.
"Arka, lepaskan!" seru Fara sambil menahan tangan Arka.
__ADS_1
"Jangan harap!" balas Arka yang belum merasa puas menyiksa Fara sampai wanita itu memohon ampun padanya.
"Ish, kalian itu berisik sekali!" gerutu Nira saat dia hampir tertidur tapi terganggu oleh kegaduhan antara Arka dan Fara.
Nira yang sudah menutup telinganya dengan bantal nyatanya tetap bisa mendengarnya. Membuatnya mengintip dari balik selimut, apa yang sedang dua orang itu lakukan. Betapa jengkelnya saat dia lihat suaminya sedang mengacak-acak rambut dokter yang telah menanganinya. Bahkan dia saja belum pernah bercanda semesra itu dengan Arka.
Arka lalu bediri dan menghampiri Nira. Dia sampai lupa dengan istrinya itu. "Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Arka.
"Tidak!" ketus Nira. "Kau lanjutkan saja bermesraan dengan dokter itu! Jangan hiraukan aku!" ketus Nira lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Arka.
"Cih, mana mungkin aku cemburu. Jangan mimpi!" elak Nira. "Aku hanya terganggu karena kalian terlalu berisik." imbuhnya dengan berbohong.
"Sungguh? Tapi sepertinya kau sangat marah melihat kedekatanku dengan sepupuku itu." goda Arka dengan bibir yang hampir menyentuh telinga Nira dan membuatnya kegelian.
Nira yang mendengarnya lalu membalikan tubuhnya. "Ap,, apa kau bilang? Sepupu?" tanya Nira dan Arka menganggukkan kepalanya. Dan Nira pun tak menyangka, bisa-bisanya dia cemburu pada sapupunya Arka. Karena memang dia belum banyak tahu tentang seluk-beluk kaluarga Arka, jadi membuatnya salah paham dan itu salah Arka sendiri yang tidak mengenalkannya.
"Sekarang, katakan padaku! Kau tadi makan atau minum apa?" tanya Arka sambil mendekatkan wajahnya.
__ADS_1
"Aku,,," ucapannya terhenti saat wajahnya begitu dekat dengan Arka. Saling diam dan saling tatap, menikmati keindahan mata masing-masing. Sampai mereka tak menyadari kalau ada orang yang sedang berdiri di tengah pintu, memperhatikan keduanya.
"Ehem,, ehemm."
Arka langsung duduk tegak dan mereka menatap secara bersamaan pada satu sosok yang datang di saat tak tepat.
"Kau.." Arka merasa kesal karena orang itu adalah Rey.
"Maaf, mengganggu." ucap Rey lalu pandangannya beralih pada wanita yang tengah berbaring di ranjang pasien dengan jarum infus yang menancap di punggung tangan. Untunglah dia tadi sempat mengulik informasi dari Fara yang ditemuinya di depan dengan rambut awut-awutan dan sekarang dia tahu alasan kenapa tuannya ada di rumah sakit ini.
"Nona, Anda kenapa?" tanya Rey yang sudah berada di samping Nira.
"Aku tidak apa-apa. Hanya masalah lambung saja." jawab Nira sambil tersenyum pada Rey.
"Jangan tersenyum padanya seperti itu! Dia itu pria yang tidak normal. Siapa-siapa disikat." jelas Arka dengan tatapan tajam mengarah pada Rey.
Arka menarik tangan Rey dan mengajaknya berjalan menuju pintu. "Ada yang mau aku bicarakan denganmu!" kata Arka lalu menutup pintu kamar, membawa Rey menjauh ke tempat yang sepi.
__ADS_1