
Kehebohan pun terjadi di rumah besar milik Arka, saat semua orang sibuk mencari keberadaan Nira. Tak terkecuali Arka yang seperti orang kesetanan dengan semua amarahnya yang ia sasarkan pada semua penghuni rumah.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan istriku, kalian akan aku pecat semua!" ancam Arka saat tidak menemukan Nira.
"Tuan, kenapa tidak lihat cctv?" tanya pak Rahmat dan seketika itu Arka merutuki kebodohannya. Karena rasa takut, khawatir dan panik yang menguasainya, membuatnya tak bisa berpikir jernih. Arka berlari ke dalam ruang kerjanya dan segera menyalakan laptopnya. Matanya terlihat sangat teliti menelisik setiap rekaman cctv yang terpasang di rumahnya.
"Sial!" umpat Arka saat melihat istrinya mengendap-endap keluar dari rumah. "Apa jangan-jangan Nira sudah melihat video itu dan dia pergi dari rumah ini?" tanyanya sendiri dan seketika perasaan takut kehilangan menggelayuti hatinya. Apa arti hidupnya kalau harus kehilangan istri tercintanya. Memang awal pernikahannya tidak dilandasi dengan cinta, tapi seiring berjalannya waktu, cinta itu semakin besar.
"Apa yang kalian kerjakan sampai tidak tahu kalau istriku diam-diam keluar rumah?" bentak Arka pada semua asisten rumah tangganya yang juga ikut masuk ke dalam ruang kerjanya karena ikut mengkawatirkan nonanya, tak terkecuali pak Rahmat.
__ADS_1
"Maaf, Tuan." jawab mereka dengan serempak sambil menundukkan kepala. Mereka tidak berani menatap mata tuannya yang sedang menatap mereka sangat tajam.
Arka menghirup nafas dalam-dalam, dia harus tetap fokus agar akal sehatnya tetap berfungsi untuk bisa menemukan keberadaan Nira. Dengan menjentikkan jarinya, Arka memberi isyarat agar semuanya keluar dari ruang kerjanya.
"Sayang, kau dimana? Jangan tinggalkan aku." ucap Arka dengan mata terpejam.
Arka kembali duduk tegak, satu-satunya yang akan memberi petunjuk adalah cctv yang terpasang di luar rumah. Dia melihat Nira berlari kecil menuju sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari gerbang rumahnya dan masuk ke dalam mobil itu.
"Fara?" Arka menautkan kedua alisnya. "Untuk apa dia membawa pergi Nira?" tanyanya bingung, karena setahunya hubungan Fara dan Nira tidak sedekat itu dan hanya sebatas dokter dan pasien. Ya, mobil yang membawa Nira adalah mobil milik Fara.
__ADS_1
"Apa ada kabar tentang Nona Nira, Tuan?" tanya pak Rahmat yang masih setia menemani tuannya.
"Ya, dia bersama Fara." jawab Arka sambil mengotak-atik ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang.
"Halo, Rey. Kau cari keberadaan Fara sekarang! Kirimkan padaku lokasinya!" perintah Arka saat sambungan telefon terhubung. Belum sempat Rey menjawab, Arka sudah mematikan sambungan telefon secara sepihak, membuat Rey yang masih berada di kantor hanya bisa mengusap dadanya sambil geleng-geleng kepala.
"Dasar atasan sableng!" umpat Rey sambil menatap layar ponselnya. Tugas untuk memberi perhitungan pada Mira saja belum dia laksanakan, sekarang sudah menyuruhnya mencari Fara yang dia sendiri juga tidak tahu dimana Fara berada. Kota ini sangat luas, harus mulai dari mana dia mencarinya. Bukan Rey namanya kalau tidak bisa menemukannya. Rey segera menyuruh anak buahnya untuk melacak keberadaan Fara setelah memastikan wanita itu tidak ada di rumah sakit.
"Kenapa Rey lama sekali? Apa yang dia kerjakan?" gerutu Arka saat dia sudah menunggu hampir dua puluh menit lamanya. Dia mencoba menelfon Rey, tapi sepertinya ponsel itu dimatikan oleh pemiliknya. "Asisten kurang ajar! Bisa-bisanya ponselnya mati!"
__ADS_1
Tak selang berapa lama, Arka bangkit dari duduknya setelah mendapatkan pesan dari Rey, lokasi Fara sekarang berada. "Aku mau menjemput Nira dulu, Pak Rahmat." pamit Arka dan setidaknya membuat pak Rahmat lega karena nonanya dalam keadaan baik-baik saja. Bisa-bisa semua penghuni rumah digantung oleh tuannya kalau terjadi sesuatu dengan nonanya mengingat ada Arka junior di dalam perut nonanya.