
Jordan mengayunkan kakinya keluar dari area kafe, setelah Jane berlalu pergi dengan mobilnya.
Senyuman licik tidak pernah memudar dari bibir pria itu, ketika membayangkan hubungan Naura dan Kendrick yang menurutnya akan hancur sebentar lagi.
"Aku benar-benar sudah tidak sabar menunggu hal itu terjadi. Aku bisa bersama dengan Naura setelah itu," Jordan terkekeh ringan.
"Tuan Jordan, bisa kita bicara sebentar?"Jordan sontak menyurutkan langkahnya, begitu ada suara yang memanggil namanya.
Pria itu memutar tubuhnya, berbalik menoleh ke belakang. Pria itu mengrenyitkan keningnya, begitu melihat sosok perempuan yang berparas cantik, sedang tersenyum ke arahnya.
"Kamu memanggilku?" tanya Jordan memastikan.
"Iya, siapa lagi yang bernama Jordan, di sini kecuali kamu?" tanya wanita yang sama sekali tidak dikenal oleh Jordan.
"Tunggu dulu, bagaimana kamu tahu namaku? apa rasa kita pernah bertemu sebelumnya? aku sama sekali tidak mengenalmu," ucap Jordan dengan raut wajah curiga.
Lagi-lagi wanita misterius itu tersenyum ke arah Jordan.
"Kita memang belum pernah bertemu sebelumnya. Ini adalah pertemuan kita yang pertama kali. Masalah dari mana aku tahu namamu,aku mendengar tadi rekan kerjamu memanggil namamu dan dipertegas lagi, sewaktu kamu bicara dengan wanita yang bersamamu tadi," ucap wanita itu masih dengan senyum misteriusnya.
Jordan terlihat semakin kebingungan, sampai-sampai pria itu memicingkan matanya, menatap curiga pada sosok wanita cantik yang memiliki rambut pirang dan mata berwarna perak itu.
__ADS_1
"Jadi apa tujuanmu memanggilku? apa kamu ada urusan denganku?" tanya Jordan lagi.
"Tadinya sih tidak ada, dan aku awalnya tidak peduli dengan apa yang kalian bicarakan. Tapi, sepertinya demi kebaikanmu, aku harus memperingatkanmu, untuk tidak melakukan hal bodoh seperti yang kamu rencanakan dengan wanita tadi," ucap wanita itu yang membuat Jordan semakin bingung.
"Siapa kamu mau melarangku? apa kamu juga punya hubungan dengan pria brengsek itu?" raut wajah Jordan terlihat mulai memerah.
"Sebenarnya sih aku tidak memiliki hubungan dengan pria yang bernama Kendrick itu. Tapi aku cukup mengenalnya, karena dia sahabat dari orang yang aku kenal. Sepengetahuanku, dia pria baik dan tidak brengsek seperti yang kamu tuduhkan itu. Oh ya, kenalkan namaku Kathleen! kamu bisa memanggilku cukup dengan Kate saja," wanita yang ternyata Kathleen itu mengulurkan tangannya ke arah Jordan.
Ya, wanita cantik itu adalah Kathleen, wanita yang hampir dijodohkan dengan Edward. Wanita itu kebetulan tadi berada di kafe tempat Jordan bekerja. Awalnya wanita itu tidak peduli, dengan interaksi Jordan dengan wanita bernama Jane itu. Tapi, begitu melihat wajah wanita itu, dia langsung mengingat kalau wajah wanita itu tidak asing. Dia merasa pernah melihat wanita itu bersama dengan Kendrick sahabat Edward. Makanya ketika mendengar mereka menyebut nama Kendrick, Kathleen langsung yakin kalau Kendrick yang mereka bicarakan adalah Kendrick sahabatnya Edward. Akhirnya wanita itu penasaran dan mengikuti Jordan ke tempat keduanya janjian bertemu. Beruntungnya, Kathleen mendapat tempat duduk berdekatan dengan meja Jordan dan Jane, jadi dia bisa mendengar semua pembicaraan mereka berdua.
Jordan sama sekali tidak menyambut uluran tangan Kathleen. Wanita itu justru hanya menatap tangan wanita itu dengan tangan yang bersedekap di dada.
"Aku tidak butuh tahu namamu,dan tolong jangan campuri urusanku!" ucap Jordan sinis
Lagi-lagi Kathleen tersenyum tidak merasa sakit hati dengan nada bicara Jordan yang ketus.
"Tapi sayangnya, orang yang ingin kalian jebak itu adalah sahabat dari orang yang sangat aku kenal dan mantan tunanganku. Jadi aku merasa kalau aku tidak boleh membiarkan rencana busuk kalian berdua berhasil. Kamu kenal Edward kan? dia mantan tunanganku,"
Mata Jordan membesar, terkesiap kaget mendengar ucapan wanita di depannya yang benar-benar terlihat santai.
"Aku sudah merekam semua pembicaraan kalian berdua di handphone ini.Jadi, saranku lebih baik kamu mengurungkan niatmu itu, karena itu akan merugikan dirimu sendiri," Kathleen mengacungkan ponselnya di depan wajah Jordan.
__ADS_1
Jordan tidak ingin melepaskan kesempatan. Pria itu dengan cepat merampas handphone itu dari tangan Kathleen.
"Handphone ini sudah ada di tanganku. Jadi kamu tidak akan punya bukti lagi," Jordan tersenyum, merasa menang.
Kathleen terkekeh, membuat Jordan kebingungan. "Kenapa kamu tertawa?" tanya Jordan dengan ekspresi tidak suka.
Kathleen mengembuskan napasnya dan tersenyum kembali.
"Kamu kira aku bodoh? aku sudah bisa memprediksikan kalau hal ini pasti akan terjadi. Karena aku tahu kalau kamu merebut paksa handphone itu, aku tidak akan sanggup melawanmu. Makanya, aku lebih dulu mengirimkan rekamannya ke ponselku yang aku tinggalkan di rumah. Jadi, kamu hapus yang di ponsel itu, aku masih tetap memilikinya,"
"Sialan!" umpat Jordan, tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Tuan Jordan, jangan melakukan suatu hal yang bisa merugikanmu. Kamu akan sangat-sangat menyesal. Seandainya kamu dan wanita tadi berhasil melakukan rencana kalian berdua, apa kamu yakin kalau Naura akan tetap mau bersamamu? dan selain keberhasilan rencanamu, kamu juga harus memikirkan resiko jika rencanamu dan wanita itu tidak berhasil. Kamu bisa-bisa akan kehilangan semuanya. Bea siswa yang kamu usahakan dengan kerja keras bisa hilang karena perbuatan kamu itu. Dan sebagai akibatnya kamu tidak bisa melanjutkan kuliah dan pastinya akan berpengaruh ke masa depanmu. Aku yakin kalau kamu ingin membanggakan kedua orang tuamu dengan keberhasilanmu kan? kalau kamu bertindak bodoh seperti ini, jangankan bisa membuat mereka bangga, kamu justru akan membuat mereka malu, dan sedih. Apa kamu mau seperti itu?" tutur Kathleen panjang lebar dan diplomatis, hingga membuat Jordan tidak bisa berkata-kata lagi.
"Tuan Jordan, tidak ada yang bisa menjamin kalau Naura akan mau bersamamu, kalau rencana kalian berdua berhasil, tapi bisa dipastikan kalau masa depanmu akan hancur, kedua orang tuamu akan selamanya hidup dengan rasa malu kalau perbuatanmu ketahuan. Karena setiap tindakan jahat itu tidak selamanya bisa disembunyikan. Cepat atau lambat, pasti akan terbongkar juga, dan begitu terbongkar akibatnya bisa lebih buruk. Jadi, sebaiknya kamu pikirkan baik-baik, ucapanku ini!" pungkas Kathleen sembari berbalik hendak melangkah pergi meninggalkan Jordan yang mematung.
Belum terlalu jauh melangkah, Kathleen kembali memutar tubuhnya dan menatap Jordan kembali.
"Tuan Jordan, aku juga mau mengatakan jangan memaksakan cinta apalagi sampai melakukan cara busuk untuk mendapatkan cinta itu. Karena itu tidak akan pernah berhasil. Kalau kamu benar-benar mencintai Naura, seharusnya kamu bahagia melihat orang yang kamu cintai bahagia, walaupun itu tidak bersamamu. Itulah rasa cinta yang sebenarnya. Lain dari itu adalah obsesi," ucap Kathleen lagi, sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Jordan yang diam mematung.
Tbc
__ADS_1