
Waktu sudah menunjukan pukul 17.00 waktu Korea.
Sun Jun sudah berpamitan pulang dari 30 menit yang lalu, Dae Gu melakukan olahraga ringan, dan bergantian dengan menonton tv. Sedangkan Aurel berada dikamarnya.
"Ahhh, sangat membosankan. Jika begini terus aku bisa mati karena bosan", Ujar Dae Gu frustasi.
Ia berjalan menuju kamar Aurel.
Tok tok tok
"Iya, masuk", Balas Aurel
Dae Gu menyembulkan kepala nya di pintu kamar Aurel.
"Aurel, apa kau tidak bosan? Aku sungguh bosan sekali. Rasanya aku benar benar frustasi", Ujar Dae Gu dengan wajah memelasnya
"Aku juga bosan, bagaimana kalau kita bermain catur?", Usul Aurel
"Aku tidak mau, mari kita bermain Ddakji saja", Sahut Dae Gu
"Aku tidak mau aku tidak mengerti", balas Aurel.
"Tenang saja, aku akan mengajarimu".
"Tidak! aku tidak mau, nanti oppa akan menipu ku. Sehingga aku yang kalah".
"Tidak, aku berjanji tidak akan menipu mu",
Ujar Dae Gu seraya menuju ruang tengah bersama Aurel dan mengeluarkan ddakji dari lemari penyimpanannya.
"Tapi siapa yang kalah harus diberi hukuman".
"Hukuman apa?", tanya Aurel
"Bagaimana kalau yang kalah mendapatkan sentilan di dahi".
"Tidak mau, nanti kepala ku bisa sakit", sahut Aurel.
__ADS_1
"Aku akan melakukan nya dengan pelan", balas Dae Gu.
"Janji?"
"Iya aku berjanji".
"Nah, sekarang kau ambil kartu nya. Lalu kau lemparkan ke kartu yang dilantai. Agar kartu yang dilantai terbalik. Jika kau berhasil membalik kartu nya kau akan menang",
Jelas Dae Gu pada Aurel.
Aurel mengangguk mengerti.
"Kau duluan", ujar Dae Gu
"Baik lah", jawab Aurel seraya mengambil kartu dari tangan Dae Gu
Takkk
Aurel melempar kartunya. Tapi kartu Aurel sama sekali tidak terbalik.
"Hahahaha, sekarang giliran ku".
Takkk
"Yeayy Aku menang", Ujar Dae Gu girang
"Oppa curang", Ujar Aurel mengerucutkan bibirnya
"Aku tidak curang, kau lihat sendiri aku hanya melempar kartunya. Ayo kemarikan dahi mu !!!".
"Tapi oppa berjanji akan melakukannya dengan pelan".
"Iya aku berjanji". Sahut Dae Gu
Ttakkkkkkkk..
"Aaaaaaaaish sakit !!!!", Aurel menjerit seraya mengusap dahi nya.
__ADS_1
Dae Gu tertawa lepas,
"Kau sudah berjanji akan pelan. Tapi ini sakit sekali". Gerutu Aurel mengerucutkan bibirnya
"Aaa bagaimana bisa dia begitu manis dan lugu sekali", batin Dae Gu
"Mau bermain lagi?", Tanya Dae Gu
"Oke kali ini aku tidak akan kalah", Jawab Aurel.
Tapi sayang untuk kesekian kalinya Aurel kalah. Hingga mereka memutuskan untuk bermain sekali lagi sebagai babak terakhir dan akhirnya Aurel bisa membalik kartu tersebut dengan sempurna,
"Yeeeeayyyyy aku menang", Ujar Aurel girang
"Baiklah, aku akui kau menang", balas Dae Gu
"Kemarikan dahi oppa", balas Aurel. Dae Gu pun mendekatkan dahinya.
Deg deg
"Ya ampun, nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan, sungguh indah ciptaan mu tuhan", Batin Aurel.
Aurel menatap lekat wajah Dae Gu, mata nya berbinar tanpa berkedip.
Ttakkkk, satu sentilan lagi mendarat di dahi Aurel
"Au sakit, kenapa Oppa yang menyentilku", tanya Aurel tidak terima
"Salah sendiri kenapa kau hanya menatapku. Apa aku sebegitu tampan nya sampai kau lupa berkedip", Goda Dae Gu
"Ti-tidak, aku hanya merindukan Negaraku", kilah Aurel
"Tidak usah berbohong gadis kecil, aku sudah menangkap basah mu. Jadi kau tidak bisa berbohong". Ujar Dae Gu
Seketika wajah Aurel memerah seperti tomat.
"Lihat lah sekarang wajah mu merah, apa kau benar benar terpesona olehku?" Ujar Dae Gu lagi menggoda Aurel.
__ADS_1
"Tidak aku sama sekali tidak terpesona oleh mu", balas Aurel berlari kekamar meninggalkan Dae Gu yang tertawa puas setelah berhasil menggodanya.
"Gadis kecil, kamu manis sekali" , batin Dae Gu