
Mobil yang dikemudikan oleh Kimberly, berhenti tepat di depan sebuah rumah yang mewah. Setelah berhenti dengan sempurna, semua orang yang berada di dalam mobil itu pun keluar.
Dewi menatap rumah itu dengan mata yang berkaca-kaca. Bayangan masa kecil hingga dewasa saat dia masih berada di rumah itu seketika berkelebat di kepalanya.
"Ayo masuk,Sayang!" Victor berhenti melangkah ketika Dewi sang istri berhenti melangkah dan menatap dengan mata yang berembun ke arah rumah besar tempat dia dulu dibesarkan.
Ya, kini Dia, Victor dan kedua anaknya Kendrick dan Kimberly sudah berada di depan kediaman Surya. Selain itu, Naura juga yang sangat menyayangi nenek Daryanti tidak mau ketinggalan. Wanita cantik, kekasih Kendrick itu juga ikut serta bersama dengan keluarga Kendrick.
"Aku takut untuk masuk, Pa," sahut Dewi dengan lirih.
"Kamu kesampingkan dulu rasa takutmu, karena sekarang yang terpenting adalah mama, supaya tidak menimbulkan penyesalan nantinya," ucap Victor dengan diplomatis.
Dewi memejamkan matanya sekilas, kemudian mengembuskan napasnya, untuk membuang rasa berat di dalam hatinya.
"Baiklah! ayo kita masuk!" pungkas Dewi akhirnya memutuskan.
Baru saja kaki mereka menapak di teras, pintu rumah sudah terbuka dan menampakkan sosok wanita yang Dewi kenal, yang tidak lain adalah kakak iparnya, istri dari Dion.
"Dewi, akhirnya kamu datang!" seru wanita itu sembari menghambur ke arah Dewi. Kakak iparnya itu memeluk Dewi dengan sangat erat.
Kedua orang itu akhirnya melepas rindu dengan saling berpelukan dan ditemani dengan air mata.
"Akhirnya kamu datang juga, Dewi," tiba-tiba Dion sudah berdiri di ambang pintu.
Pelukan Dewi dan kakak iparnya itu terlerai. Dewi pun sontak menghambur ke arah Dion.
"Bagaimana keadaan Mama, Kak? dia baik-baik saja kan?" cecar Dewi, tidak sabar menunggu jawaban.
"Kita masuk dulu! tidak baik bicara di sini," bukannya langsung menjawab, Dion malah meraih tangan adiknya itu untuk masuk.
Dewi ingin protes. Namun, wanita itu tetap masuk menyusul Dion.
Mata Dewi kembali berapi-api melihat suasana rumah yang sama sekali tidak banyak berubah.
__ADS_1
"Silakan duduk semua!" Dion menunjuk ke arah sofa.
"Kak, kami ke sini hanya mau melihat kondisi mama. Di mana Mama sekarang?" desak Dewi tidak sabar.
"Baiklah kalau begitu. Mari ikut aku!" Dion mengayunkan kakinya melangkah meninggalkan ruangan itu dan Dewi pun mengekor diikuti dengan yang lainnya.
Dewi mengrenyitkan keningnya saat Dion melewati kamar yang dia tahu adalah kamar mama dan papanya dulu.
"Kak, kita sebenarnya mau kemana? bukannya kamar mama dan papa yang ini?". Dewi berhenti tepat di depan kamar yang pintunya tertutup itu.
Dion menghentikan langkahnya dan kembali berbalik. "Kamu ikuti saja aku,nanti kamu akan tahu jawabannya," ucap Dion ambigu sembari kembali melanjutkan langkahnya.
Walaupun kebingungan, mau tidak mau Dewi tetap mengikuti Dion demikian juga dengan yang lainnya.
Setelah melangkah melewati beberapa ruangan, Dion berhenti di depan sebuah ruangan yang Dewi tahu adalah sebuah gudang.
"Gudang? kenapa kita berhenti di sini Kak? jangan bilang kalau karena masalah tadi, papa marah ke mama dan mengunci mama di gudang?" wajah Dewi terlihat mulai panik.
"Kamu buka pintunya perlahan dan lihat aja sendiri!" titah Dion yang semakin terlihat misterius.
Mata Dewi membesar melihat sosok yang ada di dalam gudang yang tidak lain adalah Surya, papanya.
Surya terlihat duduk menyender di tembok sembari menatap sebuah photo di tangannya. Mata pria tua itu terlihat basah, saat menatap photo yang ada di tangannya.
"Itu adalah hal yang sering dilakukan Papa. Dia selalu bersembunyi di sini dan menatap photo-photomu. Dan dia sudah berada di sini selama dua jam tidak keluar-keluar," bisik Dion tepat di telinga Dewi.
"Mulut Papa memang pedas dan menyakitkan. Tapi, itu hanya keluar dari mulutnya saja. Hatinya berkata lain. Dia sebenarnya juga sangat merindukanmu, Dewi. Hanya saja Papa terlalu gengsi untuk mengungkapkannya," kembali Dion berbisik.
Air mata Dewi sontak mengalir deras keluar dari matanya. Wanita paruh baya itu melangkahkan kakinya dengan perlahan menghampiri Surya.
"Pa-Papa," panggil Dewi dengan suara serak dan pelan.
Sementara itu Surya terlihat semakin menangis saat mendengar suara Dewi.
__ADS_1
"Lihatlah, mungkin karena Papa terlalu merindukanmu, sampai-sampai Papa mendengar suaramu ada di sini," ucap Surya yang ternyata belum menyadari kehadiran Dewi di ruangan itu.
Air mata Dewi semakin deras keluar mendengar ucapan papanya.
"Papa, ini aku benaran Dewi," ucap Dewi sembari berjongkok di depan sang papa.
Surya terjengkit kaget dan sontak berdiri begitu melihat kehadiran Dewi.
"Mau ngapain kamu ke sini? kamu tidak ada tempat di rumah ini," Surya langsung berbalik membelakangi Dewi dan menyeka air matanya.
Dewi menggelengkan kepalanya dan langsung memeluk papanya itu dari belakang.
"Aku merindukanmu, Pa. Aku benar-benar merindukanmu. Kali ini aku tidak mau pergi lagi, walaupun papa usir aku. Kalaupun aku harus pergi, aku akan pergi dengan cara baik-baik dan tetap akan kembali lagi," ucap Dewi sembari menempelkan kepalanya di punggung sang papa.
Tidak terdengar jawaban sama sekali dari mulut Surya. Tapi bisa dipastikan kalau pria tua itu sekarang sedang menangis, dan tetesan air matanya jatuh ke tangan Dewi yang sedang memeluk pinggangnya.
"Pa, apa Papa tidak mau melihat dan memelukku?" Dewi kembali buka suara.
Surya akhirnya tidak kuat untuk menahan diri lagi. Pria itu berbalik dan memeluk putri yang sebenarnya sangat dia rindukan.
"Kenapa kamu baru pulang sekarang hah? kenapa kamu sangat keras kepala? apa ucapan papa dulu benar-benar sangat menyakitkan sampai membuatmu tidak pulang-pulang sampai berpuluh tahun?" ucap Surya dengan suara yang serak.
"Bukannya Papa yang ingin aku pergi? Bukannya Papa yang tidak menginginkanku lagi,"
"Kamu sakit hati dengan kata-kata Papa itu? bagaimana kamu bisa berpikir kalau ucapan Papa itu benar-benar dari hati. Bagaimana mungkin Papa bisa mengabaikan putriku sendiri. Dengan tangan ini aku menggendongmu ketika kamu baru lahir. Dengan tangan ini aku memapahmu untuk belajar berjalan. Dengan punggung ini, kamu menungganginya seperti menunggangi kuda, bagaimana kamu bisa mengabaikan itu semua. Dengan sekali ucapan kerasku kamu benar-benar pergi dan tidak pernah kembali lagi. Kenapa kamu tidak ada usaha untuk meluluhkan hatiku?" tutur Surya panjang lebar.
Dewi semakin terisak-isak mendengar semua ucapan Papanya.
"Kamu putriku, darah dagingku. Bagaimana kamu bisa berpikir kalau ucapanku itu benar-benar dari mulutku. Kamu anakku,apa kamu berharap aku yang orang tua ini datang meminta maaf padamu? Kalau iya, maafkan Papa,Nak! Maafkan ucapan Papa selama ini!" Surya menangkupkan kedua tangannya di depan Dewi.
Dewi menggeleng-gelengkan kepalanya dan meraih tangan Surya.
"Tidak, Pa! aku yang seharusnya minta maaf karena aku tidak berjuang untuk mendapatkan restumu. Padahal Victor selalu berusaha membujukku untuk mendatangimu dan meminta maaf,"
__ADS_1
Tbc