Cinta Beda Negara

Cinta Beda Negara
Jatuh sakit


__ADS_3

Jane benar-benar marah karena semua rencananya hancur Jordan yang awalnya bisa diajak kerja sama, tiba-tiba mematahkan harapannya. Padahal hanya pria itu satu-satunya harapannya. Karena bagaimanapun dirinya tidak mungkin bisa menemukan Kendrick di negara yang sangat luas itu.


"Arghh brengsek! semuanya hancur. Sia-sia semua usahaku. Pria itu benar-benar pecundang. Sudah mundur sebelum mencoba. Dasar pengecut!" umpat Jane, sekembalinya wanita itu dari Bandara.


Ya, Jordan memang menyusulnya datang ke Bandara. Awalnya Jane tersenyum puas, karena dia yakin Jordan tidak mungkin memiliki banyak uang untuk mengganti kerugian yang dia keluarkan. Namun, alangkah kagetnya wanita itu, kedatangan Jordan justru hanya memberikan uang sebagai ganti rugi. Hal itu tentu saja membuat Jane meradang.


"Sepertinya ada orang yang membantunya. Tidak mungkin dia bisa memiliki uang sebanyak itu. Atau jangan-jangan dia melakukan pinjaman di tempat dia bekerja? kalau begitu, aku tahu apa yang harus aku lakukan," Jane menyeringai sinis.


"Aku akan membuat dia kehilangan pekerjaannya, sehingga pihak Kafe akan meminta uang yang dipinjamnya kembali. Hahahha, makanya jangan pernah bermain-main denganku pecundang. Kamu akan merasakan akibatnya," ucap Jane masih dengan tersenyum miring..


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ngapain kamu datang ke sini?" tanya Jordan, dengan kening berkerut, saat melihat Jane yang mendatangi tempatnya bekerja.


"Aku mau membuat keributan di sini sampai kamu dipecat. Setelah itu uang pinjaman kamu, akan diminta kembali oleh pemilik kafe. Makanya jangan main-main denganku," ucap Jane dengan sinis.


"Tunggu dulu! uang pinjaman apa yang kamu maksud? aku sama sekali tidak memiliki pinjaman di kafe ini. Lagian, tolonglah berpikir logis. Bagaimana, karyawan baru dan hanya sementara sepertiku, bisa dikasih pinjaman? apa otak kamu masih bisa bekerja? jadi aku sarankan, sebaiknya kamu pergi dari sini, karena apa yang kamu lakukan itu akan sia-sia!"


"Jadi kalau kamu tidak meminjam dari kafe ini, dari mana kamu bisa mendapatkan uang sebanyak itu?" Jane mengrenyitkan keningnya.


"Kamu tidak perlu tahu, yang jelas aku mendapatkannya dari orang yang sudah berhasil membuka mataku. Jadi aku sarankan kamu pergi sebelum kamu yang malu. Karena bukti rekaman pembicaraan kita yang kemarin ada padaku. Jadi ketika kamu membuatku keributan dengan mencoba memfitnahku, aku akan memperdengarkan rekaman itu, dan meyakinkan mereka kalau kamu hanya ingin memfitnahku karena aku batal bekerja sama denganmu. Coba bayangkan, sebesar apa malumu nanti," Jordan tersenyum miring.


"Brengsek, sialan kamu! umpat Jane sembari berlalu pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebuah acara besar-besaran sedang berlangsung di kediaman Surya. Di mana saat ini,pria itu mengadakan pesta untuk menyambut kepulangan sang putri, menantu dan kedua cucunya


Pria tua itu benar-benar terlihat bahagia. Hal itu bisa terlihat dari tawa yang selalu lepas yang ditunjukkan oleh mantan panglima TNI itu.


Bukan hanya Surya, Daryanti juga merasakan hal yang sama. Senyuman lebar tidak pernah memudar dari wajah yang sudah penuh dengan keriput itu.


Bagaimana dengan Ken? pria itu juga tidak kalah bahagia. Dia merasa hangatnya sebuah keluarga. Bagaimana tidak? pria itu kini bisa mengenal dua saudara sepupunya yakni putra dari Dion pamannya.


"Honey, terima kasih ya! kahadiranmu sepertinya memang disengaja oleh Tuhan. Kamu datang, ke negara kami, kita saling mengenal dan aku bertemu denganmu, kamu membawa kebahagiaan pada mamaku, dan setelah itu kamu mempertemukanku dengan keluarga mama," bisik Kendrick tepat di telinga Naura.


"Itu bukan hanya karena aku. Tapi memang pada dasarnya memang sudah waktunya saja," Naura menyelipkan senyuman ke arah Kendrick.


"Oh ya, sepertinya kita sudah bisa menyusul David dan Edward ke Bali. Soalnya aku juga sangat ingin mengunjungi tempat itu. Selama ini aku hanya bisa melihatnya dari video-video saja," celetuk Kendrick tiba-tiba.


"Emm sepertinya kamu benar. Tapi sebaiknya kita izin dulu pada orang tua kita masing-masing. Dan ingat kamu juga harus izin pada papa dan mamaku untuk membawaku liburan. Jangan asal bawa anak orang!"


"Siap, Bos!" Kendrick membuat gerakan menghormat.


Semua tamu undangan satu persatu mulai meninggalkan kediaman Surya. Kini yang tersisa hanya dua keluarga besar yakni keluarga Bayu dan keluarga besar Surya.

__ADS_1


Di saat semuanya sedang bercengkrama sembari tertawa-tawa, tiba-tiba Surya memegang dadanya dan wajahnya terlihat meringis seperti menahan sakit.


"Pa, kamu kenapa? jantungmu kumat lagi ya?" seru Daryanti panik.


Seruan panik dari Daryanti sontak membuat yang lainnya menghambur menghampiri pria tua itu.


Ya, sudah 10 tahunan ini, setelah Surya pensiun, pria itu diserang oleh penyakit jantung, karena pria itu tidak melakukan pola hidup sehat lagi.


"Sepertinya iya, Ma. Dadaku tiba-tiba sakit," sahut. Surya dengan lirih dan peluh yang sudah membasahi pelipisnya.


"Sudah aku ingatkan tadi, agar papa jangan kecapean,tapi Papa tidak mau mendengarnya. Kolesterol Papa juga pasti sudah naik karena papa tadi tidak mengontrol makanan," Daryanti mengomel di tengah kepanikannya.


"Ma, sudah! jangan marah-marah lagi. Sebaiknya kita bawa papa ke rumah sakit sekarang juga!" Dion bersuara menghentikan omelan mamanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semua keluarga kini terlihat khawatir dan berkali-kali melihat ke arah pintu, tempat di mana Surya mendapat penanganan.


Di tengah perjalanan menuju rumah sakit tadi, pria tua itu sempat tidak sadarkan diri. Hal ini tentu saja membuat semuanya panik, terlebih Dewi.


Dewi dari tadi sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Mamanya Kendrick itu, mengatakan kalau kepulangannyalah yang membuat papanya jatuh sakit. Wanita itu selalu menyebutnya pembawa sial. Ia berkata kalau seandainya dia tidak pulang, bisa dipastikan kalau papanya itu pasti akan baik-baik saja.


"Ma, tenang ya! Kakek pasti akan baik-baik saja! ini bukan kesalahan Mama," Kimberly mencoba menenangkan Dewi.


"Benar kata Kimberly, Dewi. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan kepulanganmu. Ini murni karena memang papamu sudah lama mengidap penyakit itu," Daryanti menimpali ucapan Kimberly.


Semua yang berada di tempat itu sontak menghambur menghampiri dokter.


"Bagaimana, suamiku, Dok?"


"Bagaimana, Papaku, Dok?


"Bagaimana kondisi kakekku, Dok?"


pertanyaan itu datang beruntun dan bersamaan, hingga membuat dokter itu kelabakan.


"Tenang dulu, Pak, Bu, semuanya! kondisi Pak Surya sekarang sudah tidak seburuk ketika dibawa ke sini. Tapi, juga belum terlalu stabil. Kami sudah melakukan pijat jantung dan baru saja menyuntikkan obat pada beliau dan untuk dua jam ke depan kami akan memeriksa kondisi beliau kembali," terang dokter itu.


"Dok apa kami bisa melihat kondisi beliau ke dalam?" tanya Bayu, yang melihat lainnya sepertinya kesulitan untuk bicara.


"Silakan, Pak Bayu!"


Semua orang seketika masuk ke dalam ruangan untuk melihat kondisi Surya. Tampak di tubuh pria itu terpasang mesin AED (automated external defibrillator).


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Kek, Kakek sudah bangun? apa yang Kakek rasakan sekarang?" cecar Kendrick begitu melihat mata kakeknya itu terbuka.


Surya tidak membuka suaranya. Namun pria itu hanya melemparkan senyuman di bibirnya ke arah Kendrick.


"Kamu tidak perlu khawatir. Kakek baik-baik saja. Lagian Kakek sudah tua dan sudah bau tanah seperti yang kamu katakan, jadi kalau sebenarnya kakekpun sudah pantas untuk meninggalkan dunia ini. Apalagi Kakek sudah bertemu kalian semua. Jadi, kalaupun kakek pergi, sudah tidak ada penyesalan pada Kakek," ucap Surya dengan suara yang terbata-bata, tapi senyum di bibirnya juga tidak pernah memudar.


"Kakek tidak boleh bicara seperti itu! bukannya Kakek masih berutang janji ingin membayar semua waktu yang terbuang selama ini? Jadi, mau tidak mau Kakek harus tetap membayar utang itu," ucap Kendrick, tegas.


"Ya, Kakek juga sangat ingin seperti itu. Tapi kalau takdir sudah berkata lain, apa kamu masih mau menuntut Kakekmu ini? kalau iya tega sekali kamu," Surya masih berusaha untuk bercanda.


"Iya, aku memang orang yang sangat tega. Kakek harus tahu itu,"


"Hahahah, kamu memang persis sepertiku," Surya berusaha untuk tertawa sembari menahan rasa sakitnya.


"Pa, benar kata Kendrick. Papa harus sembuh dan kita bisa membayar semua waktu yang terbuang. Papa harus semangat!" Dewi buka suara dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Surya sama sekali tidak menjawab lagi. Pria itu hanya tersenyum menanggapi ucapan sang putri.


"Bayu, boleh aku bicara denganmu sebentar?" Surya tiba-tiba bersuara memanggil Bayu, hingga semua orang yang berada di tempat itu kebingungan.


"Iya, Om ada apa?" sahut Bayu.


"Kamu dulu tidak menjadi menantuku, tapi di sisa hidupku aku ingin melihat Naura menjadi cucu menantuku. Jadi, aku mewakili kedua orang tua Kendrick ingin melamar Naura untuk cucuku. Apa kamu mau menerima lamaranku?"


Ucapan pria tua itu sontak membuat seisi ruangan terkesiap kaget.


"Om, aku tidak melarang Naura untuk menikah dengan siapapun itu selama pria itu baik dan putriku mencintainya.Tapi, Om tahu sendiri, Naura masih kuliah, begitu juga Kendrick. Kalau mereka nanti berjodoh, mereka akan tetap menikah suatu saat. Tapi, sepertinya sekarang belum waktunya," tolak Bayu dengan halus.


"Tapi, aku sangat ingin melihat mereka menikah secepatnya, di saat aku masih hidup. Apa kamu meragukan Kendrick, kalau dia tidak mampu membahagiakan Naura, mengingat dia masih kuliah? apa kamu lupa kalau papanya di samping seorang diplomat, tapi juga memiliki perusahaan yang otomatis akan dikelola oleh Kendrick nantinya?" Surya benar-benar menyadari keraguan Bayu papanya Naura itu.


"Bukan seperti itu Om. Aku hanya tidak ingin konsentrasi mereka sebagai mahasiswa terganggu dan akibatnya pendidikan mereka tidak selesai," sahut Bayu.


"Tapi, kali ini aku sangat bahagia dengan apa yang dikatakan kakek Om. Aku memang berniat menjadikan Naura istriku," Kendrick buka suara dengan nada yang sangat bersemangat.


Bayu mengembuskan napasnya dan beralih menatap ke arah Naura.


"Bagaimana Naura? semua keputusan ada di tanganmu, Nak?" ucap Bayu dengan lirih.


"Apa aku dilamar dengan caranya begini? tidak ada romantisnya sama sekali," Naura mengerucutkan bibirnya, pura-pura kesal.


"Benar, tidak ada romantisnya. Sama seperti papa kamu dulu saat menikahi mama. Sekarang sejarah terulang kembali padamu," mamanya Naura menyeletuk tiba-tiba, membuat yang lainnya tertawa.


"Bagaimana Nak Naura? Kakek berharap kamu setuju?" Surya kembali buka suara.


"Emm, baiklah aku setuju Kek," ucap Naura dengan malu-malu.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu! aku setuju-setuju saja dengan catatan kuliah kalian tidak aka terganggu. Tapi, kalau boleh mengingat Om yang masih sakit, biarlah mereka menikah secara hukum dan agama saja lebih dulu. Untuk masalah resepsi bisa dilakukan setelah mereka lulus kuliah. Selama mereka tidak lulus, tidak akan ada resepsi pernikahan!" pungkas Bayu akhirnya memutuskan.


Tbc


__ADS_2