
Beberapa hari kemudian, setelah tanpa seijin Arka, Nira pergi ke rumah orang tuanya, sampai detik ini suaminya itu masih mendiamkannya. Tak pernah menegurnya, bahkan menatapnya sekilas saja tidak pernah.
"Arka, apa kau masih marah? Aku kan sudah minta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi." kata Nira di sela-sela sarapan pagi mereka. Entah kenapa Nira merasa ada yang hilang ketika dia didiamkan oleh suaminya.
Nira menatap Arka yang tak menjawabnya. Pria itu bungkam sambil mengunyah sarapan paginya. Sampai setelah suapan terakhirnya, Arka lalu meneguk segelas susu kemudian menyambar jasnya dan meninggalkan Nira yang masih duduk tanpa berucap sepatah kata pun.
"Arka,," Nira memanggil Arka lalu mengejarnya. "Tunggu!" Nira menghadang Arka sambil merentangkan kedua tangannya tepat di depan tubuh tegap pria yang menyandang status suaminya itu.
Arka menghindari Nira dengan mencoba menerobos dari samping kanan tapi diikuti oleh Nira dan dari kiri juga diikuti oleh Nira lagi membuat Arka sangat kesal.
"Aku tidak akan memberi jalan sampai kau memaafkanku!" ancam Nira.
"Terserah kau saja!" balas Arka sambil dengan mudahnya dia menggeser tubuh Nira agar menyingkir dari hadapannya.
Arka masuk ke dalam mobilnya dan tiba-tiba dari pintu samping, masuklah Nira yang tak putus asa terus mengejarnya demi sebuah kata maaf dari suaminya.
Sedangkan Rey yang duduk di depan, merasa sangat jengah dengan segala drama pasangan yang duduk di belakangnya.
Cih! Anda sok gaya tidak mau memaafkan Nona Nira. Sok jual mahal! ejek Rey dari dalam hatinya.
__ADS_1
Dia ingat saat tuannya itu tiba di kantor, selalu saja memanggilnya untuk dijadikan teman curhat atau bahkan seorang pendengar setia. Arka selalu bercerita kalau dia sedang memberi pelajaran untuk Nira. Dan Arka juga sangat bangga saat Nira setiap hari selalu mengejar-ngejarnya. Tanpa Arka tahu, Rey selalu menyumbat telinganya menggunakan kapas karena setiap hari yang harus ia dengar hanya itu-itu saja.
Kembali lagi pada sepasang suami istri ini. "Arka, ini terakhir kalinya aku minta maaf padamu. Kau mau memaafkanku atau tidak?" tanya Nira, entah sudah keberapa ratus kali dia mengucapkan kata maaf pada Arka.
"Ya sudah kalau tidak mau memaafkanku!" ketus Nira lalu keluar dari mobil sambil menutup pintu itu dengan kasar. Dia lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Kesabarannya sudah habis, meladeni Arka yang seperti anak kecil. Tadinya dia memang sangat merasa bersalah. Tapi dirasa-rasa, Arka semakin sok jual mahal.
Arka menatap punggung Nira yang sudah tak terlihat lagi. "Rey, yang seharusnya marah itu aku, kenapa sekarang jadi Nira? Apa dia sudah tidak waras?" tanya Arka heran sambil memijat sebelah pelipisnya.
Rey hanya menggelengkan kepalanya. "Yang tidak waras itu Anda, Tuan." jawab Rey. "Eits, jangan marah dulu, Tuan!" sela Rey saat tahu tuannya sudah mengepalkan tangan ke arahnya. "Tahan emosi Anda! Jangan sampai Anda cepat tua gara-gara mudah sekali marah-marah! Anda mau dikira kakeknya Nona Nira?" tanya Rey dengan kata-kata penuh ejekan di dalamnya.
"Kau minus berapa?" tanya Arka.
"Coba kau cek lagi! Aku sepertinya ragu." kata Arka.
"Masa sih? Dari mana Tuan tahu kalau mataku minus?" tanya Rey.
"Saat kau bilang aku tua dan saat kau bilang aku seperti kakeknya Nira. Sudah sangat jelas kalau matamu itu tidak normal dan sangatlah bermasalah" jawab Arka. "Lihat aku!" perintah Arka dan Rey pun menoleh ke belakang. "Aku yang setampan ini kau bilang tua? Perhatikan lagi!" kata Arka dengan tingkat rasa percaya diri yang sangat tinggi.
Mulai, mulai narsisnya. Seandainya Nona Nira itu tahu suaminya sangatlah narsis. Apa dia masih mau menjadi istri Tuan Arka? Batin Rey lalu memutar kepalanya ke depan. Menurutnya, semenjak tuannya menikah dengan nona Nira, rasa tingkat kepercayaan dirinya naik drastis. Tak lagi seperti Arka yang dulu, berwibawa, berkharisma, cool.
__ADS_1
________
Sore harinya,
Nira baru saja pulang dari sebuah mall ternama. Dia memang keluar untuk menghilangkan rasa suntuknya yang harus seharian berada di rumah dan memutuskan untuk berbelanja.
Saat berhenti di lampu merah, Nira menatap keluar jendela dan melihat sebuah mobil yang sangat ia kenali.
"Pak, ikuti mobil itu!" perintah Nira.
"Baik, Nona." jawab pak sopir.
Dan setelah membuntuti selama sepuluh menit, berhentilah mobil yang ia ikuti di depan sebuah lobi hotel. Nira membuka sedikit kaca jendela dan menajamkan penglihatannya. Betapa terkejutnya saat dia melihat dua orang yang keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam hotel dengan si wanita menggandeng mesra lengan si pria.
"Jalan, Pak!" perintah Nira sambil mencoba menahan rasa sesak di dadanya dan berbagai macam pertanyaan yang ada di pikirannya.
.
.
__ADS_1
Hayo tebak, siapa yang dilihat Nira masuk ke dalam hotel? Yuk main tebak-tebakan!