Cinta Beda Negara

Cinta Beda Negara
Patah hati


__ADS_3

"Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang? kamu tidak berniat untuk memisahkan Naura dan Kendrick kan?" tanya Tasya, dengan tatapan, sendu.


Jordan kembali tidak langsung menjawab. Pria itu memilih untuk lebih dulu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara.


"Kamu tahu, aku berjuang untuk bisa mendapatkan beasiswa, untuk kuliah di Oxford university itu, tujuannya selain ingin bisa sejajar dengan Naura, aku juga ingin berjuang mendapatkan hatinya. Apa menurutmu, dengan melihat mereka pacaran, aku akan menyerah begitu saja? tentu saja tidak! Lambat laun, aku yakin kalau aku akan bisa membuat Naura jatuh cinta padaku, dan tahu, kalau akulah pria yang tepat buatnya,' tutur Jordan dengan seringaian sinis di sudut bibirnya.


Tasya terkesiap kaget dengan jawaban yang baru saja terlontar dari bibir Jordan. Dia sama sekali tidak menyangka kalau, Jordan bisa berkata seperti itu. "Kenapa kamu jadi egois seperti ini? ini bukan Jordan yang aku kenal," ucap Tasya di sela-sela rasa kagetnya.


"Aku tidak egois. Aku hanya ingin menjadi seorang pria yang pantang menyerah demi mendapatkan apa yang aku mau. Aku yakin, kalau aku berjuang keras, suatu saat Tuhan pasti perhitungkan perjuanganku itu,"


"Tapi Tuhan tahu mana perjuangan yang harus diperhitungkan dan mana perjuangan yang harus diabaikan. Kalau perjuangan yang dilakukan dengan cara licik untuk mendapatkan sesuatu itu, aku yakin Tuhan tidak akan pernah merestuinya. Bahkan kita bisa mendapatkan lebih buruk dari yang kita harapkan," tutur Tasya mencoba untuk membuka pikiran Jordan.


" Terserah kamu mau bilang apa! Ayo kita turun! jujur aku sama sekali tidak menikmati suasana ini." ujar Jordan yang sama sekali tidak memikirkan, bagaimana perasaan gadis yang sedang bersamanya.


"Kalau kamu tidak menikmati, kenapa kamu mengajakku untuk melihat suasana kota London?" tanya Tasya sambil mengikuti Jordan turun.


"Itu karena aku berharap, Naura juga ikut. Ternyata dia lebih memilih si brengsek itu. Ternyata dia tidak mau menjawab panggilanku tadi, pasti karena ada pria itu bersamanya." rahang Jordan terlihat mengeras saat mengumpat.


Tasya sontak berhenti melangkah dan teringat dengan panggilan yang ditolak oleh Naura, ketika di apartemen.


"Aku yakin kalau telepon yang ditolak Naura itu, pasti telepon dari Jordan. Dia menolaknya karena tidak ingin aku sakit hati. Tapi kenapa aku jadi seperti orang yang dikasihani ya? dan aku sama sekali tidak menyukai kebohongan ini," bisik Tasya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa kamu berhenti? ayo jalan!" tegur Jordan yang sudah berbalik menatap Tasya.


"Atau sebaiknya kita pulang saja, karena percuma saja kita di sini, nyape-nyepein badan saja. Aku yakin kalau kamu juga tidak menikmatinya kan?" imbuh pria itu lagi sembari kembali melanjutkan langkahnya.


"Jordan, kamu anggap aku apa? apa kamu tahu kalau ucapanmu sudah membuat hatiku sakit? kamu benar-benar tidak punya perasaan, Jo!"


Jordan menyurutkan langkahnya, dan menoleh ke belakang. Untuk sementara dia merasa sedikit bersalah, karena secara eksplisit sudah mengungkapkan apa yang dia rasakan tanpa memikirkan perasaan Tasya. Akan tetapi, perasaan bersalah itu hanya sebentar saja. Detik berikutnya pria itu tidak merasa bersalah dan dia berpikir kalau yang dia lakukan barusan sudah benar.


"Maaf, Tasya! tapi bukannya lebih baik begitu? aku berterus terang padamu dari pada aku berpura-pura menikmati, padahal tidak sama sekali. Aku rasa itu akan jauh lebih menyakitkan, bukan?" ucap Jordan santai.


"Aku tahu, kalau kamu itu sebenarnya suka sama aku kan? tapi maaf Tasya, aku sama sekali tidak mempunyai perasaan padamu. Aku murni menganggapmu sebagai sahabat, tidak lebih. Aku mohon jangan berharap apapun padaku, karena sejatinya cinta itu tidak bisa dipaksakan,"


Sumpah demi apapun, pengakuan yang baru saja terlontar dari bibir Jordan sangat menyakitkan, seperti ada ribuan jarum yang menghujam jantung gadis itu.


Jordan mengrenyitkan keningnya merasa ambigu dengan ucapan Tasya.


"Apa maksudmu? kenapa aku harus malu?"


"Tadi, kamu mengatakan, kalau cinta tidak bisa dipaksakan kan? Bukankah, dengan dirimu yang berniat untuk tetap mengejar Naura, bukan termasuk pemaksaan? asal kamu tahu, Naura juga sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padamu. Dia juga murni hanya menganggapmu sahabat. Tadi, Kendrick sama sekali tidak ada di samping Naura saat kamu menghubunginya. Aku dan Chika lah yang ada di sampingnya ketika dia menolak panggilanmu."


Jordan tercenung mendengar ucapan Tasya yang panjang lebar.

__ADS_1


"Asal kamu tahu, mamanya Kendrick dan papanya Naura sudah saling mengenal. Bahkan dulu mereka berdua itu dijodohkan. Jadi sekarang, mamanya Kendrick dan papanya Naura, berniat menjodohkan anak masing-masing. Mereka begitu bahagia, ketika tahu kalau ternyata anak mereka saling jatuh cinta. Jadi, lupakan ambisimu untuk menghancurkan hubungan mereka! " sambung Tasya kembali dengan menambahi sedikit bumbu-bumbu, membuat Jordan semakin tergugu.


Jordan berdecih, dan sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman sinis


"Aku tahu kalau kamu sedang berbohong kan? kamu mengatakan hal itu supaya aku menyerah, dan membuka hati untukmu. Cara kamu ini sangat klise, dan gampang ditebak Tasya,"


Tasya, tersenyum smirk, mendengar ucapan Jordan.


"Jordan, aku akui kalau aku memang menyukaimu, tapi asal kamu tahu, aku bukanlah orang seperti kamu, yang memaksakan kehendak untuk memiliki orang yang sama sekali tidak menyukaiku. Karena pada dasarnya aku memiliki prinsip 'berjuang demi cinta, bukan berarti anda meminta atau mengemis cinta. Tetapi anda juga harus sadar, bahwasanya, di luar sana masih banyak yang mau memberikan cintanya untukmu'," pungkas Tasya seraya memutar tubuhnya, berbalik meninggalkan Jordan yang merasa tertohok dengan ucapan gadis itu.


"Tasya, kamu mau kemana?" panggil Jordan.


Tasya kembali memutar tubuhnya, dan tersenyum ke arah Jordan, menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja.


"Kamu bisa pulang lebih dulu. Aku mau menikmati suasana London eye sendiri. Karena aku tidak ingin memaksakan orang untuk bisa menikmatinya bersamaku." Tasya kembali berbalik dan beranjak pergi meninggalkan Jordan yang terpaku di tempatnya.


Setelah agak jauh melangkah meninggalkan Jordan, Tasya tidak bisa lagi membendung air matanya.


"Patah hati ternyata sesakit ini ya Tuhan! Tapi aku yakin kalau aku tidak sendiri yang pernah merasakan hal ini. Aku yakin Engkau pasti sudah mempersiapkan seseorang yang terbaik buatku." bisik Tasya di sela-sela senyum getirnya.


"Tasya, kenapa kamu menangis?" tiba-tiba suara seorang laki-laki yang sangat familiar, terdengar di belakangnya dan menyentuh lembut pundaknya."

__ADS_1


Tbc


__ADS_2