Cinta Beda Negara

Cinta Beda Negara
Ungkapan hati David


__ADS_3

"Wah kamu ternyata tidak mau rugi ya? tenang aku akan menanggung semuanya. Bertanggung jawab atas dirimu untuk selamanya juga aku sangat mau," ucap David tanpa sadar, hingga membuat mata Tasya membesar dengan sempurna.


"Maksud kamu apa?" Tasya memicingkan matanya.


"Emang aku bilang apa? aku tadi kan bilang kalau aku akan menanggung semua biaya, apa ada yang salah?" David, mengrenyitkan keningnya merasa bingung.


"Oh begitu? kalau begitu lupakan! ayo kita jalan!" Tasya melangkah meninggalkan David yang semakin terlihat kebingungan. Entah kenapa ada perasaan kecewa dan sakit yang timbul di hati Tasya, begitu mendengar David yang lupa dengan ucapannya.


"Dia kenapa sih? emang aku tadi ngucapin apa?" tanya David pada Edward dan Chika.


"Apa kamu serius tidak mengingatnya? Oh my God, kamu benar-benar gila men," sahut Edward yang membuat David semakin kebingungan.


"Please bicara yang jelas! apa aku tadi mengatakan sesuatu secara tidak sadar? jangan buat aku semakin bingung, Ed!"


"Kami tadi mengatakan kalau kamu siap untuk bertanggung jawab dengan hidup Tasya untuk selamanya," celetuk Chika buka suara.


"Oh, ****! kalian serius?" Edward dan Chika menganggukkan kepala bersamaan.


David menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun, David berlari mengejar Tasya yang sudah berjalan agak jauh dari mereka bertiga.


"Tasya, tunggu!" teriak David. Tapi Tasya pura-pura tidak mendengar. Gadis manis itu tetap berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke arah David.


"Tasya, kenapa kamu tidak mau berhenti dan menungguku?" tanya David dengan ngos-ngosan karena capek.


"Eh, kamu ada memanggilku ya? maaf aku tidak dengar! aku kira kamu, Edward dan Chika langsung ikut berjalan tadi di belakangku. Makanya aku berpikir bukan kamu yang berteriak memanggil namaku," Tasya memberikan alasan yang masuk akal.


"Kamu istirahat dulu! sepertinya kamu capek, sekalian kita menunggu, Edward dan Chika." Tasya mengajak David duduk di trotoar. Kemudian dia celingukan untuk melihat apakah ada yang menjual air mineral.


"Aduh, sepertinya tidak ada yang jual air minum di sini. Biasanya yang jual di arah sana," Tasya menunjuk ke arah tempat yang lumayan jauh dari tempat mereka duduk.


"Apa kamu haus?" sambung Tasya lagi.


"Sedikit. Tapi aku masih bisa menahannya, Tas." sahut David yang napasnya berangsur-angsur normal.


Keheningan tercipta untuk beberapa detik di antara mereka. Detik berikutnya, setelah napas David sudah benar-benar normal, David menatap ke arah Tasya dengan tatapan penuh makna.


"Tas, aku sudah ingat apa yang sempat aku ucapkan tadi. Dan asal kamu tahu kalau itu tulus dari hatiku," ucap David, serius.

__ADS_1


"Ucapan yang mana? apa itu ucapan yang kamu akan menanggung semua biaya liburan ke tempat wisata atau___"


"Ucapnya yang aku mau bertanggung jawab dengan hidupmu selamanya, Tas. Itu yang sudah aku ingat, dan itu tulus dari hatiku." David menyela ucapan Tasya.


Tasya tercenung. Dia menatap manik mata David untuk mencari apakah pria di depannya itu berbicara serius atau tengah berbohong. Tasya tersenyum tipis, hampir tidak terlihat ketika melihat tidak ada kebohongan di manik mata berwana biru milik David.


"Tas, kenapa kamu diam? apa kamu tidak percaya dengan apa yang baru saja aku utarakan?" tanya David dengan hati cemas, dan jantung yang berdebar kencang.


Tasya menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali dengan cukup panjang.


"Kenapa kamu mau bertanggung jawab dengan hidupku selamanya? apa karena kamu mengira kalau papaku tidak akan sanggup untuk bertanggung jawab atas hidupku?"


"Bu-bukan seperti itu maksudku, Tas. Kamu jangan salah paham!" ujar David gugup.


"Aku tahu kalau papamu pasti akan bisa bertanggung jawab atas hidupmu. Tapi, aku ingin menjadi pria yang bisa kamu jadikan pendamping hidupmu kelak. Dengan kata lain, aku jatuh cinta padamu, dan aku ingin menjadikan kamu menjadi pendamping hidupku kelak," akhirnya David memberanikan diri untuk berterus-terang tentang perasaannya. Walaupun sebenarnya ada ketakutan dalam dirinya, Tasya akan menghindari dirinya jika sudah tahu perasaannya yang sebenarnya.


Tasya tidak memberikan jawaban apapun. Dia hanya diam menatap manik mata berwarna biru pria Inggris itu dengan dalam, membuat sang pemilik mata itu grogi.


"Please jangan menatapku seperti itu!" ujar David, gugup.


Tasya mengulum senyumnya,melihat ekspresi wajah David yang grogi.


"Hmm, aku tidak tahu pasti. Tapi sejak kamu mengajak Jordan untuk menjalin hubungan dengan kamu hari itu, aku merasa tidak senang, dan cemburu. Makanya aku langsung memutuskan untuk pergi dari kantin. Dan apa kamu tahu, kejadian pertemuan kita di London eye, ketika kamu bersama dengan Jordan, sebenarnya itu bukan hal yang tanpa sengaja. Sebenarnya aku sudah mengikuti kalian berdua semenjak kalian masuk ke dalam taksi dari depan apartemen kalian bertiga," ucap David, jujur.


Ada sedikit rasa kaget, pada Tasya mendengar pengakuan David. Selain rasa kaget entah kenapa apa perasaan senang juga. Kalau boleh jujur, selama dia menghabiskan waktu menikmati keindahan London bersama David sebelum liburan musim panas, dirinya merasa sangat nyaman. Apalagi, David sangat menghargainya sebagai seorang perempuan. Selama mereka bersama, David sama sekali tidak pernah bertindak kurang ajar padanya.


"Apa kamu tahu, apa yang sebenarnya aku bicarakan dengan Jordan saat itu?"


"Iya aku tahu. Maaf kalau sebenarnya aku merekam pembicaraan kalian berdua, karena aku mendengar kalian ada menyebut nama Kendrick dan Naura. Aku tidak tahu apa artinya yang kalian bicarakan, karena itulah aku merekamnya untuk aku tunjukkan pada Ken dan bertanya padanya apa yang sebenarnya kalian bicarakan," jawab David dengan perasaan was-was, kalau-kalau Tasya marah padanya. Akan tetapi, lebih baik dia berterus terang, daripada gadis pujaannya itu, tahu dari orang lain.


"Tasya, apa kamu marah?" raut wajah pria itu terlihat meringis.


Tasya tidak menjawab sama sekali. Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Jadi, kenapa kamu diam?"


"Emm, jadi aku harus apa? kamu kan tadi hanya menjelaskan dan tidak bertanya apapun padaku, jadi apa yang harus aku jawab?"

__ADS_1


"Kamu kan sudah tahu bagaimana perasaanku, jadi bagaimana tanggapanmu?" David terlihat frustasi.


"Tanggapunku, ya 'oh, begitu?' udah itu aja," sahut Tasya santai.


David mengembuskan napas kecewa mendengar ucapan Tasya.


"Hanya itu saja? apa itu berarti kamu sama sekali tidak memiliki perasaan padaku dan tidak mau menjadi kekasihku?"


"Siapa bilang?" sahut Tasya yang membuat David semakin bingung.


Tasya menyelipkan senyuman di bibirnya melihat wajah bingung David .


"Kamu kan tidak bertanya tadi, apa aku bersedia menjadi kekasihmu atau tidak? tadi itu, kamu hanya menjelaskan kalau kamu suka aku. Begitu saja kan? apa kamu tadi ada bertanya, 'Tasya mau tidak menjadi kekasihku? tidak kan? tidak mungkin aku langsung menjawab 'ya aku mau' padahal pertanyaan itu tidak ada sama sekali,"


David menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, karena terlihat seperti orang bodoh di depan wanita itu.


"Haish kenapa sih wanita Indonesia, sangat sulit dimengerti? harusnya tanpa ditanya kan dia sudah mengerti dengan apa yang aku mau," David menggerutu di dalam hati.


"Di mana Edward dan Chika? kenapa mereka belum menyusul juga?" Tasya sengaja mengalihkan pembicaraan sembari melihat ke arah titik awal mereka berada tadi.


"Emm sepertinya mereka ingin berduaan saja. Ayo kita jalan saja. Kita tidak perlu menunggu mereka," Tasya berbalik dan hendak melangkah.


"Tasya, aku jatuh cinta padamu? apa kamu juga merasakan hal yang sama? kalau iya, apa kamu mau menjadi kekasihku?" celetuk David tiba-tiba.


Langkah Tasya seketika terhenti dan di bibir wanita itu seketika terbit sebuah senyuman. Tasya kemudian berbalik lagi dan menatap David dengan dalam-dalam.


"Vid, terima kasih sudah menjadikan aku wanita yang kamu cintai. Kamu tahu dengan jelas kalau aku menyukai Jordan kan? dan kamu juga tahu kalau Jordan, tidak menyukaiku dan malah menyukai Naura. Tapi, sekarang aku menyadari, kalau ketika mendapat penolakan dari Jordan hatiku hanya sedih untuk sementara, karena tanpa sadar kamu sudah berhasil menyelusup ke dalam hatiku. Dengan perlahan, kamu akhirnya berhasil membuatku lupa akan penolakan Jordan." Tasya berhenti sejenak untuk mengambil jeda sekaligus untuk meraup udara untuk mengisi rongga paru-parunya yang sudah minim udara, karena dia yang kebanyakan bicara.


"Kenapa kamu berhenti bicara, Tas? apa maksud semua ucapanmu barusan?" desak David tidak sabar.


"Vid, aku rasa aku juga sudah jatuh cinta padamu. Karena belakangan ini, bayang-bayang Jordan berangsur-angsur hilang berganti dengan wajahmu. Aku merasa bahagia kalau ada di dekatmu. Perasaan bahagia yang lebih besar ketika aku bersama dengan Jordan."


"Jadi, apa itu berarti kamu menerima cintaku?" tanya David memastikan. Wajah David berbinar bahagia, begitu melihat Tasya menganggukkan kepalanya.


David hampir saja, ingin menghambur gadis yang sudah resmi menjadi kekasihnya itu. Akan tetapi dia urungkan, ketika mendengar celetukan dari Chika.


"Hey, ini Indonesia! jangan main peluk-peluk di tempat umum seperti ini!" cetus Chika yang ternyata tadi sengaja bersama Edward memperlambat langkah mereka, untuk memberikan kesempatan pada David dan Tasya berbicara empat mata.

__ADS_1


David menggaruk-garuk kepalanya, karena merasa malu.


Tbc


__ADS_2