Cinta Beda Negara

Cinta Beda Negara
Kaget


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat tidak terasa sudah seminggu lamanya Surya dirawat di rumah sakit dan hari ini pria tua itu sudah diperbolehkan untuk pulang.


Kendrick dan Naura juga sudah resmi menjadi suami istri empat hari yang lalu, dan setelah Surya pulang, mereka berdua akan langsung berangkat ke labuan Bajo, menyusul sahabat masing-masing yang tentunya sudah tidak di Bali lagi.


Kini kedua pasangan suami istri baru itu sudah berada di bandara dan bersiap untuk check-in. Bayu dan Nina selaku orang tua Naura, juga ikut mengantarkan pengantin baru itu ke bandara, sementara Dewi dan Victor tidak bisa ikut karena harus merawat Surya.


"Kalian hati-hati di sana. Ingat untuk tidak macam-macam. Jangan melakukan hal itu dulu!" Bayu kembali mengulang pesannya. Pesan yang selalu dia ingatkan setelah Naura dan Kendrick resmi menikah.


Ingin rasanya Kendrick berteriak kalau Naura itu Istrinya, jadi dia bebas mau melakukan apapun, setiap kali mendengar pesan papa mertuanya yang hampir setiap hari selalu diucapkan. Namun, pria itu sama sekali tidak punya cukup keberanian.


"Benar-benar papa mertua kejam. Bagaimana mungkin dia bisa memberikan penyiksaan pada menantunya. Aku benar-benar tersiksa, Pa. Tidur dalam satu kamar tapi tidak melakukan apapun," ucap Kendrick yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati.


"Kami berangkat dulu ya, Ma, Pa!" Kendrick mencium punggung tangan Bayu dan Nani mertuanya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Naura.


"Pa apa kamu tidak keterlaluan berkata seperti itu? bagaimanapun mereka berdua sudah jadi suami istri. Coba kamu berkaca pada dirimu sendiri, apa dulu kamu sanggup menahan diri, untuk tidak menyentuhku di saat kita sudah tidur dalam satu kamar? kamu ini benar-benar ya," protes Nani.


"Aku hanya tidak ingin Naura hamil sebelum waktunya, Ma. Karena kalau sudah terlanjur, aku khawatir kuliahnya akan terkendala dan aku tidak mau itu terjadi,"


"Tapi, Pa__"


"Tidak ada tapi-tapi! ayo kita pulang!" pungkas Bayu sembari beranjak pergi.


Melihat suaminya yang sepertinya tidak ingin dibantah, Nani hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menyusul langkah pria itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kendrick dan Naura kini sudah tiba di sebuah penginapan, tempat yang sama di mana sahabat-sahabat mereka menginap.


"Honey, apa kita di sini tetap tidur di kamar yang sama?" tanya Naura.


"Tentu saja! jadi kamu mau kita tidur di kamar yang terpisah?" alis Kendrick terlihat bertaut tajam.


"Bukan seperti itu, aku hanya tidak ingin kita kebablasan melakukan hal itu," ucap Naura sembari menggigit bibirnya.


"Kalau kebablasan emangnya kenapa? bagaimanapun kita sudah sah jadi suami istri. Dan kalau kita melakukannya, itu buka zinah," sahut Kendrick.

__ADS_1


"Yang kamu katakan itu benar. Tapi, kamu tahu sendiri kan kalau kita dilarang melakukannya?"


"Aku tahu itu. Tapi sampai kapan? kamu selesai kuliah dua tahun lagi, apa aku harus menahan diri selama dua tahun? apa kamu kira aku sekuat itu? kalau kamu bukan wanita yang aku cintai, bisa dipastikan aku juga tidak akan menyentuhmu, tapi kondisinya beda. Aku mencintaimu dan kamu itu istriku, bagaimana mungkin aku bisa bertahan selama itu? peraturan papa Bayu memang ada-ada saja," Kendrick berdecak sembari melangkah masuk ke dalam penginapan. Sementara Naura terdiam di tempatnya, memikirkan ucapan Kendrick yang menurutnya ada benarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ken, kamu di mana?" terdengar suara Edward di ujung telepon.


"Aku ada di kamar. Ada apa?" jawab Kendrick sembari rebahan di paha Naura.


"Di kamar? di kamar mana? kamu sewa kamar sendiri?" nada suara Edward terdengar jelas kalau sahabatnya itu sedang kebingungan.


"Iya, emangnya kenapa?" Kendrick tersenyum penuh makna. Pria itu tahu jelas kalau sahabatnya kening sahabatnya itu pasti sedang berkerut sekarang.


"Kenapa kamu sewa sendiri? kenapa kamu tidak langsung ke kamarku dan David saja? setidaknya kita bisa bagi tiga biayanya."


"Buat apa aku berbagi kamar dengan kalian berdua? aku sudah berbagi kamar dengan Naura,"


"Sialan! jangan macam-macam kamu, Ken! Ini bukan negaramu. Seharusnya kamu menjaga kehormatan wanita yang kamu cintai. Jangan jadi laki-laki brengsek!" suara Edward terdengar meninggi.


"Ada apa, Ed? apa yang terjadi?" terdengar suara David, samar-samar.


Ya, Edward dan David sama sekali belum tahu kalau Kendrick dan Naura sudah menikah. Demikian juga dengan Tasya dan Chika.


"Ken, sekarang tolong kamu batalkan sewa kamar itu dan tidur di kamar kami saja! sekali lagi aku ingatkan,ini bukan negaramu!" suara Edward semakin meninggi.


"Ada apa sih? kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku tadi?" tampaknya David semakin penasaran. Bisa dipastikan kalau pria itu pasti sedang garuk-garuk kepala sekarang.


"Ken, kamar yang kamu sewa di nomor berapa?" Suara Edward terdengar mulai melembut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kendrick mengembuskan napas kesal karena pintu kamarnya digedor-gedor dengan sangat kencang dari luar. Pria itu sudah tahu siapa pelakunya. Siapa lagi kalau bukan dua sahabatnya dan dua sahabat Naura.


"Ada apa sih?" omel Kendrick begitu pria itu membuka pintu.

__ADS_1


"Dasar pria brengsek! di mana Naura?" umpat Chika sembari mendorong tubuh Kendrick dengan keras, lalu wanita itu masuk ke dalam kamar.


Mata Chika mengedar ke segala sudut ruangan untuk mencari keberadaan sahabatnya itu. Namun yang dicarinya tidak ada sama sekali.


Mata kekasih Edward itu kemudian kembali menatap Kendrick dengan tatapan sengit.


"Kendrick, di mana kamu sembunyikan Naura? kamu sudah apain dia? hah!" bentak Chika dengan napas yang memburu.


"Kamu kenapa sih? udah masuk dengan kasar, kamu pakai membentak lagi. Apa itu yang namanya sopan?" sahut Kendrick.


"Kamu memang pantas digituin. Bisa-bisanya kamu sewa satu kamar untuk kalian berdua. Apa bukan kurang ajar namanya,"kali ini Tasya yang buka suara.


"Hei, kenapa jadi kalian berdua yang keberatan? Naura saja sebagai orang yang bersangkutan sama sekali tidak keberatan. Aku sama sekali tidak memaksanya untuk sewa satu kamar. Jadi jangan hanya menyalahkan laki-laki saja!"


Chika dan Tasya terdiam Karena benar seperti yang dikatakan Kendrick. Kenapa mereka bisa sewa satu kamar pasti karena kesepakatan bersama dan bukan satu pihak, jadi yang harus disalahkan ya dua-duanya.


Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka, tampak Naura keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutup kepalanya.


Mulut Chika dan Tasya sontak terbuka lebar dan mata membesar melihat kemunculan Naura yang baru selesai keramas.


"Na-Naura ... ka-kamu ...." mulut keduanya serasa kaku tidak sanggup untuk berbicara.


"Ada apa? apa ada yang salah?" tanya Naura sembari berusaha menahan tawa.


"Kamu masih bertanya apa ada yang salah? kamu itu pintar, kamu pasti tahu kalau kamu sudah melakukan hal yang salah. Bagaimana bisa kamu dan Kendrick menyewa satu kamar, dan lihat,kamu bahkan baru saja ... ahh,kamu pasti tahu apa yang kumaksud," wajah Chika memerah, menahan amarah.


"Apanya yang salah? apa salah kalau aku tidur di kamar yang sama dengan suami sendiri?"


"Ya, sa ... apa?! su-suami?" pekik Chika dan Tasya bersamaan.


Sementara Edward dan David saling silang pandang, bingung dengan apa yang dikatakan para kekasih mereka, karena mereka berbicara dalam bahasa Indonesia.


"Ken, kenapa wajah Chika dan Tasya kaget seperti itu? bisa kamu jelaskan!" bisik Edward.


"Mereka kaget, karena Naura mengatakan kalau aku dan Naura itu suami istri,"

__ADS_1


"Apa!" kini gantian Edward dan David yang memekik.


Tbc


__ADS_2