
Tasya dan Chika tampak terlihat lelah setelah mengelilingi Tamini yang sepertinya tidak berujung. Kelelahan itu sama sekali tidak terlihat di wajah dua pria bule yang merupakan kekasih mereka. Justru kedua pria itu terlihat semakin antusias dan tampak jelas kekaguman keduanya melihat Indonesia versi mini. Dari tadi mereka berdua tidak berhenti bertanya. Chika dan Tasyapun menjawabnya sebisa mereka.
"Kita makan siang di mana? aku sudah lapar," Edward buka suara sembari memegang perutnya.
"Yang jelas kita tidak akan makan-makanan pedas lagi. Aku tidak mau kalian berdua kena diare seperti tadi malam," sahut Chika yang dibalas kekehan dari dua pria Inggris itu.
Ya, akibat dari kebanyakan makan sambal tadi malam, dua pria itu harus bolak-balik ke toilet karena terkena diare. Dan yang paling menyebalkan buat mereka berdua, Kimberly Kakaknya Kendrick, memaksa mereka berdua untuk memakan pucuk daun jambu biji, yang kalau di ingat rasanya masih membuat dua pria itu meringis. Selain itu, Kimberly dengan santainya memaksa mereka untuk mengkonsumsi obat yang hanya dibeli dari sebuah toko kecil, yang berarti tanpa resep dokter. Tapi, anehnya obat itu manjur menghentikan diare mereka berdua.
Jadi, kita akan makan di mana?" David buka suara.
"Kita ke green teracce Tamini aja. Di sana ada jual Pizza. Kita makan pizza saja," kali ini Tasya yang buka suara.
Setelah didapat kesepakatan, dua pasangan itu akhirnya beranjak menuju tempat yang dikatakan oleh Tasya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang aku mau ke toilet dulu ya! kamu duduk saja dengan mereka," ucap Chika meminta izin pada sang kekasih.
"Aku ikut kamu! Aku juga dari tadi ingin ke toilet," sahut Edward.
"Ya udah. Ayo aku tunjukkan dulu di mana toilet prianya baru aku ke toilet wanita," ucap Chika sembari melangkah. Namun, wanita itu tiba-tiba berbalik kembali dan menoleh ke arah Tasya.
"Tasya, bantu pesanin ke kami ya! pesan saja yang sama seperti kalian berdua,"
Tasya tersenyum dan menjawab oke.
Di saat Tasya dan David menunggu pesanan mereka, mereka berduapun asik bercengkrama dan bercanda tawa. Terlihat kalau dua itu yang baru saja menjadi pasangan kekasih itu sangat bahagia.
__ADS_1
"Wah pulang-pulang dari luar negri ternyata kamu membawa seorang pria ya?" tiba-tiba tiga orang wanita menghampiri meja Tasya dan David.
"Emangnya ada maslahat denganmu?" sahut Tasya, dingin setelah mengetahui wanita yang menyapanya itu Risa, musuh bebuyutannya di SMA.
"Nggak ada sih, cuma aku nggak menyangka aja, wanita yang sok suci, ternyata kelakuannya seperti ini," Risa tersenyum sinis.
"Emangnya kamu melihat apa? apa ada sesuatu yang buruk aku lakukan? pakaianku sopan kan? dan aku tidak melakukan tindakan asusila di sini," sahut Tasya. Sementara David terlihat mengrenyitkan keningnya, bingung apa yang dibicarakan oleh Tasya dan wanita yang bernama Risa itu. Tapi dari ekspresi Tasya dan wanita itu, David bisa menyimpan hubungan Tasya dan wanita itu tidak baik-baik saja.
"Ya, mungkin di sini bisa saja kamu tidak melakukan apapun. Tapi, siapa tahu kan di luar negeri sana, kamu sudah melakukan lebih. Iya nggak,Guys?" Risa meminta dukungan dari dua temannya dan dua temannya itu mengangguk, mengiyakan.
"Emm, mulutmu sepertinya rindu aku cabein. Asal kamu tahu,aku selalu sedia stok cabai di tasku. Apa kamu mau?" sudut bibir Tasya, tersenyum miring.
Risa sontak mundur. Karena tiba-tiba dia mengingat, terakhir kalinya mereka bertemu Tasya melumuri cabe ke mulutnya. Tentu saja rasa panas di mulutnya tidak pernah terlupakan oleh wanita itu.
Namun, wanita itu tiba-tiba maju kembali dengan wajah menantang. Dia merasa kalau Tasya hanya menggertaknya saja.
"Apa kamu sedang membicarakan dirimu sendiri?" tiba-tiba Chika sudah muncul dan berdiri tepat di belakang Risa.
Risa sontak menoleh ke belakang dan terkesiap kaget melihat Chika yang menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam. Bukan itu saja Risa juga kaget melihat sosok pria yang tidak kalah tampan dari yang duduk bersama dengan Tasya.
"Wah, ternyata dua wanita murahan sedang kumpul. Yang satu lagi di mana ya? pasti dia juga sama seperti kalian berdua. Kasihan sekali Jordan, kalau wanita yang dia kejar dan terlihat suci selama ini, ternyata murahan. Kalian bertiga pasti sudah melakukan free s*eks kan di sana?" tukas Risa menatap sinis ke arah Chika.
"Ternyata bukan hanya dirimu yang kotor, pikiranmu juga sudah kotor. Pantas Jordan tidak bisa menyukaimu walaupun kamu sudah menggodanya dengan memamerkan tubuhmu yang kamu klaim seksi itu. Ingat Risa,aku tahu jelas kalau kamu pernah melakukan hal itu untuk merayu Jordan. Tapi sayang sekali Jordan sama sekali tidak tertarik, justru merasa jijik," Chika tersenyum sinis.
"Sialan! kamu jangan coba-coba memfitnahku!" wajah Risa sudah berubah merah, menahan malu.
"Aku tidak fitnah! aku punya buktinya. Kamu mau lihat?" Chika mencondongkan tubuhnya ke arah Risa yang terlihat semakin pucat.
__ADS_1
"Asal kamu tahu, aku juga punya banyak bukti,di mana kami sering keluar masuk hotel bersama dengan Om- om. Apa kamu juga mau melihatnya?" sambung Chika kembali dan kali ini dengan berbisik.
"Kamu ya!" Risa mengepalkan tangannya, hendak menarik rambut Chika, tapi dia tidak berani melakukannya karena Chika memang rahasianya.
"Ayo, Guys kita pergi dari sini!" titah Risa sembari melangkah,dan disusul oleh dua temannya.
"Tunggu!" tiba-tiba David bersuara dan berdiri dari tempat duduknya.
Langkah Risa berhenti dab berbalik. Wanita itu menyunggingkan senyum manisnya berharap pria itu tergoda.
"Aku tadi tidak mengerti apa yang kamu katakan pada Tasya,makanya aku diam saja. Tapi sekarang aku sudah mengerti, karena Tasya sudah menjelaskannya. Asal kamu tahu, walaupun kami ini pria Eropa, tapi kami tidak seperti yang kalian tuduhkan.Kami tetap bisa memperlakukan dan menghormati wanita dengan baik,tanpa harus melakukan hal-hal yang seperti kalian tuduhkan. Jadi, jangan asal bicara!" ucap David panjang lebar tanpa jeda dan tentunya dalam bahasa Inggris.
Sedangkan Risa mengerjap-erjapkan matanya, dengan raut wajah yang sukar untuk dibaca oleh David.
"Kenapa kamu diam? kamu paham tidak yang aku katakan?" suara David mulai meninggi, membuat Risa tersentak kaget.
Sementara Chika dan Tasya cekikikan melihat hal itu. Jangan lupakan Edward yang juga kebingungan.
"Kenapa kalian berdua tertawa?" tanya Edward.
"Karena David melakukan pekerjaan yang sia-sia," sahut Chika ambigu.
"Sia-sia kenapa?" kini giliran David yang bersuara sembari menoleh ke arah Chika. Di saat David mengalihkan tatapannya, Risa mengambil kesempatan untuk lari menghindar.
"Dia sama sekali tidak mengerti bahasa Inggris, jadi tidak ada gunanya kamu berbicara panjang lebar tadi," sahut Tasya, yang dibarengi dengan tawa.
"Ah,sialan! aku benar-benar melakukan pekerjaan yang sia-sia!" David menggerutu sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
__ADS_1
Tbc