
Dewi menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Naura, karena mendengar semua yang diucapkan oleh Kendrick putranya. Dia tidak menyangka kalau putranya merekam di dalam kepalanya, yang dia sering menangis hanya karena merindukan Indonesia.
Ya, pemilik dua pasang telinga yang mendengar semua pembicaraan Victor dan Kendrick adalah Dewi dan Naura. Mereka baru saja tiba di rumah, dan mendengar suara keras kedua pria berbeda usia itu dari bawah. Karena penasaran Akhirnya mereka naik ke atas untuk mengetahui apa yang sudah terjadi.
"Naura, apa benar Ken, memperlakukanmu, seperti yang dikatakan om Victor tadi?" tanya Dewi di sela-sela tangisannya.
"Benar, Tante. Tapi gak masalah kok. Sekarang aku mengerti kenapa Kendrick bisa berpikiran seperti itu." sahut Naura berusaha untuk tetap tersenyum.
"Kamu sudah mendengar alasan Ken. Apa kamu mau meluruskan semua, kalau alasan dia sebenarnya tidak masuk akal?"
Naura bergeming, berpikir untuk beberapa saat.
"Iya, Tan! pelan-pelan aku akan menjelaskan padanya. Mudah-mudahan dia mau mengerti ya, Tan."
Dewi menganggukkan kepalanya, dengan jari yang kembali menyeka air matanya.
"Terima kasih,Naura!" ucap Dewi, tulus. Naura pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Naura terlihat memejamkan matanya untuk sejenak, kemudian dia membukanya kembali. Dia berulangkali menatap Ke arah Dewi, seperti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
"Ada apa, Naura? apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" suara Dewi yang bertanya, membuat Naura sedikit gelagapan.
"Tan, apa Tante tidak merindukan nenek Daryanti?"
Dewi terhenyak dengan pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut Naura. Bagaimana mungkin dia tidak merindukan wanita yang sudah melahirkannya itu. Yang dia yakini pasti sudah sangat renta, sekarang.
Tanpa permisi cairan bening sebening kristal dengan lancangnya keluar dari mata Dewi yang tadinya sudah sempat mengering.
"Tentu saja aku sangat merindukan beliau, Naura. Itu seharusnya tidak perlu kamu pertanyakan karena aku yakin kalau kamu pasti sudah tahu jawabannya."
"Maaf, Tante. Aku tidak bermaksud untuk membuat Tante sedih. Aku bertanya seperti itu karena jawaban tante, sebagai langkah awal untuk pertanyaan berikutnya," jelas Naura ambigu.
"Maksud kamu?" Kening Dewi berkerut dengan mata yang memicing, bingung.
"Tan, sebenarnya selama ini, aku selalu berhubungan dengan nenek Daryanti. Beliau selalu menanyakan kabar Tante. Jadi, karena Tante tadi sudah menjawab kalau Tante sangat merindukan beliau, aku mau tanya, mau tidak Tante melakukan panggilan video Dengan nenek?"
Air mata Dewi, lolos begitu saja mendengar ucapan Naura. Wanita setengah baya itu pun langsung menganggukkan kepala, mengiyakan.
__ADS_1
"Tapi, biarkan Naura dulu yang berbicara dengan nenek ya, Tan. Aku takut kalau nanti ada kakek Surya bersama dengan nenek." Lagi-lagi Dewi menganggukkan kepalanya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Kendrick mengreyitkan keningnya ketika mendapati, mamanya yang matanya sembab tapi bibir menyunggingkan sebuah senyuman. Senyuman yang menggambarkan kalau wanita itu tengah bahagia.
"Mama terlihat seperti sedang bahagia, apa dugaanku benar, Mah?" tanya Ken dengan alis yang bertaut.
Senyum Dewi semakin berkembang, mendengar ucapan putranya yang tepat sasaran.
"Kamu benar, Sayang. Mama sangat bahagia dan ini karena Naura."
Kening Kendrick semakin berkerut mendengar ucapan mama yang terasa ambigu buatnya.
"Naura? kenapa bisa karena Naura?" gumam Ken yang masih bisa tertangkap jelas di telinga Dewi.
"Asal kamu tahu tadi mama, bisa berbicara dan bertatap muka dengan nenek kamu di Indonesia. Mama sangat bahagia sekaligus terharu, akhirnya mama bisa melihat wajah wanita yang melahirkan, mama," jelas Dewi, dengan setitik butiran cairan bening yang lolos dari sudut matanya. Merasa terharu kembali.
"Maksud, Mama tadi Naura datang ke sini?" raut wajah Kendrick berubah panik.
"Iya! tadi nggak sengaja mama ketemu dengannya di oriental Grocer, jadi mama ajak sekalian ke rumah." jawab Dewi, yang membuat perasaan Kendrick menjadi tidak karuan. Khawatir, wanita yang sudah berhasil mengisi hatinya itu, mendengar semua yang dia ucapkan.
"Sejak ... tunggu dulu! kenapa kamu terlihat panik mendengar Naura tadi ke sini? dia bahkan belum pulang. Dia ada di dapur sedang memasak." Dewi bersikap, pura-pura tidak tahu apa yang membuat Kendrick panik.
Kendrick tidak menjawab sama sekali. Pria itu justru langsung melangkah menuju dapur di mana Naura ada di sana, seperti yang dikatakan oleh mamanya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Kendrick tidak langsung menyapa Naura. Dia justru menatap Naura yang memunggunginya dengan tubuh yang menyender dan tangan yang bersedekap di dada.
Kendrick tiba-tiba menyunggingkan, senyuman ketika melihat Naura yang mengibas-ngibaskan tangannya untuk meredakan rasa panas di mulutnya ketika wanita itu, mencicipi makanan yang masih panas tanpa meniup terlebih dulu.
"Makanya, kamu harusnya meniup lebih dulu baru mencicipinya. Lidah kamu jadi terbakar kan?"
Naura tersentak kaget mendengar suara Kendrick tiba-tiba, sampai-sampai spatula yang ada di tangannya terlempar begitu saja dan sekarang giliran tangannya yang terkena panas.
"Aww, panas, panas!" pekik Naura sambil meniup-niup tangannya.
__ADS_1
Kendrick seketika panik, dan langsung menghambur ke arah Naura dan menarik tangan wanita itu, kemudian meniup-niup tangan wanita itu.
Naura yang tadinya merasakan perih di tangannya, tiba-tiba tercengang dengan sikap panik Kendrick yang berlebihan.
"Kenapa kamu tidak hati-hati sih? lihat tangan kamu sudah memerah seperti ini." omel Kendrick, berlebihan.
"Ken, ini hanya hal kecil, kamu jangan berlebihan seperti itu!"
Kendrick mendelik pada Naura, yang menganggap dirinya berlebihan.
"Kamu bilang aku berlebihan? ini bukan hal kecil, lihat tangan kamu sudah memerah seperti ini!"
Naura tercenung, tidak menjawab sama sekali. Dia bahkan menuruti ketika Kendrick membawanya duduk di kursi.
"Bagaimana sih caranya mengobati tangan yang melepuh?" tanya Kendrick dengan raut wajah bingung.
"Oh, aku tahu. Aku bisa mengetahuinya, dari Internet," imbuhnya kembali dengan merogoh ponselnya dari dalam sakunya.
Melihat kepanikan Kendrick, Naura langsung menahan tangan pria itu, untuk tidak perlu berlebihan.
"Ken, kamu tenang saja, ini tidak parah.Hanya memerah sedikit kok, nanti juga akan sembuh sendiri."
Ken tiba-tiba bergeming, sadar kalau sikapnya tadi sudah sangat berlebihan. Dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, dengan wajah yang memerah karena merasa malu dengan sikapnya.
Suasana canggung seketika terjadi di antara Kendrick dan Naura. Tidak ada yang berani untuk memulai percakapan terlebih dulu.
"Ken, apa kamu sudah lapar? mau aku buatkan makanan?" Naura buka suara, menghentikan kecanggungan di antara mereka berdua.
"Mm, boleh deh!" sahut Kendrick gugup.
Naura beranjak dari kursinya dan berlalu hendak mengambilkan makanan buat Kendrick.
"Kata Tante, walaupun kamu lahir dan besar di sini, kamu tetap suka makanan Indonesia, apalagi Soto, gulai dan Rendang. Karena masak Rendang lama, jadi aku memutuskan buatin soto. Aku harap kamu suka ya," ucap Naura sambil meletakkan mangkok berisi soto di depan Kendrick.
Naura kembali melangkah hendak kembali duduk di kursinya. Namun tiba-tiba tangan besar Kendrick menahan tangan Naura sehingga membuat wanita itu menyurutkan langkahnya.
"Naura, apa kamu mendengar semua percakapanku dengan papa?"
__ADS_1
Tbc