Cinta Beda Negara

Cinta Beda Negara
Aku tidak bisa


__ADS_3

Edward meletakkan kembali ponselnya ke atas meja setelah pria itu menerima telepon dari mamanya di London.


Pria itu mengembuskan napas yang sepertinya terlihat sangat berat, hingga menarik perhatian dari Kendrick dan David.


"Ada apa, Ed? apa ada masalah di sana?" tanya David dengan alis yang bertaut.


Edward tidak menjawab sama sekali, namun pria itu hanya menggelengkan sebagai tanggapan.


"Kalau tidak ada masalahnya, kenapa wajahmu terlihat kusut seperti itu?" kali ini Kendrick yang buka suara.


Lagi-lagi Edward menghela napasnya dengan cukup berat. "Aku benar-benar tidak ada masalah sedikitpun. Aku hanya merasa lelah saja hari ini," jawab Edward asal.


"Lelah? masa seharian bersama dengan orang yang dicintai, bisa capek? setahuku malah kalau bersama orang yang dicintai itu, waktu 24 jam itu kurang," ucap David yang dibenarkan oleh Kendrick.


Edward menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, setelah itu mengusap wajahnya dengan kasar. Tindakan Edward semakin membuat Kendrik dan David curiga. Mereka benar-benar yakin kalau sahabat mereka itu sedang ada beban pikiran.


"Ed, kamu jujur saja. Kamu lagi ada masalah ya?" Kendrick menatap Edward dengan tatapan serius.


"Tadi mama memintaku untuk pulang ke London, karena__" Edward menggantung ucapannya karena ponselnya tiba-tiba berbunyi kembali.


Edward meraih kembali ponselnya dan melihat panggilan yang berasal dari wanita yang dia cintai. Siapa lagi kalau bukan Chika.


"Nanti aku akan lanjut cerita ya! aku jawab telepon dari Chika dulu," ucap Edward sembari berdiri dan melangkah agak menjauh dari Kendrick dan David.


"Iya, Sayang?" sapa Edward.


"Kamu sudah tidur ya?" terdengar suara Chika yang begitu lembut dari sebrang sana.


"Belum, Sayang. Aku lagi berbicara dengan Ken dan David. Kamu kenapa belum tidur?"

__ADS_1


"Ini aku udah mau tidur. Aku cuma mau kasih tahu kamu sebelum aku lupa. Mama meminta kamu, Kendrick dan David untuk ke rumah besok. Pas makan malam juga tidak apa-apa, biar sekalian papa juga ada di rumah. Bagaimana?"


Edward terdiam. Dia tiba-tiba teringat pembicaraannya dengan mamanya tadi di telepon.


Ya, kedua orang tuanya Edward sudah menjodohkannya dengan seorang wanita, putri dari sahabat baik papanya dan tadi mamanya memintanya untuk pulang ke London, untuk melangsungkan acara pertunangannya dengan wanita yang sama sekali tidak dia cintai itu. Walaupun dia tahu, wanita itu mencintainya dari dulu. Itulah alasan Edward belum mengenalkan Chika pada kedua orangtuanya waktu di London.


"Sayang, kamu masih di sana?" suara Chika kembali terdengar, menyadarkan Edward dari lamunannya.


"I-iya, Sayang aku masih di sini," jawab Edward dengan cepat.


"Kamu dengar apa yang aku katakan tadi kan? kalian bertiga bisa datang kan? karena mama ingin sekali bertemu denganmu dan Kendrick. Mama ternyata sahabatnya Tante Dewi mamanya Ken. Jadi,mama mau bertanya-tanya tentang Tante Dewi pada Ken, bisa kan?" tanya Chika lagi.


"Emm, baiklah. Nanti aku akan katakan pada Ken dan David. Aku yakin mereka berdua pasti bisa datang," pungkas Edward akhirnya menyetujui.


"Ok,besok sore aku akan jemput kalian bertiga," keheningan seketika tercipta untuk sepersekian detik, karena mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing.


"Sayang, apa aku bisa menanyakan sesuatu?" Chika kembali buka suara, menghentikan keheningan yang sempat tercipta.


"Aku mau bertanya,apa orangtuanya tuamu sudah tahu hubungan kita? dan apa mereka berdua merestui? soalnya aku baru menyadari kalau kamu sama sekali belum pernah mengenalkanku dengan kedua orang tuamu,"


Tenggorokan Edward benar-benar tercekat. Bahkan untuk menelan ludahnya sendiri, pria itu merasa kesulitan untuk melakukannya,. karena hal itulah yang sedang menjadi beban pikirannya sekarang.


"Sayang kenapa kamu diam?" lagi-lagi suara Chika mengembalikan kesadaran Edward.


"Sayang, tenang saja. Nanti setelah liburan musim panas ini selesai dan kita kembali ke London, aku akan segera mengenalkanmu ke mama dan papaku. Aku yakin, mereka pasti akan menyukaimu," sahut Edward yang sebenarnya belum terlalu yakin dengan ucapannya sendiri.


"Bagus deh," suara Chika terdengar riang di ujung telepon, membuat Edward sedikit merasa bersalah.


Panggilan keduanya akhirnya benar-benar terputus, yang diakhiri dengan ucapan selamat tidur.

__ADS_1


"Aku pastikan aku tetap akan memperjuangkanmu, Chika. Walaupun nanti mama dan Papa sulit untuk menerimamu. Yang jelas,aku tidak akan menerima perjodohanku dengan wanita itu. Aku akan berusaha meyakinkan mama dan papa kalau kamulah yang terbaik padaku, karena aku sangat mencintaimu," bisik Edward dalam hati dengan tekad yang sangat kuat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Edward ke luar ke arah taman. Pria itu merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya. Dia berniat untuk menghubungi kembali mamanya atas saran Kendrick dan David yang memintanya untuk berterus terang lebih awal, sebelum orang tuanya mempersiapkan acara pertunangannya dengan wanita pilihan mereka. Kebetulan di London juga masih sekitar jam 4 sore.


"Ya, Edward. Kamu kapan pulang? kamu langsung pulang sekarang kan?" tanya seorang wanita yang merupakan mamanya Edward. Wanita itu benar-benar berbicara to the point tanpa basa-basi lebih dulu.


"Maaf, Ma aku tidak bisa pulang ke London. Aku memutuskan akan menghabiskan liburan musim panasku di negara ini," sahut Edward dengan tegas.


"Apa? bagaimana kamu bisa berbicara seperti itu? kamu tidak memikirkan Kate? dia ada di sini dan mendengar apa yang kamu ucapkan. Kamu harus tetap pulang ke sini,Ed!" ucap mamanya Edward tidak kalah tegas dari. Edward.


"Oh, dia ada di samping, Mama. Baguslah kalau begitu. Biarkan dia mendengar juga apa yang mau aku katakan ini, Ma," Edward berhenti bicara untuk sementara untuk menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya.


"Ma, Kate,aku benar-benar minta maaf kalau aku sama sekali tidak mau melakukan perjodohan ini karena aku sudah memiliki seorang wanita yang sangat aku cintai, dan hanya dialah satu-satunya wanita yang aku inginkan untuk menjadi pendamping hidupku," nada suara Edward terdengar sangat hati-hati.


Terdengar suara isak tangis dari ujung telepon yang Edward yakini adalah suara wanita yang bernama Kathleen itu atau yang sering dipanggil Kate.


"Edward! hentikan omong kosong ini! kamu , boleh seperti itu! Bagaimanapun kamu harus menerima perjodohan ini, Ed!" pekik namanya Edward.


"Sekali lagi aku benar-benar minta maaf, Ma. Aku tidak bisa. Cinta itu tidak boleh dipaksakan Ma. Aku jatuh cinta pada kekasihku benar-benar di luar prediksiku. Aku benar-benar tidak bisa mencintai Kate,Ma. Aku sudah menganggapnya seperti adik sendiri, tidak lebih dari itu,"


"Kamu tega! kurang apa aku Edward?" untuk pertama kali kathleen buka suara yang dibarengi dengan isak tangisnya.


"Maaf, Kate. Kamu tidak ada yang kurang. Kamu cantik dan baik. Tapi, sumpah demi apapun, aku tidak bisa mencintaimu. Dari pada melukai hatimu nanti, lebih baik aku berterus terang sekarang," ucap Edward diplomatis.


"Edward, Mama kasih kamu waktu untuk memikirkan ulang keputusanmu. Kamu tahu sendiri kan siapa Kathleen? dia itu putri dari sahabat papamu. Apa kamu mau persahabatan mereka hancur gara-gara masalah ini?"


"Ma, aku rasa papa dan Paman akan mengerti dengan keputusanku. Karena __" Edward menggantung ucapannya karena panggilan sudah diputuskan secara sepihak oleh sang mama dari seberang sana.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2