
Jordan tetap berjalan, membiarkan kakinya membawanya entah kemana. Yang jelas, pria itu sama sekali tidak berhenti di halte tempat dirinya biasa menunggu bus yang akan membawanya ke tempat sekarang dia tinggal.
Sepanjang jalan pria itu memikirkan semua perkataan wanita yang bernama Kathleen itu. Pria itu ingin sekali mengabaikan semua kalimat demi kalimat yang terucap dari bibir wanita itu, tapi sumpah demi apapun, dia sama sekali tidak bisa mengabaikannya karena jauh di dasar hatinya, dia membenarkan semua ucapan wanita itu.
Tiba-tiba, bayangan wajah kedua orangtuanya yang menaruh harapan padanya, yang menatapnya dengan penuh bangga ketika dia berhasil mendapatkan beasiswa, berkelebat di kepalanya.
"Benar kata wanita itu. Aku tidak boleh melakukan hal buruk yang pastinya akan merugikanku. Kalau semua perbuatanku terbongkar, aku bisa saja akan dijebloskan ke dalam penjara. Yang otomatis akan membuat harapan orang tuaku sirna, berganti dengan kekecewaan. Selain itu, bisa dipastikan aku tidak akan bisa memiliki masa depan seperti yang aku cita-citakan," Jordan bermonolog pada dirinya sendiri, sembari tetap melangkah dengan kedua tangan di dalam saku.
"Wanita itu juga benar. Walaupun nantinya aku dan wanita bernama Jane itu berhasil melakukan rencana kami, tidak menjamin kalau Naura akan menerima perasaanku. Kalau sudah begitu, semuanya pasti akan sia-sia. Dan sepintar-pintarnya aku menyembunyikan perbuatanku, suatu saat juga pasti akan ketemu jalannya, untuk ketahuan. Dan kalau sudah begitu bisa dipastikan kalau Naura akan semakin benci padaku," lagi-lagi Jordan mengajak hatinya sendiri untuk bercengkrama, walaupun sang hati sama sekali tidak mungkin memberikan tanggapan.
Saku pria itu tiba-tiba bergetar sekaligus terdengar bunyi dari dalam, pertanda ada seseorang yang menghubunginya.
Jordan melihat nama Jane di layar ponselnya, dan pria itu dengan tidak langsung menjawab. Pria itu terlihat menimbang-nimbang handphonenya dan juga seperti berpikir keras antara menjawab atau mengabaikan panggilan itu.
"Ah,aku jawab saja!" pungkas pria itu, akhirnya memutuskan.
"Hallo," sapa Jordan singkat.
"Halo, Jordan! aku cuma mau mengabari kamu, kalau aku sudah Membelikan tiket pesawat untuk kita berdua. Pesawat kita akan berangkat pukul 10 pagi. Jadi, aku berharap kamu sudah ada di bandara paling lambat jam 9. Aku tunggu kamu di sana!". Jane berbicara dengan cepat tanpa jeda.
Jordan tidak memberikan tanggapan sama sekali.
"Jordan, apa kamu mendengarku?" Jane kembali buka suara.
"Iya, aku mendengarmu, Jane. Tapi, maaf sekali. Aku mengurungkan niat untuk bekerja sama denganmu, karena setelah aku pikir-pikir, aku lebih sayang pada masa depanku," ucap Jordan yang akhirnya memilih untuk mengambil keputusan seperti itu.
"Apa maksudmu, Hah? kamu mau mempermainkanku? kamu kira hara tiketnya murah? asal kamu tahu, harganya tiga kali lipat dari gajimu di kafe itu. Pokoknya aku tidak mau tahu, rencana kita harus tetap berjalan, kalau tidak kamu harus mengganti semua biaya yang sudah aku keluarkan," ancam Jane.
Jordan terkesiap kaget dan gusar. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Astaga, bagaimana aku bisa menggantinya? kamu tahu sendirikan kalau aku tidak punya uang sebanyak itu?" ucap Jordan yang kali ini terdengar memelas dan putus asa.
"Aku tidak peduli. Kalau kamu tidak bayar, itu berarti kamu harus tetap bekerja sama denganku. Kamu sudah tidak punya pilihan dan kamu memang tidak pantas untuk membuat pilihan," bisa dipastikan kalau Jane pasti tersenyum licik di seberang sana.
"Kamu benar-benar licik. Pantas saja Kendrick meninggalkanmu. Ternyata kamu iblis yang bersembunyi di tubuh manusia. Aku menyesal pernah hampir bekerja sama denganmu," umpat Jordan.
"Hei, kamu tidak berhak mengataiku! terserah kamu mau mengatakan apapun tentangku. Yang jelas, aku tetap mau tujuanku tercapai," tegas Jane.
"Baiklah. Aku berjanji akan berusaha mengembalikan uang yang kamu keluarkan itu. Aku akan menyerahkan semua gajiku padamu, setiap bulan sampai biaya yang kamu keluarkan itu lunas. Yang jelas, aku tetap pada keputusanku. Aku tidak mau bekerja sama dengan wanita licik sepertimu, karena aku baru menyadari kalau cinta itu tidak bisa dipaksakan," Jordan tidak kalah tegas.
"Dasar pengecut! kamu kira aku terima dicicil? aku mau kamu membayarnya lunas besok. Kalau tidak, kamu tidak punya pilihan lagi selain harus ikut rencanaku. Aku tetap akan menunggumu di bandara besok!" pungkas Jane, sembari memutuskan panggilan secara sepihak.
"Arghhh, kenapa bisa seperti ini sih?" Jordan mengusap kembali wajahnya dengan kasar.
"Aku akan membantumu. Kamu tenang saja!"
"Kamu? kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Jordan di sela-sela rasa kagetnya.
"Maaf, tadinya aku tidak berniat untuk mengikutimu. Tapi aku melihat kamu melewati halte. Jadi aku memutuskan untuk mengikutimu dengan mobil itu. Aku sengaja mengemudi dengan perlahan. Maaf, tadi aku juga mendengar semua pembicaraanmu dengan wanita itu, dan aku bersedia membantumu membayar uang yang dikeluarkannya!" ucap Kathleen dengan senyuman tulus.
"Tapi, jumlahnya tidak sedikit."
"Tidak masalah. Bukan bermaksud sombong, aku memiliki cukup uang untuk menggantinya," Kathleen berusaha menyakinkan Jordan.
"Emm, baiklah! aku sudah tidak punya cara lain lagi. Tapi, aku berjanji akan membayarnya padamu, tapi dengan cara diangsur. Boleh kan?"
"Oh, kamu tidak perlu membayarnya. Anggap saja itu, karena aku sedang menolong, sahabat mantan tunangan saya itu,"
"Maaf, tidak boleh seperti itu! bagaimanapun kamu juga sudah membuka mataku, agar tidak melakukan kesalahan yang bisa merugikanku. Jadi, aku harus tetap membayarnya padamu," tegas Jordan, tak terbantahkan.
__ADS_1
"Baiklah kalau seperti itu maumu. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sekarang kamu berikan nomor rekening kamu, biar aku transfer uangnya," pungkas Kathleen akhirnya mengalah.
"Nanti saja. Soalnya aku tidak tahu berapa jumlah yang harus aku bayar,"
"Kamu sebutkan saja dulu nomor rekeningnya. Aku akan mengirimkan uangnya. Kalau kurang atau lebih kamu kan bisa mengabariku,"
Setelah sedikit berdebat akhirnya Jordan menyebutkan nomor rekeningnya dan Kathleen langsung mengirimkan uang dengan jumlah yang lumayan besar.
"Apa ini tidak terlalu banyak? aku rasa harga dua tiket tidak sebesar ini," ucap Jordan merasa tidak enak.
"Kamu pakai saja dulu, buat jaga-jaga. Takutnya wanita licik seperti itu, akan memanfaatkan keadaan, meminta kamu membayar dua kali lipat,"
Jordan mengangguk-anggukan kepalanya, kagum dengan pemikiran wanita yang ada di depannya itu.
"Terima kasih, Nona Kathleen! terima kasih juga sudah membuka mataku, kalau yang aku lakukan itu sama sekali tidak baik," ucap Jordan dengan tulus.
"Sudahlah, kamu tidak perlu sungkan!" ucap Kathleen merendah.
"Oh ya, sebenarnya ada yang mengganjal di hatiku. Kenapa Edward bisa menjadi mantan tunanganmu? apa dia meninggalkanmu demi wanita lain? kebetulan aku mengenal wanita yang menjadi kekasih Edward itu. Wanita itu Chika, sahabatku sama sept Naura dan satu lagi Tasya,"
"Sebenarnya dia sama sekali tidak meninggalkanku. Hanya saja kami dijodohkan dan cintaku bertepuk sebelah tangan. Edward sama sekali tidak pernah mencintaiku. Jadi seperti yang aku katakan tadi, cinta tidak bisa dipaksakan kan? jadi, aku lebih baik memutuskan untuk membatalkan pertunangan. Karena aku tidak mau menjadi wanita yang egois," tutur Kathleen yang membuat Jordan semakin kagum pada pemikiran bijak, wanita yang ada di depannya itu.
"Oh ya semua urusan kita sudah selesai. Aku balik dulu. Atau kamu mau ikut? biar aku mengantarkan mu sekalian," Kathleen memberikan tawaran.
"Apa kamu sama sekali tidak keberatan kalau aku menumpang mobilmu?"
"Sama sekali tidak. Ayo masuk!" Kathleen melangkah menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Sementara Jordan akhirnya memutuskan untuk ikut mobil wanita wanita yang dikaguminya itu.
Tbc
__ADS_1