
"Naura, maaf ya, tadi aku hanya bercanda. Kamu tidak menganggapnya serius kan?"
Naura terhenyak dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Kendrick. Akan tetapi, dia berusaha untuk bersikap biasa, tidak menunjukkan kalau dirinya kecewa.
"Iya, tidak apa-apa. Aku tahu kok kalau kamu itu bercanda. Ya udah, kalau gitu aku pamit ke kas dulu ya," ucap Naura yang langsung berlalu begitu Kendrick menganggukkan kepalanya.
Setelah agak jauh dari Kendrick, cairan bening sebening kristal, tanpa permisi, keluar dari sudut matanya dan buru-buru dia seka.
Tidak jauh berbeda dengan Naura, Kendrick juga melangkah menuju kelasnya dengan perasaan yang campur aduk. Benar-benar merasa seperti seorang laki-laki brengsek, yang suka mempermainkan perasaan wanita.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap Kendrick dengan tatapan kesal, dan beralih menatap ke arah Naura dengan tatapan 'kasihan'.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Naura terlihat melamun di depan sebuah rak yang berisi bumbu-bumbu dari Indonesia. Wanita itu terlihat kebingungan hendak membeli apa, padahal sebelum masuk ke dalam oriental grocery itu, dia sudah mengingat list yang akan dia beli.
"Aku kenapa sih? kenapa aku bisa lupa?". Naura menggerutu tidak jelas.
"Kenapa aku jadi begini? apa hanya karena seorang Kendrick aku bisa begini? benar-benar menyebalkan!" lagi-lagi Naura menggerutu, merutuki dirinya sendiri.
"Eh, Nak Naura, kamu belanja juga?" tiba-tiba Dewi mama pria yang sedang dia pikirkan itu, muncul, hingga Naura terjengkit kaget
"Aduh,maaf, kamu kaget ya?" raut wajah Dewi berubah merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, Tante!" Naura yang sudah berhasil meredakan rasa kegetnya, menyelipkan sebuah senyuman manis.
"Kamu kenapa melamun? kamu lagi ada masalah ya? kalau kamu punya masalah, coba kamu ceritakan pada Tante, mana tahu Tante bisa membantu," Dewi tersenyum tulus ke arah Naura.
"Masalahku itu, anak Tante,"ucap Naura yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati saja.
"Kenapa kamu diam, Nak Naura? apa kamu tidak mau Tante tahu masalahmu? kalaupun tidak mau, ya tidak apa-apa. Tante tidak akan memaksamu," ujar Dewi lagi, begitu melihat ekspresi Naura yang seakan enggan untuk mengungkapkan permasalahannya.
"Aku sama sekali tidak ada masalah, Tante. Kalaupun ada masalah, aku pasti akan cerita ke Tante," sahut Naura akhirnya.
"Oh, jadi kamu kenapa melamun?"
"Aku hanya berusaha mengingat bahan apa yang hendak aku beli. Aku benar-benar lupa, padahal sebelum ke sini aku sudah mengingatnya di kepalaku," sahut Naura yang sepenuhnya tidak bohong.
"Astaga, masih muda sudah pelupa. Kamu banyak mendapat tugas kampus ya makanya lupa?" tukas Dewi sembari terkekeh.
"Sepertinya iya, Tante," Naura ikut terkekeh.
"Ya udah beli aja yang kamu mau, walaupun belum terlalu kamu butuhkan. Suatu saat pasti butuh kan? nanti biar Tante yang bayar, itung-itung kita gantian,"
__ADS_1
"Tapi, Tante ...."
"Tidak ada tapi-tapi! ayo beli yang kamu mau!"tegas Dewi, tidak terbantahkan.
Mau tidak mau akhirnya Naura membeli yang ingin dia beli.
Dewi yang tahu kalau Naura terlihat sangat enggan, ikut memasukkan bahan-bahan makanan ke troli milik Naura.
Tidak memerlukan waktu yang lama, troly milik Naura sudah mulai penuh dan Naura sudah berkata cukup. Dua wanita berbeda usia itu akhirnya melangkah ke kasir dan seperti yang dijanjikan Dewi, wanita itu membayar barang belanjaan Naura.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kendrick menepikan mobilnya di depan rumahnya dan langsung turun. Kemudian, dia melangkah masuk dengan gontai. Sumpah demi apapun dia masih merasa bersalah atas sikapnya tadi di kampus pada Naura.
Kendrick melangkah melewati Victor papanya, begitu saja, tanpa menyapa pria setengah baya itu sama sekali. Panggilan Victor pun tidak diindahkannya karena bayangan wajah Naura seperti menari-nari di benaknya. Jauh di lubuk hatinya, Kendrick tidak bisa memungkiri kalau sebenarnya dirinya pun kecewa melihat rekasi Naura yang tidak marah, dan bahkan mengatakan kalau dia tahu, bahwa dirinya sedang bercanda.
Kendrick menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan mata yang menerawang ke atas langit-langit kamar.
"Kendrick! kamu dengar kalau papa memanggilmu tadi gak sih?" tiba-tiba Victor sudah berdiri di pintu dengan tangan yang bersedekap di dada.
Kendrick terlonjak kaget dan langsung bangkit berdiri dari tempat tidurnya.
"Maaf, Pah! tadi Kendrick tidak melihat dan mendengar panggilan, Papah." sahut Kendrick seraya mendaratkan kembali tubuhnya duduk di atas ranjang.
"Kamu tadi benar-benar sudah kelewatan, Ken," imbuh Victor kembali.
"Maksud Papa apa? sikap yang bagaimana maksud, Papa?" Kendrick menatap papanya dengan alis yang bertaut.
"Kamu pasti tahu kan, kalau papa tadi ke kampusmu? Edward pasti memberitahukanmu,"
"Oh iya. Terima kasih, Pah tadi sudah mengantarkan tugasku."
"Bukan itu maksud, papa. Tadi papa lihat apa yang kamu lakukan pada Naura. Awalnya papa sangat senang ketika kamu berbicara tegas pada Jane dan ketika kamu mengatakan kalau kamu secara resmi mau menjadikan Naura kekasihmu, tapi kenapa kamu tega Ken, mengatakan kalau kamu hanya bercanda? hah!"
"Karena aku memang tidak bersungguh-sungguh, Pah. Aku tidak mencintainya sama sekali," ucap Kendrick berusaha terlihat santai.
Victor berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu bohong! papa yakin kalau sebenarnya kamu sudah jatuh cinta pada Naura. Benarkan?" Victor tersenyum miring.
"Aku tidak berbohong! Aku benar-benar tidak __"
"Matamu tidak bisa berbohong, Ken. Kamu jangan menyangkalnya lagi. Kamu itu sudah jatuh cinta padanya," Victor menyela ucapan Kendrick yang hendak menyangkal perasaannya.
__ADS_1
"Pah, tolong jangan bahas masalah ini! aku yang tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya, bukan Papa," Kendrick masih berusaha untuk menyangkal
"Kenapa kamu berulangkali kali mau menyangkalnya, Ken? yang aku lihat, Naura juga sepertinya memiliki perasaan yang sama denganmu. Jangan nanti kamu menyesal setelah Naura bersama orang lain!"
Kendrick bergeming, tidak menjawab sama sekali.
"Kamu tahu, yang kamu lakukan tadi pada Naura itu sangat egois. Kamu tadi sempat membuat dia terbang, karena mau menjadikannya sebagai kekasih, tapi setelah itu, kamu hempaskan kembali. Bukannya itu egois, Ken?" Victor menyambung kembali ucapannya, karena melihat putranya yang terdiam.
"Lebih egois mana dari Papa?" celetuk Kendrick tiba-tiba, ambigu
Victor mengreyitkan keningnya, tidak mengerti dengan maksud pertanyaan putranya itu.
"Apa maksudmu? kenapa jadinya membicarakan, papa?"
"Apa papa tahu kenapa selama ini aku tidak pernah ingin memiliki pasangan wanita Indonesia? itu karena aku tidak mau egois seperti papa!" ucapan Kendrick semakin membuat pria paruh baya itu bingung.
"Papa semakin tidak mengerti. Apa maksud kamu, dengan mengatakan papa egois? di bagian mana papa egois?"
"Pah, tadi Papa mengatakan kalau aku sudah jatuh cinta pada Naura kan? oke,. aku mengakuinya, kalau aku memang sudah jatuh cinta padanya. Tapi kenapa aku lebih memilih untuk tidak mengakuinya, karena aku tidak ingin dia seperti mama." ucap Kendrick, Tegas.
"Aku tidak mau egois dengan tetap mempertahankannya, sampai-sampai memisahkan dia dengan keluarganya, seperti yang papa lakukan. Aku tidak mau seperti Papa yang selalu sedih bila melihat mama yang selalu menangis karena merindukan negara kelahirannya dan sialnya papa tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak mau jadi pria pecundang seperti Papa!" Kendrick diam untuk beberapa saat untuk mengatur napasnya.
"Aku tahu, kalau papa selama ini sedih kan? merasa seperti pecundang kan setiap melihat mama menangis? bayangkan, Pah, dari kecil aku berulang kali melihat kejadian mama menangis karena merindukan negara dan keluarganya. Aku juga melihat Papa yang juga menangis di tempat tersembunyi setelah melihat mama menangis. Bagaimana bisa aku mengulangi hal yang sama, Pah? Karena itulah aku bertekad untuk tidak memiliki pasangan wanita Indonesia. Aku mencintai Naura, Pah, tapi aku tidak ingin dia hidup seperti mama nantinya. Cinta itu buta, kata orang-orang. Tapi aku tidak ingin menjadikan slogan itu di dalam hatiku. Aku ingin mengganti slogan itu, menjadi Cinta itu tidak egois," tutur Kendrick panjang lebar, meluapkan semua isi hatinya, yang dia pendam selama ini. Alasan kenapa dirinya tidak ingin memiliki pasangan wanita Indonesia, walaupun wanita yang melahirkannya wanita Indonesia.
Victor bergeming, tergugu dengan ucapan demi ucapan yang terlontar dari mulut putranya itu. Dia tidak menyangka kalau apa yang dilihat Kendrick selama ini, terekam di dalam kepala putranya itu.
Victor mengembuskan napasnya dengan sedikit panjang dan berat.
"Ken, kamu sudah terlalu jauh jika kamu berpikiran seperti itu. Tidak semua mengalami hal yang sama, Nak. Banyak pria dari negara kita yang menikah dengan wanita Indonesia, dan semuanya baik-baik saja. Kamu jangan menyamaratakan semua karena melihat dari satu sisi saja. Tidak semua orang tua di Indonesia yang berpikiran seperti kakekmu. Dan aku rasa, Papanya Naura tidak seperti kakekmu karena __"
"Apanya yang tidak sama, Pah? bukannya papa Naura juga seorang panglima TNI, seperti kakek dulu?"
"Kamu jangan memotong pembicaraan Papa dulu! Asal kamu tahu, papanya Naura itu, walaupun seorang TNI, dia itu bijaksana. Dia lebih mementingkan kebahagiaan daripada kehormatan." Ucap Viktor. "Dulu, Bayu papanya Naura dijodohkan dengan mamamu oleh kakekmu. Bayu mencintai mamamu, tapi tidak dengan sebaliknya. Dia melihat kalau mamamu tidak mencintainya dan malah mencintai papa. Asal kamu tahu, papanya Nauralah yang membantu pernikahan papa dan mamamu. Dia berusaha membujuk kakekmu untuk merestui pernikahan papa dan mama. Namun, kakekmu yang merasa terhina, karena mamamu tidak mematuhi perintahnya murka dan tidak mau menerima permohonan papanya Naura," terang Victor dengan panjang lebar dan lugas. Kini gantian Kendrick yang tergugu dan speechless.
"Sebenarnya, papa sudah berulangkali berusaha mengajak mamamu untuk pulang ke Indonesia, tapi mama kamu selalu menolak, dengan alasan masih terpukul dengan ucapan kakekmu yang mengatakan kalau dia sudah tidak menganggap mamamu putrinya lagi. Ucapan itu, sampai sekarang ternyata masih terekam jelas di ingatan mama kamu."
Kendrick masih tetap terdiam, tidak tahu mau menjawab apalagi.
"Kamu pikirkan baik-baik. Sekarang lebih baik kamu istirahat dulu. Papa mau turun ke bawah lagi.
Tanpa mereka sadari, ada dua pasang telinga yang mendengar semua pembicaraan papa dan anak itu.
Tbc.
__ADS_1