
Liburan musim panas atau yang sering disebut summer holiday, yang ditunggu-tunggu pun tiba. 6 orang yang 4 di antaranya adalah pasangan kekasih dan dua di antaranya, masih abu-abu, sudah berada di dalam pesawat menuju Negara Indonesia.
Di antara ke enam orang itu, hanya Kendrick yang merasa tidak tenang, karena selain akan bertemu dengan orangtuanya Naura, dia akan dipertemukan oleh Naura dengan kakek dan neneknya.
Naura sudah berjanji, akan menutupi identitasnya yang merupakan anak dari Dewi, putri mereka yang sudah dianggap tiada.
Naura tampak sudah tertidur dengan kepala yang menyender di bahu Kendrick, sedangkan jari-jarinya bertaut erat dengan jari-jari sang kekasih. Hal yang sama juga terjadi pada pasangan Edward dan Chika, berbanding terbalik dengan dua orang yang duduk di belakang kedua pasangan itu. Siapa lagi mereka kalau bukan Tasya dan David.
"Kenapa kamu tidak tidur?" David mulai membuka suara, ketika melihat gadis di sampingnya, terlihat sedang menahan kantuknya.
"Emm, aku khawatir kalau nanti aku tertidur aku bisa tidak sadar tertidur di bahumu. Aku kan jadi tidak merasa enak nanti," Tasya mengemukakan alasannya.
"Kenapa kamu merasa tidak enak? Tidak apa-apa kok kalau seandainya kepalamu tanpa sengaja jatuh ke bahuku," David mengulum senyumnya. "Justru itu yang aku inginkan, Tas," ucap David kembali tapi sayangnya hanya bisa diucapkan dalam hati saja.
"Tidurlah! soalnya perjalanan kita masih akan lama," sambung David kembali, membuat Tasya seketika terkekeh.
"Baiklah! tapi kamu juga harus tidur, karena perjalanan kita masih jauh,"
David tersenyum dan menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
"Kamu tidur saja dulu! aku sama sekali belum ngantuk. Kalau aku mengantuk, nanti pasti akan tidur juga." ujar David sambil meraih buku yang bisa dibaca, dari kantung kursi di depannya.
"Baiklah, good night, David!" pungkas Tasya sambil memejamkan matanya.
"Good night, Tasya!" balas David, pelan. Terlihat Tasya tersenyum dengan mata yang terpejam.
Karena memang sudah sangat ngantuk, tanpa menunggu lama, Tasya benar-benar sudah terlelap dan itu terlihat dari napasnya yang sudah teratur.
David meletakkan kembali buku yang dijadikannya alasan untuk tidak tidur. Pria itu kemudian menatap wajah Tasya yang terlihat sangat damai. Ya, inilah tujuannya tidak mau tidur sebelum Tasya tidur. Dia ingin sekali bisa melihat wajah Tasya dari dekat sampai puas.
"Kalau kamu nanti jadi istriku, inilah pemandangan yang akan menjadi favorit bagiku. Bisa memandangmu, wajahmu sebelum tidur, ketika tidur dan bangun tidur," gumam David dengan lirih. David kemudian mengedarkan tatapannya ke sekeliling, untuk memastikan apakah ada orang yang melihat apa yang ingin dia lakukan pada Tasya. Setelah dirasa aman, David dengan perlahan, mendaratkan bibirnya ke kening Tasya dengan lembut.
"Good night sweet heart!" bisiknya
__ADS_1
Kemudian, dengan perlahan dia memindahkan kepala Tasya, ke bahunya, dan Tasya sama sekali tidak terusik dengan apa yang dilakukan oleh David.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Setelah berada di udara, selama 16 jam lebih, kini pesawat yang menerbangkan ke enam orang itu dari London, akhirnya mendarat dengan sempurna di Bandara internasional Soekarno Hatta.
"Indonesia, we are back!" seru Naura ketika mereka sudah berada di luar Bandara dan menunggu jemputan.
"Welcome to Indonesia, Ken!" tiba-tiba terdengar suara dari arah yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Ken dan yang lainnya, sontak melihat ke arah datangnya suara. Tampak seorang wanita cantik dan elegan sedang tersenyum ke arah mereka.
"Hey, Kak Kimberly! sejak kapan kakak ada di sini?" Ken langsung memeluk wanita itu yang ternyata kakak perempuannya, Ken.
"Kakak sudah ada di sini sejak kalian keluar dari dalam sana. Kamu sama sekali tidak melihat kakak, karena ada wanita yang lebih cantik dari kakak, di sampingmu," goda Kimberly dengan ekor mata yang melirik ke arah Naura.
Naura yang merasa sedang dibicarakan, menundukkan kepalanya dengan wajah yang memerah.
"Oh, dia ini Naura, kekasihku, Kak!" Kendrick langsung berinisiatif memperkenalkan, Naura.
"Hai, juga Naura! aku Kimberly, kakaknya Ken. Sebenarnya aku, sudah tahu hubungan kalian berdua dari mama. Aku tidak menyangka, kalau adikku yang dulunya berprinsip tidak mau dengan wanita Indonesia, bisa berubah pikiran. Sekarang aku tahu kenapa Ken, bisa berubah pikiran, wanitanya secantik ini, siapa yang bisa menolak?" goda Kimberly membuat Kendrick cengengesan dan Naura kembali tersipu.
"Kata, mama Dewi, kamu ini anaknya Pak Bayu Pratama, panglima TNI. Apa itu benar?"
Naura menganggukkan kepalanya, membenarkan.
"Wah, hebat kamu Ken! bisa mengikuti jejak papa. Tapi, aku yakin kalau sejarah tentang mama tidak akan terulang. Mama sudah menjelaskan semuanya,"
"Kak Kimberly, apa kamu melupakan kami?" celetuk David. Kalau pada umumnya orang-orang di London memanggil nama yang lebih tua merupakan hal yang biasa. Tapi, David dan Edward sudah terbiasa memanggil Kimberly dengan sebutan kakak, mengikuti bagaimana cara Kendrick memanggil wanita itu.
"Tentu saja, aku tidak melupakan kalian berdua," Kimberly tersenyum ke arah dua sahabat adiknya itu.
"Kalian berdua bawa uang yang banyak kan ke sini? aku tidak mau kalian meminta uangku nanti," ucap Kimberly, bercanda. Dia sudah tahu, tidak mungkin kedua pria itu tidak membawa uang, karena orang tua kedua pria itu bukanlah orang biasa di London.
__ADS_1
"Oh my God. Aku benar-benar tidak bawa uang ke sini, Kak. Aku pinjam uangmu dulu! nanti setelah kembali ke London, aku bayar." David menimpali candaan Kimberly.
"Aku juga sama, Kak!" celetuk Edward, buka suara.
" Boleh! tapi bayarnya tiga kali lipat." Jawab Kimberly yang ditanggapi dengan kekehan dari David dan Edward.
"Siapa dua gadis ini? apa kalian tidak punya niat untuk mengenalkan pada kakak?" tanya Kimberly lagi, dengan mata yang melirik ke arah Chika dan Tasya.
"Oh, Ini Chika, Kak! dia ini kekasihku," Edward memperkenalkan Chika, yang langsung mengulurkan tangannya ke arah Kimberly.
"Hai Kak, aku Tasya!" Tasya juga langsung memperkenalkan dirinya.
"Oh, hai Tasya! apa kamu juga, pasangan David?
"Bukan, Kak! Aku dan David hanya berteman," sahut Tasya seadanya dengan senyuman manis yang terbit dari bibirnya.
David tersenyum tipis dan terlihat kalau pria itu tidak tulus dengan senyumannya. Ada rasa kecewa yang muncul , begitu mendengar Tasya yang menyangkal kalau mereka bukan sepasang kekasih. Yang sialnya benar."
"Oh, aku kirain kekasih David, maaf!" ujar Kimberly dengan ekor mata yang melirik ke arah David. Dari apa yang dia lihat, Kimberly dapat menebak Kalau David menyukai wanita yang bernama Tasya itu.
"Tidak apa-apa, Kak! santai aja. Jawab Tasya, membalas senyuman Kimberly.
"Ya udah, sekarang sebaiknya kita pergi dari sini. Kalian bertiga apa ada yang akan menjemput?" Kimberly, mengalihkan pembicaraan.
"Ada, Kak. Dan sepertinya, jemputannya sudah datang." sahut Naura dengan tangan yang menunjuk ke arah mobil berwarna biru tua.
"Ok, kalau begitu kita berpisah di sini dulu. Besok aku akan antarkan mereka bertiga, ke rumah kalian masing-masing, atau kalian yang datang ke rumahku. Ini alamatnya," pungkas Kimberly sambil menyerahkan sebuah kartu nama ke tangan Naura.
Naura, Chika dan Tasya, menganggukkan kepala dan berjalan menuju mobil jemputan. Akan tetapi sebelumnya mereka tentu saja pamit dulu pada kekasih mereka.
Sementara itu David menatap kepergian Tasya sampai tubuh gadis itu hilang dari pandangan matanya, karena sudah berada di dalam mobil.
"Apa kamu menyukainya? kalau Iya, bekerja keraslah. Jangan menyerah!" bisik Kimberly tiba-tiba tepat di telinga David.
__ADS_1
Tbc